Mahasiswa jurusan kedokteran biasanya memiliki jam kuliah yang lebih padat dibandingkan jurusan lain. Sehingga untuk meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi di kedokteran tidaklah mudah.
Akan tetapi, kepadatan kuliah bisa diterjang oleh Aurella Shafa sehingga menghasilkan IPK akhir 3,97. Ia baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Ia sepakat bahwa untuk meraih IPK tinggi di kedokteran tidaklah mudah. Selama kuliah ia dihadapkan dengan kelas materi, praktikum, ujian blok, tutorial hingga kelas skills.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, berbagai tantangan tersebut berhasil dilalui Aurella. Bagaimana cara Aurellia lulus dari kedokteran dengan IPK summa cumlaude?
Tidak Targetkan Dapat Nilai Tinggi
Sebelumnya, ia mengaku tidak pernah menetapkan target nilai yang terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Alih-alih memberikan tekanan untuk selalu mendapatkan nilai sempurna, Aurella memilih menjalani setiap proses perkuliahan dan ujian dengan berusaha semaksimal mungkin.
"Materi yang luas dan kompleks, ditambah tuntutan praktikum, ujian blok, tutorial, skills lab, menuntut saya untuk mampu mengatur waktu dengan lebih baik dan menjaga konsistensi belajar," ungkap Aurella dikutip dari laman Umsura, Rabu (4/11/2026).
Tips Aurella Raih IPK Tinggi
1. Membuat Catatan dengan Bahasa Sendiri
Salah satu kebiasaan belajar yang diterapkan Aurella adalah mencatat materi menggunakan buku tulis. Agar lebih mudah dipahami, ia menyusunnya kembali dengan bahasa sendiri.
Dengan begitu, ia bisa memahami konsep dasar lebih mudah. Menurutnya, kuliah kedokteran bukan sekadar hafalan tetapi juga pemahaman.
Sembunyikan kutipan teks
Membuat catatan dengan bahasa sendiri membuatnya bisa mengetahui alur dan keterkaitan setiap konsep yang dipelajari. Biasanya ia mencatat sembari mendengarkan penjelasan dosen.
2. Belajar pada Dini Hari
Sebagai mahasiswa kedokteran, ia tahu bahwa belajar atau mengerjakan tugas sampai begadang tidak baik untuk kesehatan. Sehingga ia memilih waktu dini hari untuk belajar.
Walau demikian, Aurella tidak memiliki jadwal belajar yang kaku. Ia lebih memilih menyesuaikan waktu belajar dengan kebutuhan dan kondisi tubuhnya.
"Bagi saya, mengatur waktu bukan berarti harus mengisi setiap jam dengan selalu belajar, tetapi mengetahui kapan harus fokus dan kapan harus memberikan waktu untuk diri sendiri," tuturnya.
3. Belajar Materi secara Mandiri
Dalam memahami materi, Aurella lebih nyaman mempelajarinya secara mandiri materi yang ia dapat. Hal ini harus ia lakukan terlebih dahulu sebelum berdiskusi bersama teman.
Menurutnya, belajar mandiri memberikan kesempatan untuk memahami materi sesuai dengan gaya belajarnya sendiri. Setelah itu, ia baru bisa berdiskusi sekaligus mengklarifikasi hal-hal yang belum dimengerti.
Strategi tersebut juga membantunya menghadapi salah satu tantangan akademik paling berat selama kuliah, yakni exit exam sebelum memasuki pendidikan profesi dokter.
Ujian tersebut mengharuskannya mengintegrasikan kembali materi dari puluhan blok yang telah dipelajari selama empat tahun pendidikan preklinik.
4. Mengatur Prioritas
Aurella bukanlah mahasiswa kutu buku. Ia cukup aktif mengikuti organisasi seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Selain itu, ia juga sering mengikuti perlombaan.
Aurella sadar bahwa tuntutan akademiknya di kedokteran tidak mudah. Dengan begitu, ia selalu berusaha mengatur prioritas.
5. Minta Doa Orang Tua
Aurella tidak mau takabur dengan hanya mengandalkan usahanya. Ia senantiasa meminta doa kepada orang tua.
Aurella bersyukur, orang tuanya tidak pernah menuntut dirinya untuk selalu mendapatkan nilai sempurna. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan kesehatan, kebahagiaan, dan proses pendidikan yang dijalaninya.
Siap Melanjutkan Pendidikan Profesi Dokter
Setelah lulus, Aurella akan menjalani pendidikan profesi dokter. Ia berharap bisa menjalaninya secara maksimal.
Walau ia lulus dengan IPK tertinggi, tapi menurutnya nilai tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa kedokteran. Aurella memandang lulusan kedokteran berhasil jika ia memahami dengan baik ilmunya dan dapat mengimplementasikannya saat menjadi dokter.
"Tidak harus mendapatkan nilai sempurna untuk membuktikan bahwa kita mampu. Setiap orang memiliki proses dan jalan masing-masing. Do your part, trust the process, dan serahkan hasilnya kepada Allah," pesannya.






























































