Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan, melonjak setelah sempat mengalami penurunan dalam beberapa hari. Terdeteksi sebanyak 84 hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah pada Jumat (30/10/2026).
"Berdasarkan data Sipongi, dari total 84 titik tersebut sebanyak 26 titik berada di lahan gambut dan 58 titik lainnya terpantau di lahan mineral," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Sabtu (31/10/2026).
Dia menyebut jumlah ini meningkat dibandingkan dua hari sebelumnya. Pada Kamis (29/10), hotspot tercatat sebanyak 27 titik, sedangkan pada Rabu (28/10) hanya terdeteksi 3 titik dan menjadi yang terendah sejak dua bulam terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan jumlah hotspot tersebut dipengaruhi hujan yangmengguyur sejumlah wilayah di Sumsel. Beberapa area yang terjadi karhutla sebelumnya huga sudah padam," katanya.
Dari total 84 titik panas yang terdeteksi, wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 37 titik. Rinciannya, 25 titik berada di lahan gambut dan 12 titik di lahan mineral.
Selanjutnya, Muara Enim tercatat 14 titik, Lahat 9 titik, OKU Timur 6 titik, Musi Rawas Utara (Muratara) 5 titik, dan Musi Banyuasin (Muba) sebanyak 4 titik (1 titik di gambut). Hotspot terpantau di 12 daerah di Sumsel. Sementara lima daerah lainnya nihil titik panas.
"Hotspot terpantau di 12 daerah, lima daerah lain yakni Palembang, Pagar Alam, Ogan Ilir, Empat Lawang, dan PALI tidak terpantau atau nihil hotspot," ungkapnya.
Sementara sepanjang 1-30 Oktober, jumlah hotspot yang terpantau sebanyak 43.148 titik. Angka bulanan ini menjadi yang tertinggi sepanjang 2026, bahkan sejak 2015.
Sedangkan sepanjang 2026, hotspot yang tercatat di BPBD Sumsel sebanyak 92.255 titik. Angka ini juga menjadi yang tertinggi sejak pendataan 2015 yang disampaikan BPBD Sumsel.



























































