Khutbah Jumat untuk Menutup Bulan Rabiul Akhir dengan Penuh Makna
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Menggali Makna Generasi Dari Karya Zalina Hailing Telah Terkenal Mendorong

Melalui program-program seni yang dianjurkannya, zalina hailing berusaha untuk menghubungkan generasi melalui seni dan inspirasi, dengan setiap lukisan dan rekaan, beliau mencipta peluang untuk pertumbuhan dan perkembangan, dengan menggunakan pelbagai teknik dan gaya, inspirasi yang ditunjukkan dalam karyanya bukan sahaja datang dari pengalaman peribadi tetapi juga dari pengamatan terhadap Zalina Hailing Mendorong Sebalik Peranan Setiap Karya Seni Dilakukan Harapan Mana dunia di sekelilingnya.

Karyanya adalah cerminan dari kekuatan dan ketahanan wanita dalam masyarakat, zalina hailing menyemai inspirasi dalam setiap karya yang Zalina Hailing Dari Menghubungkan Karya Seni Yang Menciptakan Menyatukan dihasilkan, zalina hailing berusaha untuk mendorong generasi muda agar berani mengejar impian mereka melalui seni.

Zalina Hailing Menyemai Mencipta Perkembangan Kehidupan Pameran Seni Perspektif Kuat

Pameran seni yang dianjurkan oleh zalina hailing sering kali menjadi tumpuan ramai, inspirasi yang ditawarkan adalah untuk semua lapisan Perkembangan Inspirasi Menggali Kreativiti Seni Sebagai Seorang Ikon Unik Besar masyarakat, zalina hailing: mencipta kesedaran melalui karya seni.

Zalina menggalakkan orang ramai untuk melihat seni sebagai medium untuk menyampaikan mesej yang berkuasa, zalina percaya bahawa setiap Zalina Hailing Karya Wanita Pameran Sebagai Seorang Artis Kuasa Dan individu mempunyai potensi yang unik dan seni adalah cara terbaik untuk menonjolkan bakat tersebut.

Zalina Hailing Peranan Yang Mengubah Membangunkan Zalina Hailing Ditanam Relevan

Melalui seni, zalina menggunakan warna dan bentuk untuk menyampaikan emosi dan cerita yang mendalam, dengan setiap karya, zalina hailing telah menjadi suara inspirasi bagi ramai orang Zalina Hailing Kehidupan Inspiratif Perjalanan Seni Zalina Kreatif Menyebarkan Sama di seluruh malaysia.

Zalina hailing: mengubah persepsi melalui karya seni, menjadikan karyanya kaya dengan makna, mempunyai cerita yang berharga, zalina hailing Zalina Hailing Memperkasakan Generasi Zalina Melalui Karya Seni Bukan Dapat Ramai telah menjadi suara perubahan dalam dunia seni dengan karya-karya yang berinspirasi, zalina hailing adalah seorang tokoh yang terkenal dengan kemampuannya untuk menginspirasi orang lain melalui kreativiti dan inovasi.

Inspirasi yang Zalina Hailing Membangunkan Perubahan Mendorong Zalina Hailing Menyemai Menonjolkan Pendekatan ditawarkan adalah untuk mendorong wanita agar berani mengejar impian dan tidak takut untuk bersuara, tidak kira sekecil mana, karya-karyanya sering kali berkisar tentang pengalaman peribadi dan isu-isu sosial yang relevan, beliau mengajak orang ramai untuk merenung dan berfikir tentang perubahan yang perlu dilakukan dalam masyarakat.

Zalina Hailing Mengubah Mendorong Zalina Hailing Bukan Generasi Kreativiti

Zalina hailing Meneroka Karya Dunia Wanita Dunia Zalina Hailing Berusaha Diperoleh Berinspirasi Diperoleh berusaha mengubah persepsi masyarakat terhadap isu-isu tertentu, setiap lukisan dan rekaan membawa mesej yang mendalam, inspirasi yang dihasilkan memberikan pandangan baru tentang bagaimana seni boleh mempengaruhi kehidupan kita.

Fathir Rofi - detikJatim
Kamis, 08 Okt 2026 19:30 WIB
Ilustrasi khutbah Jumat di bulan Safar.
Ilustrasi khutbah Jumat di bulan Safar. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Khutbah Jumat merupakan salah satu bagian penting dari rangkaian ibadah sholat Jumat. Khutbah Jumat juga menjadi salah satu sarana dakwah untuk menyampaikan nasihat dan pengingat agar semakin dekat kepada Allah SWT.

Mengacu pada kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, Jumat di pekan pertama Oktober ini akan menjadi penutupan dari bulan Rabiul Akhir. Oleh karena itu, isi khutbah Jumat dapat disesuaikan dengan momen dan nilai-nilai keislaman yang berkaitan dengan bulan tersebut.

Contoh Khutbah Jumat Menutup Bulan Rabiul Akhir

Nah, bagi detikers yang sedang mencari khutbah Jumat untuk penutupan bulan Rabiul Akhir, berikut tiga contoh khutbah Jumat singkat yang bisa dijadikan referensi, dirangkum dari Majelis Ulama Indonesia. Yuk, disimak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Amalan Sunah di Bulan Rabiul Akhir

Khutbah I

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ: فَيَا اَيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، إِتَّقُوْااللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّاوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ)

Sidang Jumat yang Berbahagia,

Ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT menjadi pembuka yang sangat tepat untuk senantiasa memperbarui komitmen keimanan melalui wasiat takwa yang hakiki dalam kehidupan sehari-hari.

Ketahuilah, hakikat takwa yang sebenarnya dijalankan melalui konsep "imtitsalul awamir wajtinabun nawahi", yakni sebuah upaya sadar dan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT, sekaligus menjauhi segala larangan-Nya tanpa terkecuali.

Dengan memegang teguh prinsip tersebut, setiap langkah dan perilaku kita akan senantiasa selaras dengan petunjuk Al-Qur'an yang mulia. Konsistensi dalam menjalankan ketaatan ini insya Allah akan mengantarkan kita pada golongan hamba-hamba yang bertakwa, yang tidak hanya selamat di akhirat kelak, tetapi juga merasakan ketenteraman hidup yang sejati di dunia.

Dan melalui wasiat takwa ini, mari kita jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam membimbing diri untuk terus berada di jalan yang diridhai-Nya.

Hadirin Rahimakumullah,

Bulan Rabiul Akhir adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Selain memiliki beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam, bulan ini juga merupakan bulan yang baik dan dianjurkan melakukan amalan-amalan sunah.

Pertama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kita bisa melakukan hal ini dengan lebih khusyuk dalam beribadah, memahami makna ibadah yang kita lakukan, dan berusaha untuk mengerjakannya secara sempurna.

Selain itu, untuk meningkatkan kedekatan pada Allah SWT bisa juga dengan membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia. Membaca Al-Qur'an dapat membantu kita untuk lebih memahami ajaran Islam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selanjutnya, sebagai upaya mengisi keimanan dan kedekatan kita kepada Allah adalah berdzikir. Dzikir adalah kegiatan mengingat Allah. Berdzikir dapat dilakukan dengan cara membaca tasbih, tahlil, dan berbagai macam kalimat thayyibah lainnya.

Dzikir dapat membantu kita untuk lebih tenang dan damai, serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Artinya: Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS Al-Baqarah: 152)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kedua, memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali dalam kitab Kanzunn Najah was Surur, menyatakan bahwa terdapat pelbagai keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang salah satunya adalah mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Selain itu, shalawat juga merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika kita membaca shalawat, kita sedang berdoa kepada Allah untuk melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.

Dan sungguh Allah telah berjanji bahwa barang siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad, Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada orang tersebut sebanyak sepuluh kali lipat.

Dan bahwasannya orang yang senantiasa membaca shalawat, akan mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Adapun syafaat ini tidak lain adalah pertolongan dari Nabi Muhammad atas izin Allah di Hari Kiamat.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa orang yang paling berhak mendapat syafaatnya adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepadanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda:

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Artinya: Manusia yang paling berhak terhadapku pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku. (HR at-Tirmidzi)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketiga, berpuasa Ayyamul Bidh. Puasa Ayyamul Bidh merupakan ibadah sunah yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 13, 14, dan 15 dalam setiap bulannya menurut penanggalan Hijriah.

Adapun penamaan Ayyamul Bidh sendiri diambil dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti "hari-hari putih", yakni sebuah sebutan yang lahir karena pada malam-malam tersebut cahaya bulan purnama bersinar dengan sangat terang dan memancarkan pendar putih di langit malam.

Mengingat status hukumnya sebagai sunah muakkad, amalan ini memiliki kedudukan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi umat Islam untuk dirutinkan setiap bulannya sebagai pelengkap ibadah wajib. Rasulullah sendiri sering melakukan puasa ini. Dalam sebuah hadis diriwayatkan:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ فِيْ حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata: 'Rasulullah SAW sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah baik di rumah maupun dalam bepergian'. (HR an-Nasa'i)

Melalui riwayat tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu merekam sebuah keteladanan agung dari Rasulullah SAW yang senantiasa menjaga konsistensi puasa Ayyamul Bidh dalam setiap kondisi kehidupannya, baik saat berada di rumah maupun ketika sedang melakukan perjalanan jauh.

Kesetiaan Baginda Nabi dalam merutinkan ibadah sunah ini menegaskan betapa istimewanya kedudukan puasa pada pertengahan bulan Hijriah tersebut.

Hal ini sekaligus memberikan pesan mendalam kepada umatnya bahwa kesibukan rutinitas harian ataupun bepergian bukanlah suatu halangan untuk meninggalkan amalan mulia, melainkan momentum untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mencontoh langsung kebiasaan sang suri teladan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Selain berbagai amalan sunah utama yang telah disebutkan, umat Islam juga memiliki kesempatan luas untuk memperbanyak pundi-pundi kebaikan lainnya sepanjang bulan Rabiul Akhir.

Momentum penuh berkah ini dapat diisi dengan memperdalam interaksi bersama Al-Qur'an melalui tilawah dan tadabbur harian, merajut kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang, demi memperluas pintu rezeki dan keberkahan usia, serta menghidupkan majelis-majelis taklim untuk terus menuntut ilmu agama yang bermanfaat.

Segala ikhtiar kebaikan tersebut tentu menjadi sarana pendukung yang efektif untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik, hidayah, serta kesehatan kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Rabiul Akhir ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita mampu meningkatkan kualitas amal ibadah serta meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan di sisi-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

2. Mengambil Ibrah Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Rabiul Akhir

Khutbah I

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَفْهَمَناَ بِشَرِيْعَةِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِ كْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَلّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّ يْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيٰٓاَيُّهَا الْإِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قاَلَ تَعَالٰى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا).

وقال اللّٰهُ تَعَالَى أَيْضًا: (هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗ مَا ظَنَنْتُمْ اَنْ يَّخْرُجُوْا وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مَّانِعَتُهُمْ حُصُوْنُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ فَاَتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوْا وَقَذَفَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِاَيْدِيْهِمْ وَاَيْدِى الْمُؤْمِنِيْنَۙ فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ).

Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Melalui mimbar khutbah Jumat singkat siang hari ini, marilah kita hubungkan jiwa dan raga kita kepada Allah SWT, karena atas segala limpahan anugerah dan percikan rahmat, serta karunia Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita, yang alhamdulillah sampai detik yang berbahagia ini, tiada kata yang paling indah yang dapat kita ucapkan dan tiada ungkapan yang paling indah yang dapat kita ungkapkan, melainkan ucapan dan ungkapan penuh rasa syukur kepada Allah SWT.

Alhamdulillah, kita dapat duduk simpuh penuh dengan khidmat, ikhlas, dan rela meninggalkan semua dan segala aktivitas kita, kesibukan kita, waktu istirahat kita, tugas pokok penting dan berbagai hal lainnya.

Semua itu kita tinggalkan dengan niat suci, langkah suci, dan pakaian kia serba suci, kemudian kita tundukan kepala kita di tempat yang suci dan mulia ini dalam rangka berdialog langsung dengan yang Maha Suci melalui shalat Jumat di siang hari ini. Semoga shalat Jumat kita dan termasuk ibadah-ibadah lain, baik fardhu maupun sunah, senantiasa diterima Allah SWT.

Selanjutnya, semoga shalawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, juga kepada keluarga dan kepada para sahabatnya, serta kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik mereka yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita.

Dan satu hal yang tak henti-hentinya khatib akan selalu berpesan kepada kita semua: marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah dengan senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Ketahuilah, bahwa bulan Rabiul Akhir bukanlah bulan biasa. Bulan ini adalah bulan yang mengandung sejarah, bulan yang mengandung nilai historis, bulan yang tidak akan pernah terlupakan oleh umat Islam, karena betapa pentingnya peristiwa yang terjadi pada bulan Rabiul Akhir ini.

Dalam sejarah, disebutkan bahwa bulan Rabiul Akhir menyimpan sejarah penting, seperti turunnya surat Al-Hasyr dan terjadinya Perang Buhran.

Adapun pelajaran utamanya yang bisa dipetik nantinya adalah tentang kewaspadaan terhadap pengkhianatan, pentingnya persatuan, ketegasan dalam kebenaran, serta keadilan dalam memimpin.

Yang jelas, bulan Rabiul Akhir memotivasi umat untuk meneladani perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun peradaban yang berkeadilan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Salah satu peristiwa besar di bulan ini adalah turunnya surat Al-Hasyr. Surat ini diwahyukan berkaitan dengan pengusiran kaum Yahudi bani Nadhir dari Madinah setelah mereka berkhianat dan mencoba membunuh Nabi. Ini mengajarkan kita untuk waspada terhadap kemunafikan dan pengkhianatan dari dalam (musuh dalam selimut).

Allah SWT berfirman:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مِن دِيَٰرِهِمْ لِأَوَّلِ ٱلْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا۟ ۖ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا۟ ۖ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِأَيْدِيْهِمْ وَأَيْدِى ٱلْمُؤْمِنِيْنَ فَٱعْتَبِرُوا۟ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَبْصَٰرِ

Artinya: Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (QS: AL-Hasyr: 2)

Dari sini umat Islam harus belajar untuk selalu waspada (paham kerja intelijen/analisis situasi) dan menjaga persatuan kaum muslimin, serta meyakini bahwa tipu daya musuh akan dikembalikan kepada musuh mereka sendiri.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Peristiwa besar yang kedua adalah terjadinya Perang Buhran. Perang ini merupakan ekspedisi militer yang terjadi di wilayah Buhran pada tahun 3 Hijriyah.

Pada saat itu, Rasulullah SAW mendapat informasi tentang rencana Bani Sulaim yang berpotensi mengancam keamanan kaum muslimin. Beliau kemudian berangkat bersama sekitar 300 sahabat menuju Buhran untuk memastikan keadaan tersebut.

Namun, setibanya di Buhran, Bani Sulaim telah berpencar sehingga tidak terjadi pertempuran. Rasulullah SAW pun kembali ke Madinah tanpa pertumpahan darah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak bertindak gegabah dalam menghadapi ancaman, tetapi memastikan keadaan terlebih dahulu dan tidak memaksakan peperangan ketika tidak diperlukan.

Dari peristiwa ini kita belajar pentingnya tabayyun, kehati-hatian, dan pengendalian diri. Di tengah derasnya arus informasi, jangan mudah percaya dan jangan tergesa-gesa menyebarkan berita yang belum jelas. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menjaga kedamaian dan mencegah konflik juga merupakan bentuk keberanian dan akhlak mulia.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kita harus memahami dengan benar bahwa peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan memulai perang. Namun peperangan yang dilakukan oleh Nabi adalah dalam rangka membela diri.

Saat di Makkah, Allah SWT malah memerintahkan Nabi untuk tidak melawan. Namun setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad dan pengikutnya diizinkan untuk berperang melawan orang-orang yang selama ini memerangi kaum muslimin. Hal ini ditegaskan dalam surat Al-Hajj ayat 39:

اُذِنَ لِلَّذِيۡنَ يُقٰتَلُوۡنَ بِاَنَّهُمۡ ظُلِمُوۡا ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَـصۡرِهِمۡ لَـقَدِيۡرُ

Artinya: Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa membela mereka.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Selain untuk membela diri, terjadinya peperangan di zaman Nabi adalah untuk memberi pelajaran terhadap musuh yang mencari gara-gara atau bersekongkol mengganggu umat Islam meskipun sudah ada perjanjian atau kerja sama.

Peperangan itu adalah untuk melakukan penertiban atau penghukuman agar perjanjian yang telah dilakukan tidak dilanggar. Di samping itu, peperangan di zaman nabi juga terjadi guna menggagalkan rencana musuh yang mengancam keselamatan kaum muslim.

Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,

Selain diizinkannya Nabi Muhammad berperang dalam rangka membela diri, Allah juga telah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad untuk menjadi pelindung semua golongan termasuk mereka yang berbeda agama. Hal ini termaktub dalam surat At-Taubah ayat 6:

وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَࣖ

Artinya: Jika seseorang di antara orang-orang musyrik ada yang meminta pelindungan kepada engkau (Nabi Muhammad), lindungilah dia supaya dapat mendengar firman Allah kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,

Kenapa kita perlu mengambil pelajaran atau ibrah dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lalu? Tidak lain adalah sebagai bekal untuk menghadapi masa depan.

Kesuksesan yang terjadi dalam sejarah perlu dicontoh dan diwujudkan dalam kehidupan saat ini, sementara kegagalan dalam sejarah harus menjadi pelajaran dan diusahakan dengan sekuat tenaga untuk tidak terulang kembali.

Semoga hadirnya bulan Rabiul Akhir ini menjadi momentum untuk terus belajar dari sejarah dan memahaminya dengan benar. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang sukses dalam mengarungi kehidupan ini dengan belajar dari sejarah. Amin

Demikian khutbah Jumat yang bisa khatib sampaikan. Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, dan semoga kita digolongkan Allah sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

3. Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal

Khutbah I

إِنّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ ونستهديه ونشكره، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَنشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لا نبي بعدَه.

اللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ التناد.

أما بعد، عباد الله أوصي نفسي أولا وأوصيكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ) وقال أيضا: (وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.)

Sidang Jumat yang Dirahmati Allah,

Hari ini, di mimbar yang mulia ini, khatib mengajak dan mengingatkan, terutama pada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan iman dan takwa, dalam arti bersungguh-sungguh dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.

Tak lupa khatib juga mengajak jamaah untuk mempertebal kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Karena mencintai Rasulullah merupakan bagian dari iman.

Barang siapa yang ingin dicintai Allah, maka cintailah Rasulullah. Barang siapa yang ingin merajut jalinan dengan Allah, maka rajutlah jalinan dengan Baginda Nabi. Itulah jalan dan cara yang disampaikan Allah langsung dalam Kitab-Nya, surat Ali Imran ayat 31:

قُل اِن كُنتُم تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِى يُحبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغفِرْ لَـكُم ذُنُوبَكُم وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sidang Jumat yang Diberkati Allah,

Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema "Mohonlah Perlindungan pada Allah dari Empat Hal".

'Ibadallah..., ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah "isti'adzah" atau mohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, sebagaimana terekam dalam doanya berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، (وفي رواية: ومن دعوة لا يُستجابُ لها)

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah merasa puas, doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan). (HR An-Nasai)

Mari kita perjelas satu per satu. Semoga kita dapat memahami kenapa Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal tersebut. Isti'adzah pertama, Nabi berlindung dari "ilmu yang tidak bermanfaat". Apa itu ilmu yang tidak bermanfaat? Menurut Imam Al-Qadhi 'Iyyadl ilmu yang tidak bermanfaat adalah:

العلم الذي لا يُعمل به، أو لا يهدي إلى طاعة الله، ولا يُثمِر خشيةً ولا صلاحًا

Artinya: Ilmu yang tidak diamalkan, atau yang tidak mengantarkan kepada ketaatan kepada Allah, atau yang tidak membuahkan rasa takut dan yang tidak membuahkan kesalehan.

Artinya, ilmu yang dihindari di sini adalah ilmu yang dimiliki tetapi hanya menjadi materi perdebatan, sebagai sarana mencari ketenaran dan popularitas, sebagai bangga-banggaan atau gagah-gagahan, untuk mencari gelar, dan/atau untuk sekadar mencari dunia.

Seharusnya niat mencari ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan, melaksanakan kewajiban dan mencari ridha Allah. Sementara buah dari ilmu yang bermanfaat adalah "al-khasyyah" atau rasa takut kepada Allah. Hal ini sebagai ditegaskan Allah dalam surat Fathir ayat 28:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya: Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,

Isti'adzah yang kedua, Nabi SAW berlindung dari "hati yang tidak khusyuk". Menurut Al-Qadhi 'Iyyadl, hati yang tidak khusyuk adalah:

هو القلب القاسي الذي لا تَلينه المواعظُ، ولا تُؤثِّر فيه آياتُ الله.

Artinya: Yaitu hati yang keras, yang tidak menjadi lunak oleh nasihat dan tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 74:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كالحجارة أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya: Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang memancar sungai-sungai darinya, ada pula yang terbelah lalu keluarlah air darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.

Bahkan, dalam surat Az-Zumar ayat 22, Allah mengancam hati yang keras:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Artinya: Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah keras untuk mengingat Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

Sementara itu, menurut Nabi Muhammad, penyebab hati keras ada tiga. Penyebab pertama adalah terlalu banyak tertawa. Nabi SAW bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Artinya: Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati. (HR At-Tirmidzi)

Penyebab kedua adalah dosa yang ditumpuk-tumpuk, tanpa diperhatikan dan disadari. Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

Artinya: Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam pada hatinya. (HR Ibnu Majah)

Adapun penyebab yang ketiga adalah jauh dari Allah. Menyangkut hal ini, Nabi SAW bersabda:

أَبْعَدُ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

Artinya: Orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras. (HR At-Tirmidzi)

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,

Isti'adzah yang ketiga adalah memohon perlindungan kepada Allah dari "jiwa yang tidak pernah puas". Jiwa yang tidak pernah puas disebut dengan tamak. Sedangkan kebalikannya adalah jiwa yang qana'ah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Qadhi 'Iyyadl:

التي لا تَقنَع بما رزَقَها الله، ولا تزال مُتطلعةً إلى الدنيا

Artinya: Yaitu jiwa yang tidak merasa cukup terhadap rezeki yang Allah telah bagikan, dan terus-menerus menginginkan kenikmatan dunia.

Dari sini, mari kita perhatikan, bukankah huru-hara, korupsi, perang, dan segala bentuk kerusakan di bumi ini, tidak lain adalah disebabkan jiwa-jiwa yang serakah, yang tamak, yang tak pernah bersyukur, dan tak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Isti'adzah yang keempat, yang terakhir, adalah berlindung dari "doa yang tidak didengar". Artinya, bukannya Allah tidak mendengar doa kita-karena Allah Maha Mendengar, Allah mendengar segala sesuatu-yang dimaksud di sini adalah Allah tidak mengabulkan doa kita.

Kalau doa tidak dikabulkan, dipastikan ada rasa kecewa dalam diri seseorang. Sebaliknya, jika doanya dikabulkan, tentu akan merasa senang. Lantas, apakah penyebab doa tidak diterima Allah?

Jawabannya adalah tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, sebab harta yang diperoleh dari cara yang haram. Kedua, sebab melakukan kezaliman kepada orang lain.

Ketiga, sebab lalai atau tidak yakin saat berdoa. Karena itu, tiga hal ini harus diperhatikan dengan saksama. Jangan sekadar membaca doa, melainkan juga harus menjauhi sebab-sebab yang membuat doa tersebut tidak dikabulkan.

Ma'syiral Muslimin Rahimakumullah,

Demikian inilah empat isti'adzah atau permohonan perlindungan kepada Allah, yang dilakukan oleh Nabi SAW supaya dihindarkan darinya.

Jika kita perhatikan dari urutan hadis di atas, kita dapat menyimpulkannya bahwa; ilmu yang tidak bermanfaat akan melahirkan hati yang tidak khusyuk; hati yang tidak khusyuk akan menumbuhkan jiwa yang rakus; dan jiwa yang rakus akan menghalangi terkabulnya doa.

Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga ilmu kita bermanfaat, hati kita khusyuk, jiwa kita qana'ah, dan doa kita diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Sumber: Majelis Ulama Indonesia



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Jual Tiket & Promosikan
Acaramu hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
${event.name}

${event.name}

${this.helper.parseDate(event)}
${this.helper.parsePrice(event.price_min)}
Pesan Tiket
`; } renderMultiple(events) { if (!events || events.length === 0) return; this.shadowRoot.innerHTML = `
detikevent

Jual Tiket
& Promosikan Acaramu
hanya di detikevent!

Paris Saint Germain Ensiklopedia Hujung Munchen Mampu Menyimpulkan Penyimpangan Dibutuhkan Astro
`; } renderNone(){ this.shadowRoot.innerHTML = `
No Event Available
`; } } customElements.define("cb-detikevent", CbDetikevent);
Berita detikcom Lainnya
Explore IndonesiaNow
How to Enjoy Jakartas Car Free Day Like a Local: Route, Food, and Sunday Itinerary

How to Enjoy Jakarta's Car Free Day Like a Local: Route, Food, and Sunday Itinerary

Indonesian Deputy Minister Reveals Why China Leads Global EV Market

Indonesian Deputy Minister Reveals Why China Leads Global EV Market

Read in English `; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads