Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan turunnya realisasi domestic market obligation (DMO) produsen minyak sawit berdampak pada produksi Minyakita. Pasalnya, DMO Minyakita bergantung pada ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit Indonesia.
Berdasarkan rapat inflasi daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), realisasi DMO minyak goreng rakyat turun signifikan. Berdasarkan data dalam rapat tersebut, realisasi DMO bulan Juli hanya sebesar 53.059 dari 102.625 pada Juni 2026.
"Jadi DMO Minyakita itu sangat tergantung dengan seberapa banyak produsen itu melakukan kegiatan ekspor CPO-nya, dan kita bisa memaksa para produsen untuk memproduksi Minyakita karena ini DMO sesuai dengan kebutuhan ekspor mereka. Jadi, kalau misalnya produksi Minyakita itu turun, ya artinya di sisi yang lain ekspor CPO juga sedang turun," ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan di Kemendag, Jakarta Pusat, Kamis (30/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, pihaknya telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 20 tahun 2026 yang memuat tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat. Dalam aturan tersebut, pemerintah menjamin tidak akan ada kelangkaan minyak goreng.
"Oleh karena itu ada nih Permendag 20 yang menjamin bahwasanya Republik ini karena kita salah satu penghasil sawit terbesar di dunia, itu tidak akan ada kelangkaan minyak goreng, karena bukan hanya Minyakita yang kita atur, tapi juga minyak premium dan minyak second brand itu harus tersedia di pasar utamanya di pasar rakyat," jelasnya.
Iqbal menambahkan, keputusan produsen untuk mengekspor CPO sepenuhnya bergantung pada pertimbangan bisnis masing-masing, terutama ada atau tidaknya permintaan dari pasar luar negeri. Menurutnya, berdasarkan pengamatan dalam dua tahun terakhir, volume ekspor CPO cenderung stabil meski mengalami fluktuasi musiman.
Iqbal mengatakan, ekspor biasanya menurun pada Januari-Februari, kemudian meningkat pada Maret-Mei, kembali melemah pada Juni-Juli, dan naik lagi mulai September hingga Desember. Oleh karena itu, ia enggan berspekulasi bahwa para produsen akan menghentikan ekspor CPO.
"Memang ada di bulan-bulan tertentu ekspornya turun misalnya, kalau misalnya di awal tahun tuh di bulan Januari dan Februari itu turun tuh biasanya tuh kemudian Maret, April, Mei itu naik lagi, Juni, Juli turun, September naik lagi tuh sampai Desember itu trennya begitu setidaknya 2 tahun terakhir. Saya tidak berani berspekulasi mereka tidak akan ekspor ya," pungkasnya..
(ahi/ara)




















































