Dalam ajang Jakarta Running Festival yang digelar Sabtu (24/10) dan Minggu (25/10) di Gelora Bung Karno (GBK), beberapa pelari dilaporkan mengalami heatstroke. Kondisi ini memang bisa dialami oleh siapa pun, termasuk atlet profesional.
Dokter spesialis kedokteran olahraga sekaligus medical director Jakarta Running Festival dr dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menjelaskan heatstroke atau sengatan panas merupakan kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu yang berat dan disertai gangguan fungsi sistem saraf pusat. Gejalanya dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, kebingungan, disorientasi, hingga kehilangan kesadaran.
Menurut dr Andi, heatstroke dapat dialami siapa saja, termasuk atlet profesional yang terbiasa berlari dalam intensitas tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Odekta saja, pelari elite kita, pelari tercepat wanita Indonesia saat ini, itu pernah heatstroke beberapa ratus meter menjelang finis. Waktu itu dia memimpin di SEA Games," katanya dalam program detikSore, Selasa (27/10/2026).
Risiko heatstroke menjadi perhatian di negara tropis seperti Indonesia, terutama ketika cuaca sedang panas. Saat berlari dalam kondisi tersebut, suhu tubuh dapat meningkat.
"Ketika seseorang itu berlari tanpa mendengarkan tubuhnya dia suhu-tubuhnya meningkat lama-kelamaan di suatu titik dia itu akan kehilangan fokus," katanya.
dr Andi menjelaskan, ketika pelari masih mampu berpikir jernih, mereka sebenarnya masih bisa mengambil keputusan untuk mengurangi kecepatan, berhenti sejenak, berjalan, atau mencari bantuan petugas medis.
"Sebenarnya, ketika dia masih bisa berpikir, di situlah dia memutuskan untuk, 'Oke, saya kurangi kecepatannya. Oke, saya berhenti, saya jalan, atau sekarang saya cari petugas medis untuk minum dulu atau duduk sebentar, baru saya lari lagi,'" tutur Andi.
Namun, jika tanda-tanda awal tersebut diabaikan dan aktivitas tetap dilanjutkan, kondisi tubuh dapat memburuk. Suplai oksigen dan darah yang mengalir ke otak akan berkurang.
"Semuanya berfokus ke kulit untuk proses penguapan atau proses pendinginan," katanya.
Dalam kondisi tersebut, terjadi gangguan pola pikir atau gangguan ke sistem otak. Hal tersebut membuat seseorang tidak bisa membuat keputusan.
"Sehingga yang terjadi banyak yang tiba-tiba kolaps, dia nggak sadar," pungkasnya.
Baca juga: What S Within Mind And I Our Which Armillary |

























































