Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi dan anak di bawah lima tahun (balita). Menggunakan masker sebagai pelindung utama sering kali bukan solusi praktis bagi usia anak-anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Khairiyadi Ismail, SpA, Subsp Respi(K), menyoroti bahwa balita kerap merasa tidak nyaman dan menolak saat dipasangkan masker.
"Kalau anak 2 tahun mungkin dipakaikan masker pun, ya dia akan melepas. Sudah ada penelitiannya itu, yang paling lama 60 menit sampai 2 jam, paling lama," kata dr Khairiyadi saat konferensi pers, Selasa (3/11/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Durasi penggunaan yang sangat singkat tersebut membuat perlindungan masker menjadi kurang optimal, dalam membentengi saluran pernapasan balita dari bahaya partikel halus asap karhutla.
Solusi Mengungsi dan 'Rumah Aman'
Melihat keterbatasan penggunaan masker pada balita, dr Khairiyadi menilai tindakan meminimalkan paparan asap secara langsung adalah langkah mendesak. Salah satu cara paling efektif yang direkomendasikan adalah mengevakuasi balita dan kelompok berisiko ke lingkungan yang terkontrol.
"Saya sering menyarankan untuk mengungsi ke tempat yang aman. Makanya penting sekali ada mungkin tempat pengungsian, istilahnya mungkin rumah aman (safe house), untuk pasien-pasien yang mempunyai komorbid atau mempunyai faktor risiko," jelasnya.
Menurutnya, ketersediaan fasilitas pengungsian atau rumah aman yang dilengkapi dengan sistem penyaring udara memadai menjadi kebutuhan mendesak. Terlebih bencana asap akibat karhutla merupakan masalah tahunan yang terus berulang.
"Itu mungkin jadi tantangan kita, karena karhutla ini terjadi berulang ya, jadi harus dipikirkan itu untuk rumah aman," pungkas dr Khairiyadi.
Keberadaan rumah aman ini diharapkan mampu melindungi kelompok berisiko tinggi, khususnya balita dan anak dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti asma, dari ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia akibat asap karhutla.

























































