Ancaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), belum mereda. Tim gabungan masih berjibaku memadamkan api agar tidak merambat lebih jauh ke kawasan hutan yang menjadi habitat orang utan Kalimantan dan satwa liar dilindungi.
Upaya pengendalian kebakaran bahkan dilakukan hingga malam hari. Petugas harus menembus medan sulit di kawasan Resor Pesalat, Tanjung Harapan, Kecamatan Kumai, untuk memastikan titik-titik api dapat dikendalikan.
Pemadaman berlangsung secara berkelanjutan sejak Kamis (29/10/2026) malam hingga Minggu (1/11/2026) dini hari. Personel gabungan kembali diterjunkan untuk melanjutkan penanganan sekaligus mengantisipasi munculnya titik api baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapolres Kobar AKBP Joko Handono mengatakan seluruh personel telah diperintahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan bergerak cepat melakukan mitigasi. Langkah ini dilakukan agar kebakaran tidak semakin meluas dan merusak ekosistem hutan konservasi.
"Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting adalah aset konservasi dunia yang wajib kita jaga bersama. Kami mengerahkan personel untuk menembus medan sulit demi memastikan api benar-benar padam hingga ke akarnya, sehingga tidak memicu kebakaran yang lebih luas atau menimbulkan kabut asap yang merugikan masyarakat," ujar Joko, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, pemadaman pada malam hari menjadi salah satu strategi untuk menekan pergerakan api. Suhu udara yang lebih rendah diharapkan membantu petugas dalam mengendalikan kebakaran di sejumlah titik.
Meski demikian, kondisi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Api tidak selalu terlihat di permukaan karena bara dapat bertahan di bawah tanah dan sewaktu-waktu kembali menyala meskipun kobaran api sudah berhasil dipadamkan.
"Petugas juga harus menghadapi kepulan asap tebal yang membatasi jarak pandang. Ditambah kondisi malam yang gelap serta tanah gambut yang labil dan rawan amblas, proses pemadaman membutuhkan kehati-hatian ekstra," katanya.
Untuk membatasi pergerakan api, tim gabungan melakukan penyekatan secara vertikal dan horizontal. Strategi tersebut diterapkan agar kebakaran tidak menjalar ke kawasan dengan vegetasi hutan yang lebih rapat.
Joko menegaskan pemantauan dan pemadaman akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar terkendali. Petugas juga diminta memastikan tidak ada bara api yang tertinggal di dalam lapisan gambut.
"Ancaman karhutla di TNTP menjadi perhatian serius karena kawasan tersebut merupakan salah satu benteng habitat orang utan Kalimantan. Kebakaran yang meluas tidak hanya mengancam pepohonan dan vegetasi hutan, tetapi juga berpotensi merusak ruang hidup berbagai satwa liar yang dilindungi," ujarnya.
Sejak Sabtu (31/10) pagi, Polres Kobar bersama tim gabungan kembali melanjutkan upaya pemadaman dan mitigasi. "Langkah tersebut diharapkan mampu menahan laju kebakaran sekaligus mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas di kawasan konservasi kebanggaan Kalimantan Tengah itu," pungkasnya.




























































