Update terbaru kasus pencatutan nama di jurnal Ekliptika oleh dosen Indonesia. Selain profesor Jerman, guru besar Universitas Indonesia (UI), guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) pun mengaku dicatut.
"Pencantuman nama saya dalam artikel tersebut sebelumnya tidak ada pemberitahuan, permohonan, maupun persetujuan dari saya," jelas Guru Besar Fakultas Geografi UGM Jogja, Rini Rachmawati melalui pesan WA saat diminta konfirmasi detikJogja, Jumat (30/10/2026) siang.
Rini menegaskan bahwa dia tidak terlibat apapun dalam penulisan karya ilmiah itu yang mencatut namanya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di samping itu, saya juga bukan merupakan penulis (co-author) dari tulisan tersebut dan tidak pernah ikut menulis artikel tersebut," tegas Rini.
Rini belum berkomentar lebih jauh ketika ditanya langkah lanjutan dari pencatutan ini.
Kasus ini bermula dari Profesor Ines Mergel dari University of Konstanz, Jerman, mengungkapkan namanya dicantumkan dalam artikel ilmiah yang diterbitkan di Indonesia tanpa sepengetahuannya.
"Seandainya Google secara otomatis memasukkan artikel itu ke dalam daftar publikasi saya, mungkin saya tidak akan menyadarinya untuk beberapa waktu," ujar Mergel.
Artikel yang dipersoalkan berjudul "Kolinearitas dan Regularisasi pada Model Layanan Publik Digital: Simulasi dalam Konteks Green Government". Tulisan tersebut diterbitkan dalam Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, Vol. 7 No. 1, edisi Juli 2026, halaman 17-30.
Berdasarkan salinan artikel yang diperoleh detikEdu, nama Mergel tercantum bersama sejumlah akademisi lain. Mereka adalah:
- Muhammad Khafid Ainul Yaqin dari Universitas Yudharta Pasuruan
- Rini Rachmawati dari Universitas Gadjah Mada (UGM)
- Yudho Giri Sucahyo dari UI
- Marijn Janssen, profesor bidang ICT dan Governance di Delft University of Technology, Belanda.
Artikel tersebut masuk ke redaksi Ekliptika pada 5 Mei 2026, direvisi pada 1 Juni 2026, dan disetujui untuk diterbitkan pada 7 Juli 2026. Email dengan nama [email protected] tercantum sebagai penulis korespondensi (corresponding author).
Yudho Giri Sucahyo, guru besar Ilmu Komputer UI saat dikonfirmasi detikEdu secara tegas menyatakan tidak mengetahui namanya tercantum dalam artikel tersebut.
"Ya, nama saya juga dicatut," ujar Yudho kepada detikEdu, Kamis (29/10/2026) kemarin.
Beda dengan Rini, Yudho berencana mengambil langkah lanjutan. "Tentu nanti saya akan menyatakan keberatan melalui jalur resmi," katanya.
Artikel yang dipersoalkan sudah ditarik dari jurnal Ekliptika setelah protes bertubi yang dilayangkan Profesor Mergel.
Protes pertama, Mergel mencoba mengirimkan protes pada penulis korespondensi. Ia meminta agar namanya dihapus dari artikel yang tidak pernah ditulisnya.
Namun, balasan yang diterima justru membuatnya bertanya-tanya. Menurut Mergel, penulis korespondensi justru mengaku tidak ingat pernah menulis artikel tersebut dan menyebut topiknya berada di luar bidang keahliannya.
"Ia mengirimkan pernyataan berikut lewat email: 'Terkait masalah ini, saya tidak ingat pernah menulis artikel yang dimaksud. Selain itu, topik artikel tersebut berada di luar bidang keahlian saya'," kata Mergel saat dikonfirmasi detikEdu via email.
Tak lama kemudian, penulis korespondensi berubah sikap dengan mengirimkan email permintaan maaf ke Mergel. Mergel menilai yang bersangkutan akhirnya mengakui keterlibatannya dalam penulisan artikel, setelah sebelumnya menyatakan tidak ingat pernah menulisnya.
Mergel juga mengungkapkan editor jurnal turut menyampaikan permintaan maaf, meskipun identitas editor yang mengirimkannya tidak disebutkan.
"Tampaknya ia kini mengakui dirinya sebagai penulis artikel tersebut setelah kemarin menyangkalnya. Saya juga menerima permintaan maaf dari editor, tetapi editor tersebut tidak menyebutkan namanya," tulis Mergel dalam unggahan di akun LinkedIn.
Editor jurnal yang melakukan penarikan dengan mengoreksi daftar penulis pada artikel. Seluruh nama penulis pendamping dihapus dan tersisa nama Muhammad Khafid Ainul Yaqin sebagai penulis korespondensi.
"Sebagai catatan tambahan, saya merasa aneh bahwa editor tetap anonim dalam permintaan maaf resminya. Selain itu, penyelesaian awal yang mereka pilih adalah mengubah artikel tersebut menjadi artikel dengan satu penulis terlebih dahulu, baru pada tahap berikutnya menarik artikel itu sepenuhnya," ujarnya.
Dewan Editor Ekliptika akhirnya memutuskan untuk menarik artikel secara penuh. Dikutip dari pemberitahuan penarikan yang telah diperbarui pada 29 Oktober 2026, keputusan untuk menarik artikel tersebut didasarkan pada pertimbangan di antaranya sejumlah individu dicantumkan dalam daftar penulis artikel yang telah diterbitkan tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka sebelumnya.
"Jurnal mengakui pencantuman tersebut tidak memenuhi persyaratan otorisasi kepenulisan yang semestinya," dalam surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Editor Pelaksana Ekliptika, Rudi Kurniawan, ST, MT.
Hingga berita ini ditulis, detikEdu yang berusaha kontak dengan Muhammad Khafid Ainul Yaqin yang tercantum sebagai penulis korespondensi dan Editor Pelaksana Ekliptika Rudi Kurniawan, ST, MT tidak menanggapi pesan konfirmasi.































































