Wayang kulit merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga sekarang. Kesenian ini tidak hanya dikenal sebagai seni pertunjukan, tetapi juga berkembang menjadi kerajinan tradisional yang memiliki nilai seni dan ekonomi.
Kerajinan wayang kulit berkembang di sejumlah daerah, khususnya Pulau Jawa. Setiap daerah memiliki sentra kerajinan dengan ciri khas dan tradisi pembuatan masing-masing.
Salah satu sentra kerajinan wayang kulit berada di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Berdasarkan informasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, desa tersebut dikenal sebagai Kampung Wayang dengan aktivitas masyarakat yang memproduksi berbagai kerajinan wayang kulit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daerah Penghasil Wayang Kulit di Indonesia
Lantas, daerah mana saja yang dikenal sebagai penghasil wayang kulit di Indonesia? Berikut lima daerah wayang kulit beserta sentra kerajinannya yang menarik untuk diketahui.
1. Yogyakarta
Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai sentra kerajinan wayang kulit di Indonesia. Salah satu pusat produksinya berada di Dusun Karangasem, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.
Berdasarkan informasi Badan Pelaksana Otorita Borobudur, kawasan Pucung di desa tersebut dikenal sebagai sentra kerajinan tatah sungging kulit yang banyak menghasilkan wayang kulit.
Tradisi kerajinan ini telah berkembang sejak 1917 dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Kerajinan wayang kulit di Pucung menggunakan bahan kulit sapi atau kerbau yang diolah melalui proses tatah (memahat) dan sungging (mewarnai).
Kegiatan produksi ini melibatkan ratusan perajin yang tergabung dalam puluhan industri kecil dan menengah (IKM). Selain wayang kulit, masyarakat setempat juga menghasilkan berbagai kerajinan berbahan kulit lainnya, seperti kipas, kap lampu, hiasan dinding, dan gantungan kunci.
2. Surakarta (Solo)
Surakarta atau Solo merupakan salah satu daerah yang memiliki kerajinan wayang kulit yang masih dilestarikan hingga sekarang. Salah satu sentra produksinya berada di Balai Agung Keraton Surakarta.
Tempat ini telah memproduksi wayang kulit berbahan kulit kerbau sejak 1980. Kerajinan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga warisan budaya pewayangan yang telah lama lekat dengan kehidupan masyarakat Kota Solo.
Balai Agung memproduksi berbagai jenis wayang, di antaranya Wayang Purwa, Madya, Gedhong, Mena, Klithik, dan Wayang Beber. Produk kerajinan tersebut dibuat dengan kualitas unggulan, dan dipasarkan ke berbagai daerah hingga mancanegara, seperti Jerman, Jepang, dan Belanda.
3. Wonogiri
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil wayang kulit, tepatnya di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran. Desa ini memiliki tradisi pembuatan wayang kulit yang telah berlangsung lebih dari 100 tahun dan diwariskan secara turun-temurun.
Sebagian besar masyarakatnya bahkan memiliki keterampilan menatah atau melubangi kulit untuk membentuk ornamen wayang. Desa Kepuhsari juga telah dikembangkan menjadi desa wisata dengan nama Wayang Village.
Pengunjung tidak hanya dapat melihat proses pembuatan wayang kulit, tetapi bisa ikut mencoba menatah dan mewarnai wayang secara langsung. Selain kerajinan, desa ini turut mempertahankan seni pedalangan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
4. Klaten
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memiliki sentra kerajinan wayang kulit yang berada di Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari. Kawasan ini dikenal sebagai Desa Wisata Wayang karena sebagian masyarakatnya telah menekuni pembuatan wayang kulit secara turun-temurun. Keahlian tersebut diwariskan antargenerasi dan menjadi salah satu potensi kerajinan unggulan desa.
Terdapat sekitar 70 perajin wayang kulit di Dukuh Butuh yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Bima. Salah satu keunggulan produksinya terletak pada penggunaan kulit kerbau sebagai bahan baku.
Proses pembuatannya meliputi pengolahan kulit, penatahan atau pemahatan, hingga pewarnaan. Pengunjung juga dapat menyaksikan langsung proses produksi sekaligus belajar membuat wayang kulit di desa wisata tersebut.
5. Pacitan
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, juga memiliki perkembangan seni pewayangan yang menarik untuk diketahui. Tradisi wayang di daerah ini disebut telah berkembang sejak abad ke-13 Masehi.
Salah satunya melalui Wayang Beber yang dikenal dalam sejarah kebudayaan setempat. Seiring perkembangan zaman, seni pewayangan di Pacitan terus mengalami inovasi melalui karya-karya seniman lokal.
Salah satunya dilakukan Bimo, seniman dari Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo. Ia mengembangkan kreasi wayang modern dengan memanfaatkan bahan alternatif berupa kertas bekas kantong semen.
Meski demikian, ia juga tetap mengembangkan keterampilan membuat dan mengukir wayang klasik. Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga tradisi pewayangan sekaligus menghadirkan karya seni yang lebih ramah lingkungan.
Wayang Kulit Sebagai Identitas Budaya Indonesia
Wayang kulit bukan sekedar seni pertunjukan, tetapi warisan budaya yang mengandung nilai seni, filosofi, dan pesan moral tentang kehidupan. UNESCO telah menetapkan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2008.
Pelestariannya tidak terlepas dari peran dalang, seniman, dan perajin yang menjaga tradisi pembuatan wayang secara turun-temurun. Karena itu, regenerasi perajin melalui pengenalan keterampilan tatah dan sungging kepada generasi muda penting dilakukan agar kerajinan wayang kulit tetap lestari.























































