Bayangkan detikers, pada usia 61 tahun kalian masih harus bolak-balik ke kampus setelah pulang bekerja untuk menempuh studi S3. Pengalaman tersebut nyata terjadi pada sosok Abdul Ghofur.
Ghofur diwisuda pada usia 61 tahun 5 bulan. Ia tercatat sebagai wisudawan doktor tertua di Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS.
Perjalanan akademiknya di jenjang S3 dimulai pada 2022. Bagi Ghofur, usia bukan alasan untuk berhenti belajar, terlebih ketika kesempatan untuk memperdalam ilmu masih terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siang Jadi Peneliti, Malam Jadi Mahasiswa
Ghofur merupakan peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelum menuntaskan pendidikan doktoral, ia telah memiliki pengalaman panjang di bidang rekayasa dan teknologi kelautan.
Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Teknik Kelautan ITS pada 1990. Setelah itu, Ghofur memulai kariernya di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), lembaga yang kemudian menjadi bagian dari proses pembentukan BRIN.
Ia juga pernah menempuh pendidikan magister di Newcastle University, Inggris. Pengalaman kuliah di luar negeri menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pendidikannya.
Menurut Ghofur, menjalani studi jauh dari keluarga sekaligus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya belajar yang berbeda memberinya banyak pelajaran.
"Perjalanan S2 ini yang benar-benar menggembleng saya, hidup di negara orang, jauh dari keluarga, dan harus menyesuaikan diri dengan budaya belajar orang-orang di sana," tuturnya, dikutip dari laman ITS, Rabu (28/10/2026).
Keputusan Ghofur melanjutkan pendidikan doktoral tidak terlepas dari dorongan pimpinan di BRIN. Meski usianya sudah memasuki kepala enam, ia memilih mengambil kesempatan tersebut selama kondisi kesehatannya masih memungkinkan.
Ia juga merasa terbantu karena bidang studi yang ditempuh selaras dengan pengalaman profesionalnya selama bertahun-tahun.
"Syukurnya, karena bidang studi yang ditempuh tetap linier dengan pengalaman kerja saya, proses perkuliahan S3 di FTK ITS masih dapat saya jalani dengan lancar," ungkapnya.
Ghofur mengaku tidak menghadapi hambatan berarti selama menjalani pendidikan doktoral. Aktivitasnya sehari-hari sebagai peneliti membuatnya terbiasa melakukan riset, sehingga proses perkuliahan dan penyelesaian disertasi dapat dijalani dengan baik.
Meneliti Teknologi Turbin Angin Lepas Pantai
Dalam disertasinya, Ghofur mendalami pengembangan teknologi kelautan, khususnya desain Short SPAR, yaitu struktur terapung yang dapat digunakan sebagai fondasi turbin angin lepas pantai.
Penelitian tersebut berangkat dari karakteristik perairan Indonesia yang memiliki banyak wilayah dengan kedalaman sekitar 20-25 meter. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan desain struktur turbin angin terapung yang sesuai dengan kebutuhan perairan relatif dangkal.
Dalam risetnya, Ghofur memadukan pengalaman panjang di bidang hidrodinamika dengan kajian teknologi energi terbarukan.
Ia juga harus memperbarui kemampuan teknisnya karena sudah cukup lama tidak menjalani pendidikan formal.
"Karena terakhir kuliah itu 20-an tahun lalu, saya jadi mempelajari perangkat lunak baru seperti Ansys Fluent untuk mendukung analisis numerik dan pengujian struktur terapung di lab," jelasnya.
Penelitian tersebut menggabungkan perhitungan numerik dengan pengujian hidrodinamika. Desain yang dikaji menggunakan struktur SPAR klasik yang dilengkapi heave plate dan viscous plate untuk membantu meredam gerakan struktur terapung.
Pengembangan desain tersebut menjadi bagian dari upaya mengkaji struktur yang sesuai untuk mendukung teknologi turbin angin lepas pantai.
Selama menyelesaikan pendidikan doktoral, Ghofur memperoleh dukungan melalui program In-House Beasiswa Riset (IBR) BRIN.
Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanannya menyelesaikan studi menjelang usia pensiun. Ia bersyukur dapat terus memperdalam keahlian sekaligus mengembangkan penelitian yang relevan dengan bidang pekerjaannya.
Pengalaman Ghofur juga memperlihatkan bahwa proses belajar tidak selalu berhenti setelah seseorang memasuki dunia kerja atau mencapai usia tertentu. Bagi peneliti, pendidikan dapat menjadi sarana untuk memperbarui pengetahuan dan mengembangkan kemampuan seiring kemajuan teknologi.
Ghofur pun menekankan pentingnya menjaga etika dalam proses belajar. Meski usianya lebih tua daripada dosen yang mengajarnya, ia tetap menghormati mereka sebagai pengajar.
Menurutnya, mahasiswa perlu menjaga kedisiplinan, ketekunan, dan kerja keras selama menjalani pendidikan. "Sebagai mahasiswa, kita harus menjaga disiplin, tekun belajar, bekerja keras, dan menghindari kebiasaan yang memicu kemalasan," pesannya.






























































