
Foto : Kalingga Shagufta Islam
Minggu, 1 November 2026Kepulauan Seribu bukan destinasi yang asing bagi warga Jakarta. Namun, ketika ingin berkunjung, urusan transportasi dan biaya bisa menjadi pertimbangan tersendiri. Karena itu, saya tertarik mencoba cara lain untuk menyeberang dengan menumpangi kapal wisata Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Saya membayar Rp49 ribu untuk perjalanan ke sejumlah pulau, yaitu Untung Jawa, Onrust, Cipir dan Bidadari.
Dalam satu perjalanan pulang-pergi dari Pelabuhan Muara Angke, saya berharap bisa melihat sisi Kepulauan Seribu yang berbeda-beda, mulai dari pulau tempat warga menjalani kehidupan sehari-hari hingga pulau yang menyimpan jejak sejarah. Saya juga tak perlu repot mengatur sendiri transportasi antarpulau atau mencari operator berbeda. Rute kunjungan sudah dirangkum dalam satu tiket, tinggal mengikuti perjalanan yang disediakan.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, saya berangkat ke Muara Angke untuk mencari tahu seperti apa rasanya menjelajahi Kepulauan Seribu dengan layanan tersebut. Urusan pertama, tentu saja, menemukan pelabuhan. Bagi yang baru pertama kali datang, akses menuju Pelabuhan Muara Angke bisa sedikit membingungkan karena harus melewati kawasan permukiman dengan jalan yang relatif sempit. Dari jalan menuju lokasi, pelabuhan tidak langsung terlihat seperti terminal keberangkatan kapal wisata. Namun, begitu sampai, kesan itu berubah. Area pelabuhan tampak terawat, dengan ruang tunggu yang lapang, banyak bangku, dan beberapa bagian yang masih terlihat kosong.
Wi-Fi gratis tersedia bagi penumpang yang ingin mengakses internet sembari menunggu. Petugas juga tampak siap membantu, sementara informasi keberangkatan disampaikan melalui pengeras suara. Jadi, meski pengunjung yang baru pertama kali datang mungkin perlu waktu untuk mengenali akses menuju pelabuhan, setidaknya ada petunjuk begitu tiba di area keberangkatan.
Kapal dijadwalkan berangkat sekitar pukul 08.40. Sekitar sepuluh menit sebelumnya, penumpang mulai diarahkan untuk melakukan check-in dan berjalan menuju kapal. Setelah menunggu di pelabuhan, akhirnya saya bergerak ke dermaga. Perjalanan yang semula hanya berupa pilihan paket di layar komputer kini benar-benar dimulai.
Dari luar, kapal tampak bersih dan terawat. Bagian dalamnya memberi kesan serupa: tempat duduk tertata rapi, toilet tersedia, dan dua unit pendingin udara menjaga kabin tetap sejuk di tengah cuaca yang terik. Saya bisa duduk dengan nyaman tanpa harus terus-menerus terpapar panas matahari. Untuk perjalanan yang akan membawa penumpang berpindah dari satu pulau ke pulau lain, kenyamanan kabin seperti ini menjadi nilai tambah.
Meski begitu, berada di atas kapal tetap menghadirkan sensasi yang berbeda dari perjalanan darat. Kapal melaju di laut dan sesekali terasa naik-turun mengikuti gelombang. Gerakannya membuat tubuh sedikit limbung, mengingatkan saya bahwa perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga menyesuaikan diri dengan kondisi laut. Dari dalam kabin yang sejuk, saya menunggu sampai tujuan pertama semakin dekat.
Sekitar tiga puluh menit setelah meninggalkan Muara Angke, kapal tiba di Pulau Untung Jawa.
Pulau ini bukan sekadar pantai untuk berenang atau berfoto. Rumah-rumah warga berdiri di antara aktivitas wisata, sementara sekolah dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa pulau ini juga menjadi tempat tinggal dan beraktivitas sehari-hari.

Foto : Kalingga Shagufta Islam
Selama sekitar dua jam, pengunjung bebas menghabiskan waktu dengan cara masing-masing. Ada yang berenang dan menikmati laut, sementara saya memilih duduk di tepi pantai sambil berbincang dengan seorang penjaga warung. Dari obrolan itu, saya mengetahui bahwa kehidupan di pulau memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika warga harus mengurus dokumen atau memenuhi kebutuhan yang mengharuskan mereka pergi ke Jakarta.
“Ya lumayan sulit juga, ada apa-apa perlu ke kota (Jakarta), urus surat penting perlu ke kota, urus KTP perlu ke kota, karna kan di sini kita masuknya masih Jakarta Utara,” ucapnya.
Cerita itu membuat saya melihat jarak antara pulau dan kota dari sudut pandang berbeda. Jakarta memang tidak terlalu jauh secara geografis, tetapi urusan administratif dan belanja kebutuhan tertentu tetap membutuhkan perencanaan. Ada barang yang harus dibeli sekaligus dalam jumlah banyak, ada pula yang dititipkan kepada orang yang hendak pergi ke daratan.
Hal itu juga membuat saya lebih memahami harga makanan di warung. Mi instan dijual sekitar Rp10 ribu, sedangkan air mineral berkisar Rp4 ribu hingga Rp6 ribu. Harganya memang lebih tinggi dibandingkan di sejumlah tempat di Jakarta, tetapi barang-barang tersebut harus dibawa dari kota.
Meski menghadapi keterbatasan, penjaga warung itu tidak menggambarkan kehidupan di pulau semata-mata sebagai sesuatu yang sulit. Ketika ditanya tentang keinginan menikmati fasilitas perkotaan, ia justru bercerita tentang kenyamanan hidup bersama warga setempat.
“Kalau di sini mah, kita menikmati hidup saja, bukan ingin memenuhi kepuasan duniawi. Kita menikmati suasana dan kehidupan saja di sini, warga-warganya juga ramah-ramah dan akur satu sama lain. Jadi saya merasa di satu pulau ini udah jadi keluarga saja buat saya.”
Percakapan tersebut menjadi bagian yang tak saya perkirakan dari kunjungan ke Untung Jawa. Saya datang untuk menikmati pulau, tetapi justru mendapat gambaran tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Dari warga pula saya mengetahui bahwa pengunjung bisa memancing di sana. Dua jam terasa cukup untuk menikmati suasana dan berbincang, tetapi belum cukup untuk memahami kehidupan sebuah pulau sepenuhnya.
Dari Untung Jawa, perjalanan berlanjut ke Pulau Onrust. Pengunjung perlu membayar tiket masuk Rp10 ribu di luar tiket kapal. Namun, bagi saya, biaya tambahan itu terasa sepadan dengan pengalaman yang didapat.
Di Onrust, saya mengikuti penjelasan Sopiyan, seorang pemandu yang ramah dan terbuka terhadap pertanyaan. Ia menguasai materi sejarah pulau dan membantu pengunjung memahami tempat yang mereka datangi. Kehadiran pemandu membuat kunjungan terasa lebih berarti, bukan sekadar melihat-lihat atau mengambil foto, melainkan juga mengenal cerita di balik peninggalan yang ada.
Onrust menjadi persinggahan paling berkesan bagi saya. Masalahnya, waktu kunjungan terasa terlalu singkat. Penjelasan belum tuntas ketika rombongan harus bersiap melanjutkan perjalanan, padahal masih banyak hal yang ingin saya ketahui. Sopiyan bahkan berkata, “kalau mau tahu semua yang ada di pulau ini mah bisa berhari-hari sama saya,” ungkapnya.
Ucapan itu menggambarkan keterbatasan paket wisata sehari yang harus membagi waktu ke beberapa pulau. Di satu sisi, mengunjungi banyak tempat dalam satu perjalanan memang menarik. Namun, destinasi seperti Onrust membutuhkan waktu agar pengunjung bisa memahami sejarahnya dengan lebih utuh. Justru karena penjelasan Sopiyan begitu menarik, saya merasa ingin tinggal lebih lama.
Setelah Onrust, kapal membawa kami ke Pulau Cipir. Tiket masuknya sama, Rp10 ribu, tetapi pengalaman yang saya rasakan berbeda jauh. Jika Onrust terasa terawat dan menawarkan penjelasan sejarah melalui pemandu, Cipir justru memberi kesan kurang terurus.
Saya melihat sampah di sejumlah titik, mencium bau amis dari kapal-kapal nelayan di sekitar kawasan, dan mendapati warung-warung yang tampak seadanya. Tidak ada pemandu yang menjelaskan apa yang bisa dilihat atau mengapa pulau ini penting. Akibatnya, kunjungan terasa kurang terarah dan tidak banyak memberi alasan untuk tinggal lebih lama.
Perbedaan itu terasa semakin jelas setelah pengalaman di Onrust. Di sana, saya memperoleh pengetahuan dan bisa bertanya langsung kepada pemandu. Di Cipir, saya tidak mendapatkan pengalaman serupa, sehingga biaya masuk yang sama terasa memberikan nilai berbeda. Padahal, Cipir memiliki keterkaitan sejarah dengan Onrust. Informasi dan perawatan yang lebih baik dapat membantu pengunjung memahami hubungan itu, alih-alih hanya menjadikan Cipir tempat singgah sebelum kembali ke kapal.
Setelah Cipir, kami kembali ke kapal untuk menuju Muara Angke. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Pulau Bidadari, yang tercantum dalam paket wisata, tidak jadi dikunjungi. Saya tidak menerima penjelasan mengenai alasan perubahan rute tersebut. Saya menduga waktu perjalanan mungkin menjadi salah satu pertimbangan, tetapi hal itu tidak dapat dipastikan.
Tiket murah yang membuka pintu perjalanan
Muhammad Fazl, 22 tahun, pekerja asal Jakarta Timur, adalah salah seorang pengunjung yang memilih paket kapal Dishub karena harganya. Ia datang seorang diri pada 16 Oktober 2026. Bagi Fazl, perjalanan ke Kepulauan Seribu kali ini merupakan kunjungan kedua, meskipun pengalaman pertamanya sudah sangat lama berlalu. Ia pernah datang ketika berusia lima tahun bersama ayahnya, tetapi ingatan tentang perjalanan itu sudah kabur.
Keputusan untuk kembali tidak berangkat dari rencana perjalanan yang rumit. Ia menemukan informasi tentang paket tersebut ketika sedang menggulir media sosial. Harga sekitar Rp50 ribu untuk mengunjungi beberapa pulau membuatnya tertarik membuka situs pemesanan. Ia tidak lebih dahulu membandingkan harga dengan open trip atau pilihan menyewa perahu sendiri. Harga yang terlihat murah sudah cukup menjadi alasan untuk mencari tahu lebih lanjut.
“Saya tahu dari media sosial, waktu itu lagi scroll-scroll. Saya lihat cuma sekitar Rp50 ribu, dan ke beberapa destinasi, beberapa pulau. Jadi ya sudah, saya coba buka di website-nya.”

Foto : Kalingga Shagufta Islam
Namun, harga murah tidak berarti akses selalu mudah. Fazl mengaku pernah mencoba mendapatkan tiket untuk akhir pekan sebelumnya, tetapi gagal pada dua kesempatan, yakni Jumat dan Sabtu. Ia baru berhasil memesan untuk hari kerja. Harga tiket naik kapal dan mengikuti perjalanan ini memang bisa menarik banyak peminat, tetapi tidak semua orang dapat memperoleh tiket pada tanggal yang diinginkan.
Pada hari pemesanan yang berhasil, ia membuka situs sekitar pukul sembilan dan tidak mengalami kendala berarti. Menurutnya, prosesnya cukup mudah dipahami, terutama karena ia memesan untuk hari kerja. Ia juga menilai sistem pembelian H-1 dengan kuota terbatas sebagai sesuatu yang wajar. Ia melihat sistem serupa sudah digunakan oleh berbagai destinasi wisata lain, sehingga mekanisme tersebut tidak terasa asing.
Dalam perjalanan yang ia lakukan, biaya tiket kapal memang menjadi komponen yang paling menarik. Namun, Fazl tidak menganggap harga tiket sebagai keseluruhan biaya wisata. Ia membawa sepeda motor sendiri sehingga pengeluaran bensin hanya sekitar Rp10 ribu. Secara keseluruhan, ia memperkirakan total pengeluaran tidak sampai Rp150 ribu, termasuk makan, jajan, dan biaya lain selama perjalanan.
“Tiket kapalnya murah sih, sejujurnya. Pengeluaran lainnya normal-normal saja, bisa saya kontrol sendiri.”
Fazl menikmati perjalanannya di kapal. Ia merasa kapalnya bersih, pendingin udara cukup dingin, dan ruang duduk masih nyaman. Penumpang juga tidak terlalu padat sehingga ia tidak merasa harus berdesakan.
Menurut Fazl, setiap pulau tidak perlu mendapat durasi yang sama. Ada tempat yang justru terasa terlalu lama, sementara ada pula tempat yang seharusnya diberi waktu lebih banyak. “Di Onrust menurut saya terlalu cepat, apalagi ada tour guide, jadi kita tidak bisa ke mana-mana. Harusnya waktunya lebih lama di situ, supaya kita bisa ikut tour guide, lalu setelah itu bisa jalan-jalan sendiri. Kalau di Cipir, itu bukan selera saya, saya tidak tertarik dan tidak ngapa-ngapain di sana. Jadi menurut saya waktu di Cipir dikurangi saja.”
Meski demikian, Fazl mengatakan masih sempat melakukan berbagai aktivitas selama kunjungan. Ia dapat makan, berbelanja, mengambil foto, dan bahkan mengisi daya telepon. Ia juga tidak merasa ada aktivitas utama yang terlewat selama berada di pulau.
Layanan kapal Dishub DKI Jakarta menyediakan pilihan perjalanan laut dari kawasan Muara Angke menuju sejumlah pulau di Kepulauan Seribu. Rute kapal dibagi menjadi beberapa jalur yang berbeda, menghubungkan Muara Angke dengan Pulau Untung Jawa, Onrust, Cipir, dan Bidadari dalam perjalanan pulang-pergi. Tarif bervariasi menurut tujuan dan zona, dengan harga tersebut berada di kisaran Rp44 ribu hingga Rp100 ribu per orang, termasuk komponen biaya administrasi atau asuransi.
Pemesanan dilakukan secara elektronik melalui platform tiket yang disebut JaketBoat. Tiket daring dibuka mulai H-1 keberangkatan, sedangkan pembelian langsung pada hari keberangkatan bergantung pada ketersediaan kuota. Sistem ini menawarkan kemudahan karena calon penumpang dapat memilih rute dan paket sebelum datang ke pelabuhan.
Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim