Kabar mengejutkan datang dari institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Mantan Kapolri, Listyo Sigit Prabowo ditetapkan jadi tersangka kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Kabareskrim Polri Komjen Asep Safrudin mengatakan, selain Listyo Sigit, ada dua jenderal polisi lainnya yang juga dijerat tersangka penyadapan, yakni Kadivkum Polri Irjen Ahrie Sonta (AHN) dan Irjen Eko Hadi Santoso (EH).
Penyadapan disebut dilakukan sejak tahun 2025 hingga Oktober 2026 dengan target Presiden Prabowo hingga sejumlah tokoh politik dan pengusaha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasa Cemas Berita Mengejutkan
Bagi sebagian masyarakat, mungkin berita semacam ini tak hanya memunculkan rasa penasaran, tetapi juga bisa memicu beragam reaksi emosional masyarakat, mulai dari cemas, takut, hingga kesal.
Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ dalam konteks psikologis, munculnya emosi setelah membaca berita yang dianggap mengancam rasa aman merupakan hal yang bisa dipahami. Seseorang tidak harus mengalami langsung suatu peristiwa untuk ikut merasakan kekhawatiran.
"Secara psikologis, otak manusia memiliki sistem alarm yang disebut amigdala, yang berperan dalam mendeteksi potensi ancaman. Ketika menerima berita mengejutkan, sistem ini dapat meningkatkan kewaspadaan, bahkan sebelum kita memahami fakta secara utuh," kata dr Lahargo ketika dihubungi detikcom, Rabu (4/11/2026).
"Akibatnya, muncul perasaan kaget, takut, marah, curiga, hingga kekhawatiran berlebihan terhadap keadaan," lanjutnya.
dr Lahargo menekankan pentingnya memberikan batasan kepada informasi-informasi agar tidak berdampak pada kesehatan mental. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan masyarakat menurutnya.
1. Stay Informed, Not Overwhelmed
Tetap mengikuti informasi, tetapi jangan sampai tenggelam di dalamnya. Batasi frekuensi membaca berita dan hindari doomscrolling, yaitu terus-menerus mencari berita negatif yang justru memperkuat kecemasan.
2. Check the Facts, Not Just the Headlines.
Judul berita sering kali dibuat menarik perhatian dan memicu emosi. Periksa sumber yang kredibel, konteks, serta perkembangan informasi. Bedakan fakta, dugaan, opini, dan spekulasi. Jangan sampai kecemasan kita dibangun oleh informasi yang belum terverifikasi.
3. Pause Before You React
Ketika membaca berita yang mengejutkan, jangan langsung bereaksi atau menyebarkannya. Berikan waktu agar emosi mereda dan pikiran lebih jernih. Kita boleh peduli dan kritis tanpa harus panik.
4. Focus on What You Can Control
Kita tidak selalu dapat mengendalikan peristiwa besar yang terjadi di masyarakat, tetapi kita dapat mengendalikan cara merespons, memilih informasi, berdiskusi secara sehat, serta mengambil tindakan yang konstruktif.
5. Turn Anxiety Into Constructive Action
Kecemasan dapat menjadi sinyal kepedulian sosial. Salurkan melalui literasi informasi, diskusi yang rasional, pengawasan publik yang bertanggung jawab, dan dukungan terhadap proses hukum yang transparan serta adil.
"Yang juga penting, mengelola kecemasan bukan berarti menjadi apatis, menutup mata terhadap persoalan, atau menerima keadaan begitu saja. Masyarakat tetap perlu kritis, peduli, dan menuntut akuntabilitas melalui cara-cara yang sehat," tutup dr Lahargo.

























































