Kematian merupakan satu-satunya hal yang pasti dialami oleh setiap manusia. Namun, apa yang terjadi pada otak setelah kematian?
Selama beberapa dekade, manusia mengandalkan kesaksian dari orang-orang yang pernah mendekati kematian (near-death experiences) untuk mencari petunjuk. Sebagian orang menceritakan adanya cahaya putih yang terang benderang, yang lain mengenang perasaan damai yang luar biasa, sementara banyak pula yang mengaku tidak melihat apa pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi tentang kematian dianggap mustahil untuk dibuktikan. Hingga sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Aging Neuroscience menangkap sesuatu yang luar biasa.
Bukan Riset Kematian
Uniknya, studi tersebut awalnya bukan sebuah studi. Tim ahli saraf sebenarnya sedang memeriksa EEG rutin seorang pria Kanada berusia 87 tahun yang menderita epilepsi. Tujuan awal pemindaian ini adalah untuk memantau aktivitas otaknya guna memahami kondisi kejang yang dialaminya. Namun, di tengah proses perekaman, pasien tersebut tiba-tiba mengalami serangan jantung.
"Setelah berdiskusi dengan keluarga pasien dan mempertimbangkan status *Do-Not-Resuscitate* (DNR), permintaan untuk tidak melakukan tindakan resusitasi, maka tidak ada perawatan lebih lanjut yang diberikan, dan pasien pun meninggal dunia," jelas para penulis studi tersebut dalam Psychology Today, dikutip Kamis (5/11/2026).
Secara keseluruhan, tim peneliti berhasil merekam aktivitas otak selama kurang lebih 15 menit, menjelang, saat, dan sesaat setelah kematian pasien. Peristiwa langka yang terjadi secara kebetulan ini memungkinkan para peneliti untuk mengamati secara langsung apa yang terjadi pada otak saat organ tersebut berhenti berfungsi.
Ada Aktivitas Otak Setelah Kematian
Tepat pada 30 detik sebelum dan sesudah jantung pasien berhenti berdetak, terjadi sesuatu yang fenomenal.
"Tepat sebelum dan sesudah jantung berhenti berfungsi, kami mengamati perubahan pada pita osilasi saraf tertentu," ujar Dr. Ajmal Zemmar, salah satu ahli bedah saraf terkemuka dalam studi tersebut.
EEG mencatat lonjakan abnormal pada gelombang gamma. Ini merupakan gelombang dengan frekuensi tertinggi di antara semua gelombang otak, yang utamanya muncul di dalam hipokampus (pusat memori di otak). Biasanya, osilasi ini dikaitkan dengan proses pemanggilan kembali ingatan, bermimpi, dan meditasi mendalam.
Lonjakan aktivitas gelombang gamma, bersamaan dengan osilasi lain seperti delta, theta, alfa, dan beta, membentuk pola gelombang otak yang sangat mirip dengan pola yang terlihat saat seseorang sedang mengingat sesuatu secara mendalam atau mengalami mimpi yang sangat nyata.
"Dengan menghasilkan osilasi yang terlibat dalam pemanggilan kembali ingatan, otak mungkin sedang melakukan kilas balik terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam hidup tepat sebelum kita meninggal," ujarZemmar.
Tikus Juga Alami Rekaman Hidup Sebelum Mati
Dalam sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti menemukan tikus juga mengalami fenomena serupa. Tikus yang sedang sekarat juga mengalami peningkatan tajam pada osilasi gamma tepat sebelum kematiannya.
Mengingat adanya kesamaan lintas spesies ini, Zemmar dan rekan-rekannya mengajukan gagasan bahwa mamalia mungkin menghabiskan saat-saat terakhir mereka dalam lamunan mental yang mendalam.






























































