Berada di pantai sambil menikmati deburan ombak dan angin sepoi-sepoi terasa menenangkan. Namun, usai dari pantai, tubuh sering kali terasa lelah. Kenapa ya?
Faktor yang memengaruhi rasa lelah ini terkait dengan sistem tubuh dan kebiasaan manusia sekaligus sinar matahari yang terik di pantai. Bisa dikatakan, kita bisa rileks menikmati pantai meski panas terik, karena tubuh kita bekerja mempertahankan suhu di dalam tubuh.
Kondisi Tubuh saat di Pantai
Saat memutuskan untuk menghabiskan waktu di pantai, tubuh harus tetap mempertahankan suhu yang konsisten pada angka 98,6°F atau setara dengan 37°C. Saat tubuh terpapar panas, biasanya konsumsi oksigen akan meningkat untuk membuat suhu tubuh tetap dalam batas normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu cara tubuh mendinginkan diri adalah dengan mengalirkan lebih banyak darah ke dekat kulit. Selama udara di sekitar lebih sejuk daripada suhu tubuh, darah akan melepaskan panasnya ke udara.
Namun, mengalirkan lebih banyak darah berarti jantung harus memompa hingga ke bagian-bagian yang jauh dari pusat tubuh.
"Jika seseorang memiliki detak jantung istirahat 60 (denyut per menit), sangat mungkin detak jantung mereka dapat meningkat hingga 100 atau 110 denyut per menit dalam kondisi panas," kata Craig Crandall, seorang ahli fisiologi, dikutip dari Popular Science.
Semakin banyak keringat, semakin banyak pula cairan tubuh yang keluar. Maka dari itu, tingkat hidrasi tubuh harus diperhatikan, setidaknya dengan menyiapkan minuman isotonik atau sekadar air mineral.
"Hidrasi sangat penting. Saat kita mengalami dehidrasi, kita akan mengalami gejala yang tidak jauh berbeda dari kelelahan akibat panas. Anda akan mulai merasa lelah," imbuh Crandall.
Selain itu, biasanya saat ke pantai juga cenderung beraktivitas fisik, mulai dari jalan-jalan, bermain kejar-kejaran, hingga bermain pasir. Aktivitas seperti ini berpotensi membuat tubuh lelah di penghujung hari.
Pengaruh Sinar Matahari terhadap Tubuh
Crandall menjelaskan bahwa sinar UV matahari juga dapat merusak sel-sel di kulit manusia sehingga tubuh merespons dengan peradangan untuk memperbaikinya. Proses ini memanfaatkan energi yang tidak sedikit.
Pada tingkat yang lebih serius, bahkan bisa ditandai dengan munculnya gejala seperti lelah, sakit kepala, mual, dan demam.
Tabir surya juga bukan solusi mutlak untuk menghindari sinar UV matahari. Meski telah digunakan secara merata di permukaan kulit, tidak menutup kemungkinan sinar UV tetap akan merusak sel-sel di kulit.
Dihimpun dari studi di masa lampau, paparan sinar matahari dapat meningkatkan kelelahan mental selama aktivitas rekreasi. Studi lain menyoroti pekerja di dalam ruangan yang memiliki kemampuan kognitif lebih baik dibandingkan dengan pekerja di luar ruangan dengan suhu yang tinggi atau tidak stabil.
Jadi, saat ke pantai, pastikan tubuh kamu sudah siap dengan cara menjaga asupan makanan dan minuman serta menggunakan tabir surya secukupnya saat berada di bawah terik matahari.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.































































