Dahulu sempat viral Nenek Hasna yang tinggal di rumah seluas 2 x 3 meter dan dihuni 13 orang. Ternyata nasib serupa dialami oleh Broto yang tinggal bersama 13 anggota keluarganya di dalam satu rumah.
Rumah milik Broto berada di gang sempit di Palmerah, Jakarta Barat. Rumah tersebut memang tidak terlalu kecil seperti rumah Nenek Hasna yang hanya 2 x 3 meter. Rumah Broto luasnya 7,3 x 4,8 meter atau sekitar 35 meter persegi dan terdiri dari 2 lantai.
Meski begitu, rumah tersebut tetap tidak layak dihuni karena ditempati 13 orang. Tim detikcom datang langsung dan masuk hingga ke lantai atas. Plafonnya yang pendek ditambah barang di mana-mana membuat ruang gerak terasa sempit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semakin ke belakang, terasa makin panas karena tidak ada ventilasi yang memadai. Area dapur cukup luas memanjang ke samping.
Bagian lantai sudah memakai keramik. Dinding juga sudah memakai bata. Hanya saja, plafonnya sudah harus diganti. Banyak serabut kayu menjuntai, rusak karena umur dan air.
Air tersebut berasal dari sisa banjir yang tak mengering. Memang rumah Pak Broto langganan banjir apalagi saat hujan deras. Bahkan mereka pernah terjebak di lantai 2 karena air naik cukup tinggi imbas tanggul di dekat sana jebol.
"Kalau banjir, capek saya. Sakit-sakit saya nimbain (air dibuang keluar). Banjir dari dapur sampai ke depan. Sudah kering, nanti nongol lagi (banjir lagi)," tutur istri Broto, saat ditemui di rumahnya, Jakarta Barat, Sabtu (31/10/2026).
Tangga menuju ke atas menyempil di pojok kiri dari pintu masuk. Tangga tidak dilengkapi dengan lampu. Anak tangganya hanya dari kayu dan cukup curam. Bagi yang baru pertama kali masuk, pasti sulit menemukan tangganya karena tertutup juga dengan kamar mandi.
Hanya ada 3 kamar di lantai atas. Kamar pertama diisi oleh 4 orang, kamar kedua diisi oleh anak bungsunya, dan terakhir diisi oleh 6 orang. Broto dan istrinya tidak tinggal di atas. Mereka tidur di ruang TV.
Broto memiliki 5 anak, tetapi yang tinggal di rumah itu hanya 3. Dua anak sudah berkeluarga dan pisah KK, tetapi masih tinggal di rumah itu. Anak bungsunya pun masih menetap di rumah itu dan belum berkeluarga. Sementara 2 anak lainnya sudah tidak tinggal di sana.
Broto sudah menempati rumah itu sejak kecil. Dengan kata lain, ia sudah menghabiskan waktu tinggal di Gang Kiapang RT 08, RW 03 selama 68 tahun.
"Ini kan memang rumah warisan dari nenek. Mertua dari bapak saya. Dari dulu memang udah ada atas. Paling yang sering bagian bawahnya diuruk (lantainya ditinggikan). Agak tinggi tadinya (plafon), karena banjir diuruk lagi, diuruk lagi," jelas salah satu anak Broto.
Selama itu, Broto belum satu kali pun merenovasi besar-besaran rumahnya. Alasannya terkendala ekonomi. Dari 13 orang yang tinggal di sana hanya 2 anaknya yang bekerja. Satu sebagai cleaning service dan satunya lagi kerja di bengkel kecil dengan pendapatan tak tetap.
Broto Masuk Desil 6, Padahal Tinggal di Rumah Reyot
Rumah Broto di Palmerah yang dihuni 13 orang. Foto: Sekar Aqillah Indraswari/detikcom |
Di tengah himpitan ekonomi, tahun ini ia mengetahui jika keluarga masuk dalam desil 6. Padahal desil 6 termasuk golongan sejahtera atau mampu. Imbas desil ini, dua cucunya yang semula mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP), haknya dicabut.
Beruntungnya, keluarga mereka tetap mendapatkan bantuan bedah rumah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) menegaskan program ini tidak berpatokan pada desil. Selama kondisi rumah dan ekonomi memenuhi syarat, bisa mendapat bantuan bedah rumah.
"Nggak usah pakai desil-desilan. Itu Bu, makanya kita harus periksa langsung (rumahnya). Data-data itu juga harus periksa langsung karena data-data itu bisa saja salah. Makanya kalau kita tidak turun langsung, terima saja, nggak adil (buat masyarakat)," jelas Ara kepada salah satu anak Broto yang mengeluh soal desilnya yang salah.
Rumah Broto akan direnovasi mulai 12 November dan selesai pada 26 Desember 2026. Mereka sekeluarga akan mengontrak dahulu selama pembangunan. Dana bantuan bedah rumah yang disiapkan pemerintah adalah Rp 20 juta per rumah. Rumahnya akan tetap dibuat 2 lantai dengan jendela yang banyak dan tampilan yang lebih layak.
Sementara itu, Nenek Hasna adalah salah satu warga Jakarta penerima manfaat bedah rumah dari pemerintah. Rumahnya yang berada di Jakarta Pusat itu sangat sempit, tetapi dihuni 13 orang. Kondisi rumah Nenek Hasna sempat viral tahun lalu dan kini rumahnya sudah jauh lebih besar dan layak huni setelah direnovasi.






























































