Sejumlah desa di Aceh Tenggara dan Gayo Lues terendam banjir luapan. Banjir di Aceh Tenggara meluas akibat jebolnya tanggul sungai.
Banjir di Aceh Tenggara sudah merendam beberapa desa sejak Jumat (9/10) malam setelah kawasan itu diguyur hujan lebat. Hujan menyebabkan peningkatan debit air Sungai Lawe Bulan yang signifikan.
Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara Dodi Sukmariga Tajmal, mengatakan, peningkatan debit dan tekanan arus mengakibatkan tanggul Sungai Lawe Bulan jebol di wilayah Desa Pulonas Baru. Hal itu menyebabkan sungai meluap sehingga berdampak terhadap permukiman warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanggul penahan tebing sungai Lawe Bulan/Lawe Kisam jebol sepanjang lebih kurang 50 m berlokasi di Desa Lawe Kihing. Tanggul itu sudah ditutup namun jebol lagi karena hujan yang turun dalam waktu lama," kata Dodi saat dimintai konfirmasi detikSumut, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, banjir saat ini merendam sembilan desa di empat kecamatan. Berdasarkan data sementara, korban terdampak banjir 350 KK atau sekitar 1.387 jiwa.
Selain rumah warga, banjir juga merendam lahan pertanian dan jagung milik masyarakat di wilayah Kecamatan Bambel seluas 75 hektare. Dodi menyebutkan, akses jalan nasional Kutacane-Medan persisnya Desa Bambel Gabungan-Terutung Mehara Asli terendam banjir setinggi 30-50 sentimeter.
"Gudang logistik BPBD dan Fasilitas SMPIT Al Khansa juga tergenang banjir," jelasnya.
Saat ini sejumlah alat berat dari BWS Sumatera I dan BPBD setempat melakukan pengerukan dan normalisasi sungai serta menutup tanggul yang jebol. Tim gabungan juga mendirikan tenda untuk warga yang mengungsi.
"Pemasangan sandbag di lokasi tanggul jebol di Sungai Lawe Bulan/Lawe Kisam Desa Lawe Kihing," ujarnya.
Sementara di Gayo Lues terjadi banjir dan longsor di sejumlah desa. Kejadian tersebut mengakibatkan jalan nasional lintas Blangkejeren-Takengon sempat ditutup sementara namun kini sudah dapat dilalui kembali.
"Kondisi terakhir Desa Ketukah tidak dapat dilalui roda empat dikarenakan luas jalan yang tersisa sangat sempit," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Bahron Bakti dalam keterangannya.



























































