Kabupaten Banyuwangi kembali menorehkan prestasi gemilang di sektor pembangunan kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi dan efektivitas inovasi pelayanan kesehatan berbasis jemput bola (jempol raga, puspaswangi, hingga penanganan cepat stroke kanker) yang digagas oleh pemerintah daerah.
Berbagai terobosan ini dinilai berhasil mengakselerasi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya Angka Harapan Hidup (AHH), yang bahkan telah melampaui proyeksi target nasional tahun 2029 lebih awal.
Apresiasi tersebut mencuat dalam forum sinergi pelayanan kesehatan yang dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pemaparannya, Bupati Ipuk menegaskan bahwa komitmen pelayanan kesehatan di Banyuwangi dijalankan secara konsisten selama lebih dari satu dekade melalui pendekatan proaktif hingga ke tingkat rumah tangga.
"Mohon maaf, warga miskin untuk tempat-tempat sampai ke rumahnya baru bisa ada Jempol Raga, Jemput Bola Warga, Rawat Warga. Ini ada beberapa inovasi yang sudah kami lakukan lebih dari 10 tahun dan sangat konsisten sampai sekarang masih berjalan," ujar Bupati Ipuk, menjelaskan skema pelayanan yang melibatkan peran aktif kader PKK di tingkat desa dan kecamatan.
Ipuk juga memaparkan sejumlah inovasi digital dan terpadu terbaru, seperti Puspaswangi yang mengintegrasikan layanan konsultasi kesehatan melalui ekosistem Smart Kampung, serta Angker (penanganan terpadu stroke) untuk mempercepat deteksi dini dan mempersempit masa emas (golden period) rujukan guna menekan angka kematian akibat stroke.
Di samping itu, ia mengakui bahwa pembangunan kesehatan adalah sebuah "perjuangan sepanjang masa" yang memerlukan pengawasan ketat, termasuk penanganan tuntas terhadap kasus tuberkulosis (TBC) agar pengobatan masyarakat tepat sasaran dan tepat waktu.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus memuji capaian indikator kesehatan Banyuwangi yang melesat cepat, melampaui target nasional yang dicanangkan untuk tahun 2029.
"Tapi di Banyuwangi tadi tahun ini sudah 75. Target kita tahun 2029 adalah 76. Nah, ini tadi, angka kematian ibu di Indonesia itu 144, di Banyuwangi tadi saya tanya Kadinkes kalau dihitung-hitung kira-kira sekitar 40.Jadi, tinjauan target 2025 bahkan target 2029 di Kabupaten Banyuwangi sudah tercapai hari ini," ungkap Wamenkes Benjamin.
Wamenkes juga menekankan pentingnya pengawasan mutu program nasional seperti penyediaan makanan bergizi pencegah stunting, transparansi penggunaan anggaran negara, serta pemerataan fasilitas kesehatan hingga ke daerah terluar Indonesia.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar membangun infrastruktur fisik rumah sakit, melainkan menciptakan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang kompeten seperti dokter spesialis, apoteker, dan bidan handal.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini, Banyuwangi diharapkan terus menjadi pilot project nasional dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata, berkualitas, dan berorientasi langsung pada kesejahteraan masyarakat.























































