Usia bangunan Museum Sumpah Pemuda sudah lebih dari 1 abad sehingga perawatannya nggak bisa asal-asalan. Bahkan lantainya dahulu hanya bisa dibersihkan dengan ampas kelapa.
Ampas kelapa adalah sisa buah kelapa yang sudah dihaluskan setelah sari atau santannya diambil. Teksturnya seperti kertas basah yang diremukkan.
Alasan ampas kelapa dipakai karena jenisnya semi batako. Terbuat dari semen dan dan pasir. Pemakaian larutan kimia tidak diperbolehkan karena bisa merusak permukaannya. Sementara itu, ampas kelapa aman untuk minyak pelindung yang ada di ubin tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cara membersihkannya yang paling mahal adalah ampas kelapa. Tahun 70-an, orang yang punya rumah ini lebih suka ketika Idul fitri membeli ampas kelapa dibanding beli emas. Karena untuk membersihkan lantai ini harus pakai ampas kelapa," kata Koordinator Museum Sumpah Pemuda Fathul Futuh Tamam, di Museum Sumpah Pemuda, Jumat (23/10/2026).
Fathul mengatakan saat ini tidak wajib membersihkan dengan ampas kelapa. Sekarang bisa memakai kain pel biasa dan mesin polis. Cara ini jauh lebih mudah dan tetap aman untuk ubin. Selain itu, lantai harus rutin dibersihkan atau minimal disiram air dua hari sekali untuk mencegah permukaannya retak.
"Sekarang gampang. Kita pel biasa kain basah. Biasanya kalau misalkan lagi iseng, cari di pasar ampas kelapa. Kita pakai mesin polis. Lebih gampang," jelasnya.
Kemudian, jenis ubin yang dipakai pada masa itu ternyata bisa menunjukkan status sosial pemiliknya. Fathul mengatakan dulu tidak setiap rumah bisa memakai ubin bercorak dan berwarna. Hanya kalangan atas yang bisa.
"Ketika dia berwarna, berarti strata ekonominya (tinggi) atau dia punya jabatan. Ada rumah sama seperti ini, banyak rumah seperti ini, tapi lantainya biasa. Tapi kalau dia ada motif, selain kaya, dia pejabat. Jadi lantai itu menentukan strata sosialnya," terangnya.
Bangunan Museum Sumpah Pemuda sendiri dulunya adalah hunian biasa. Sempat dipakai oleh orang Belanda semasa penjajahan sebelum akhirnya dibeli oleh keluarga Sie Kong Lian yang merupakan pengusaha kapas.
Selain itu, pernah menjadi kos-kosan selama 14 tahun (1920-1934). Penyewanya adalah mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran dan Rechtschoogeschool atau sekolah hukum.
Rumah tersebut juga pernah dihuni oleh Direktur Rumah Sakit Belanda atau Groot Militair Hospitaal Weltevreden yang sekarang dikenal RS Gatot Soebroto.
Museum Sumpah Pemuda di Jakarta Pusat menyimpan berbagai koleksi yang merekam perjalanan sejarah pergerakan pemuda Indonesia. Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, pengunjung dapat melihat dokumentasi sejarah hingga instalasi digital interaktif di museum tersebut, Jumat (23/10/2026).Bangunan bersejarah dengan atap genteng merah dan pilar-pilar putih di bagian depan itu menjadi saksi perjalanan lahirnya ikrar persatuan bangsa. Di sepanjang teras depan, deretan patung dada perunggu yang merepresentasikan sejumlah tokoh pergerakan pemuda tertata rapi. Foto: Muhammad Azzam / detikfoto |
Fathul mengatakan bangunan Museum Sumpah Pemuda 99 persen masih sama dengan bentuk awalnya. Hal yang berubah adalah beberapa bagian genteng ada yang ditambahkan agar lebih aman bagi pengunjung.
"99 persen ini masih asli. Yang nggak asli, satu dengan sebagian genteng. Selebihnya masih asli. Lantai, plafonnya masih asli. Kalau ngikutin aslinya, dia kelihatan per lembarnya. Lalu kita tutup dengan gipsum, semen, supaya tidak ada kotoran yang jatuh ke pengunjung. Aslinya kan kelihatan per lembarnya," ungkapnya.
Arsitekturnya khas bangunan Belanda, yakni Indische. Arsitektur ini cukup banyak ditemukan di Indonesia pada masa itu. Bentuknya identik dengan fasad berpilar. Lalu, plafonnya sendiri cukup tinggi hampir 7 meter.
Bangunan yang berada di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat ini memiliki luas 343 meter persegi dengan dua paviliun masing-masing 54 meter persegi. Sementara itu, lahan 1.284 meter persegi.
(aqi/das)





























































