Perusahaan di kawasan Asia-Pasifik kini menghadapi dilema besar dalam mengadopsi teknologi modern tanpa mengabaikan infrastruktur lama.
Laporan Modernization Report 2026 perdana dari provider layanan teknologi enterprise Kyndryl mengungkapkan bahwa 49% organisasi di Asia-Pasifik meleset atau terlambat dari target modernisasi IT mereka.
Temuan ini menegaskan bahwa proses modernisasi saat ini tidak lagi sekadar urusan konsolidasi perangkat keras atau aplikasi teknis, melainkan sudah menjadi strategi orkestrasian bisnis di tingkat dewan direksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak Penundaan: Biaya Membengkak dan Risiko Siber
Riset Kyndryl yang melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi secara global (30% responden berasal dari kawasan Asia-Pasifik) mencatat konsekuensi fatal bagi perusahaan yang menunda proyek modernisasi:
- Biaya Jangka Panjang Membengkak: 44% organisasi melaporkan peningkatan beban biaya operasional jangka panjang.
- Lambat Adopsi Inovasi: 43% perusahaan gagal mengadopsi kapabilitas teknologi baru dengan cepat.
- Muncul Celah Keamanan: 38% mendeteksi munculnya kerentanan baru pada sektor keamanan siber dan kepatuhan regulasi.
Vice President & Managing Director ASEAN & Korea Kyndryl, Megawaty Khie, menegaskan bahwa perusahaan tidak bisa lagi memilih salah satu antara adopsi AI atau memperkuat fondasi IT.
"Di kawasan Asia-Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya. Organisasi membutuhkan keduanya," tegas Megawaty, dalam keterangan yang diterima detikINET.
AI Dorong Penggunaan Mainframe, 'Edge', hingga Agentic AI
Kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama prioritas investasi infrastruktur modern di Asia-Pasifik. AI tercatat menjadi alasan utama peningkatan penggunaan mainframe dan edge computing, pendorong terbesar kedua untuk ekspansi SaaS dan private cloud, serta alasan utama upgrade jaringan dan portofolio aplikasi.
Menariknya, 100% organisasi pemilik mainframe di Asia-Pasifik kini berencana menerapkan AI pada platform legacy tersebut.
Selain itu, teknologi Agentic AI--yang sanggup merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri--mulai diadopsi untuk mempercepat modernisasi:
- Tingkat Adopsi: Sebanyak 10% organisasi di Asia-Pasifik telah mengimplementasikan agentic AI pada fase produksi (sejajar dengan rata-rata global).
- Penggunaan Utama: Diaplikasikan untuk tugas-tugas rumit yang memakan waktu, seperti pemetaan dependensi, konversi kode (code conversion), dan pembuatan dokumentasi teknis.
Kedaulatan Data dan Isu Geopolitik Jadi Pertimbangan Utama
Laporan Kyndryl juga menepis anggapan bahwa transformasi digital akan menyederhanakan lingkungan IT menjadi satu platform tunggal. Sebaliknya, kompleksitas justru meningkat pesat seiring keterlibatan hingga sembilan kelompok pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan, mulai dari CIO, CTO, hingga tim keuangan dan direksi.
Selain biaya dan performa, faktor geopolitik serta kedaulatan data kini turut memengaruhi keputusan teknologi. Pergeseran ini membuktikan bahwa lokasi geografis pengolahan data dan operasional teknologi kini dipengaruhi kuat oleh faktor tata kelola dan geopolitik global.

















































