Paus Leo XIV dipastikan dalam kondisi sehat dan siap menjalani kunjungan ke tiga negara di Amerika Selatan pekan ini. Perjalanan udara tersebut dilakukan kurang dari sebulan setelah dirinya menjalani operasi kanker paru-paru.
Pihak Vatikan menegaskan tidak ada persiapan medis darurat maupun perlakuan khusus yang diperlukan untuk perjalanan tersebut. Paus berusia 71 tahun itu dijadwalkan berangkat pada Jumat (6/11/2026) untuk menjalani tur selama 12 hari, melintasi Uruguay, Argentina, dan Peru.
Tur tersebut menjadi salah satu agenda perjalanan paling padat yang dijalani pemimpin Gereja Katolik dalam beberapa dekade terakhir. Padahal, pada 13 Oktober 2026, Paus Leo baru saja menjalani operasi pengangkatan lobus bawah paru-paru kanannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Paus dalam kondisi kesehatan yang baik," tegas juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, dikutip dari Reuters.
"Ini bukan kondisi permanen. Kita bicara tentang sesuatu yang memang bisa disembuhkan melalui prosedur operasi," lanjutnya.
Diagnosis kanker yang dialami Paus Leo sebelumnya sempat mengejutkan publik dan memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan kepemimpinannya. Namun, pihak Vatikan menyebut kondisi kesehatannya kini telah stabil dan proses pemulihannya berjalan baik.
Tanpa Pengawalan Medis Ekstra
Paus Leo sebelumnya didiagnosis mengidap lung adenocarcinoma atau adenokarsinoma paru, jenis kanker paru yang paling umum ditemukan. Hasil pemeriksaan jaringan menunjukkan sel kanker belum menyebar sehingga Paus tidak memerlukan terapi lanjutan, seperti kemoterapi.
Bruni menjelaskan, proses pemulihan Paus berlangsung cepat. Karena itu, tidak diperlukan protokol kesehatan khusus selama kunjungan ke Amerika Selatan. Tim medis dan ambulans standar Vatikan tetap akan mendampingi sebagaimana dalam kunjungan luar negeri biasanya.
"Dokter dan perawat selalu siap siaga, fasilitas dasar selalu ada. Tidak ada detail khusus yang perlu dipermasalahkan karena situasinya memang tidak membutuhkan itu," tambah Bruni.
Kepala Komunikasi Vatikan, Maria Montserrat Alvarado, turut memuji stamina Paus yang disebutnya 'luar biasa'.
"Saya sama sekali tidak khawatir. Dokter-dokternya sangat optimistis," ungkap Alvarado.
Apakah Aman Terbang dan Naik Gunung Usai Operasi Paru?
Agenda Paus Leo terbilang padat. Selama periode 6-17 November, ia dijadwalkan menempuh perjalanan udara hingga 31.000 km, mengunjungi 10 kota, menjalani 12 penerbangan dan dua perjalanan dengan helikopter, serta menyampaikan 36 pidato.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah kunjungannya ke Cusco, Peru. Kota yang berada di kawasan Pegunungan Andes tersebut terletak pada ketinggian 3.399 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit ketinggian (altitude sickness) dan memicu gejala seperti sesak napas.
Lantas, bagaimana pandangan para pakar kesehatan mengenai kondisi Paus dan keputusannya menjalani perjalanan panjang tersebut?
Dokter spesialis kanker paru dari Rumah Sakit San Camillo Forlanini Roma, dr Serena Ricciardi, menilai izin perjalanan dari tim medis mengindikasikan bahwa kondisi paru-paru Paus telah pulih dengan baik setelah operasi. Menurutnya, luka bekas pembedahan juga diperkirakan telah sembuh tanpa tanda-tanda infeksi.
"Saya rasa Paus tidak menghadapi risiko khusus atau perlu tindakan pencegahan yang terlalu spesifik untuk perjalanan ini," ujar dr Ricciardi.
Senada, Kepala Onkologi Toraks di European Institute of Oncology, Milan, dr Antonio Passaro, mengatakan operasi paru-paru pada dasarnya tidak serta-merta menghalangi seseorang untuk bepergian dengan pesawat maupun kembali beraktivitas.
"Yang terpenting bukan cuma prosedur operasinya, tapi kualitas pemulihan dan kondisi fungsional fisik pasien saat itu," terang dr Passaro.
Meski demikian, dr Passaro mengingatkan bahwa perbedaan tekanan udara dan kadar oksigen di dataran tinggi Peru tetap perlu menjadi perhatian. Dokter pribadi Paus kemungkinan akan menyarankan waktu istirahat yang cukup serta menyiapkan oksigen tambahan jika diperlukan.
"Tentu saja perjalanan kompleks dengan banyak penerbangan dan agenda di dataran tinggi butuh kewaspadaan-terutama soal manajemen rasa lelah, pasokan oksigen, dan waktu istirahat yang cukup," pungkasnya.

























































