Salam tiga jari belakangan ramai digunakan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Gestur tersebut bukan sekadar simbol yang mudah dikenali, tetapi juga memiliki sejarah dan makna yang berkaitan dengan gerakan sosial di berbagai negara.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, membedah makna di balik fenomena salam tiga jari atau three-finger salute. Menurutnya, simbol visual tersebut dapat melampaui batas negara dan menjadi bahasa solidaritas dalam gerakan sosial.
Radius menjelaskan, salam tiga jari pernah digunakan dalam berbagai gerakan pro-demokrasi, antara lain di Thailand, Myanmar, dan Hong Kong. Simbol yang dikenal luas melalui budaya populer The Hunger Games itu kemudian diadopsi dan diberi makna baru sesuai dengan konteks politik masing-masing negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menarik karena simbol visual tidak mengenal batas bahasa. Orang di negara berbeda bisa menggunakan gestur yang sama untuk menyuarakan kegelisahan dan perlawanan, meskipun konteks serta tuntutannya tidak selalu sama," kaya Radius, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Radius, fenomena tersebut dapat dibaca melalui konsep Imagined Communities yang dikemukakan Benedict Anderson. Konsep ini menjelaskan bagaimana orang-orang yang tidak saling mengenal dapat membayangkan diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang sama melalui simbol, narasi, dan media.
"Ketika simbol tiga jari beredar luas, orang dapat merasa bahwa kegelisahan yang mereka alami bukan persoalan individual. Ada orang lain yang merasakan dan mempersoalkan hal serupa. Simbol kemudian membentuk perasaan 'kita' di antara orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu," jelasnya.
Radius menambahkan, media sosial mempercepat proses penyebaran sekaligus pembentukan makna simbol tersebut. Foto, video, dan unggahan ulang membuat salam tiga jari mudah direproduksi serta digunakan berbagai kelompok masyarakat. Pada saat yang sama, masyarakat juga dapat menafsirkan ulang maknanya sesuai dengan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi.
"Dalam perspektif Desain Komunikasi Visual, kesederhanaan dan kemudahan pengenalan membuat simbol tersebut efektif sebagai bahasa komunikasi kolektif," ujarnya.
Ia menilai, fenomena tersebut memperlihatkan bahwa simbol bukan sekadar gestur atau ekspresi di media sosial. Simbol dapat menjadi medium pembentukan identitas kolektif yang mempertemukan individu-individu dengan kegelisahan serupa.
Meski demikian, Radius mengingatkan bahwa viralitas sebuah simbol tidak serta-merta membuktikan adanya koordinasi lintas negara ataupun solidaritas yang berkelanjutan. Makna dan dampaknya perlu dilihat dari konteks penggunaan serta kemampuannya merepresentasikan persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
"Makna dan dampak simbol tersebut perlu dilihat dari konteks penggunaannya serta kemampuannya merepresentasikan persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat," pungkasnya.























































