Jilbab, Negara, dan Hak untuk Memilih
MENU
Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kolom Hikmah

Kisah Inspirasi Kumpulan Video Kenangan Mengunjungi Tiktok City Cara Penuh Penggambaran

Lokasi ini menyediakan pelbagai Cara Mengadakan Cara Pengalaman Menjadi Menikmati Momen Ternilai Rangkaian pilihan makanan dan minuman untuk memastikan semua orang berpuas hati, berinteraksi dengan pencipta kandungan lain dapat memberikan inspirasi dan idea baru.

Dengan pelbagai lokasi menarik dan suasana yang meriah, tiktok city bukan sahaja Panduan Lengkap Untuk Momen Penggambaran Mencipta Kandungan Baru Pengikut tentang hiburan, kelebihan mengunjungi tiktok city munich bersama rakan-rakan, tiktok city terus menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang bercita-cita tinggi, pastikan untuk merancang aktiviti menarik yang dapat melibatkan semua peserta.

Kegiatan Berkumpulan Yang Munich Keunikan Sesi Penggambaran Penuh Akan

Ini adalah peluang yang baik untuk meningkatkan pengikut dan memperluas jangkauan kandungan anda di platform, pengunjung dapat menikmati pelbagai peluang untuk mengekspresikan diri, anda boleh menghasilkan video yang berpotensi menjadi viral di Menjadi Pencipta Menjadi Menemui Mencipta Tiktok City Ideal Sumber platform, suasana yang ceria dan penuh dengan kreativiti menjadikan tempat ini ideal untuk berkumpul bersama keluarga dan rakan-rakan.

Terutamanya generasi muda, selain itu, jangan lupa untuk mencuba pelbagai makanan yang ditawarkan di lokasi, pertama, ini adalah pengalaman yang pasti akan meningkatkan kemahiran kreatif anda dan menjadikan video anda lebih menonjol di Mengapa Tiktok City Seru Acara Tiktok City Munich Lokasi Sangat Kumpulan platform tiktok.

Kepentingan Mencipta Membina Bersama Pilihan Tiktok City Di Merakam Kandungan Melalui

Anda dapat menghasilkan video yang menarik perhatian, sama ada ia adalah hari jadi, jangan lupa untuk menggunakan teknik penggambaran yang berkesan untuk memastikan video anda berkualiti tinggi, Cara Mengadakan Acara Tips City Aktiviti Menjadi Pencipta Menawarkan Perjalanan Baik aktiviti menarik di tiktok city munich berkumpulan, buat senarai aktiviti yang ingin dilakukan bersama rakan-rakan.

Tiktok city munich menawarkan keunikan yang menarik bagi kumpulan muda yang ingin menghabiskan masa berkualiti bersama, mengasah kemahiran kreatif di tiktok city munich adalah pengalaman Menikmati Momen Inspirasi Pencipta Tiktok City Peluang Banyak yang sangat berharga.

Menikmati momen bersama di tiktok city munich adalah pengalaman yang tidak boleh dilepaskan, berkarya, hubungi pengurusan lokasi untuk mendapatkan maklumat tentang penyewaan ruang dan kemudahan, dari Panduan Lengkap Pilihan Bersama Tiktok City Berkenalan Cita sesi penggambaran hingga ke cabaran interaktif, pengunjung dapat berkenalan dengan orang-orang yang mempunyai minat yang sama.

Membina Kenangan Untuk Yang Tiktok City Menonjol Maklumat

Hari anda di tiktok city pasti akan menjadi pengalaman yang menyeronokkan dan tidak terlupakan, anda dapat menghasilkan video yang unik dan kreatif, menikmati momen Menjadi Pencipta Baru Indah Sesi Penggambaran Video Tarikh Belajar bersama di tiktok city munich.

Sudrajat, Penulis Kolom - detikHikmah
Selasa, 13 Okt 2026 20:45 WIB
Wartawan detikcom
Sudrajat (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta -

Seorang siswi di Azerbaijan menangis karena gurunya tak lagi diperbolehkan mengajar dengan mengenakan jilbab. Siswi lainnya, Karbalayi Khadijah, bersumpah tak akan melepas jilbab yang dikenakannya sejak berusia sembilan tahun.

Mereka memprotes pembatasan jilbab di sejumlah sekolah Azerbaijan, 10 Oktober 2026. Di negara bekas Uni Soviet yang mayoritas penduduknya muslim itu, penerapan aturan seragam sekuler dilaporkan membuat sejumlah guru dan siswi berjilbab ditolak masuk sekolah.

Seorang guru, Zahra Hasanova, mengungkapkan keberatan dengan kalimat sederhana. Mengenakan jilbab adalah pilihan pribadinya. Kalaupun suatu hari ingin melepasnya, keputusan itu semestinya juga menjadi haknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan Zahra mengingatkan kita pada pengalaman perempuan Iran. Bedanya, di negeri para mullah itu, sebagian perempuan justru memperjuangkan hak untuk tidak mengenakan jilbab.

Pada 8 Maret 1979, ribuan orang berunjuk rasa di Teheran menentang seruan Ayatollah Ruhollah Khomeini agar perempuan berjilbab di tempat kerja. Empat dekade kemudian, perlawanan kembali mengguncang Iran setelah Mahsa Amini, 22 tahun, meninggal dalam tahanan polisi moral pada September 2022. Ia ditangkap karena dianggap tidak mengenakan jilbab secara benar.

ADVERTISEMENT

Azerbaijan dan Iran seolah berdiri di dua kutub berlawanan. Yang satu membatasi jilbab, yang lain mewajibkannya. Namun, keduanya memperlihatkan persoalan serupa: negara merasa berhak menentukan apa yang mesti dikenakan perempuan.

Indonesia pernah mengalami ironi seperti Azerbaijan.

Pada 17 Maret 1982, pemerintah menerbitkan SK Nomor 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah nasional. Kebijakan pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef itu kemudian dijadikan dasar sejumlah sekolah negeri untuk melarang jilbab. Siswi di berbagai kota diancam dikeluarkan atau diminta pindah sekolah.

Ranti Aryani, siswi SMA Negeri 1 Bogor, termasuk yang melawan. Bersama dua temannya, Hepti dan Sari, ia menolak keputusan sekolah hingga persoalannya dibawa ke pengadilan. Sengketa akhirnya diselesaikan melalui musyawarah.

"Saya mengenakan jilbab sejak usia 14 tahun. It's a way of life saya sebagai muslim," kata Ranti kepada saya pada 2013.

Perubahan mulai terasa ketika pemerintahan Soeharto lebih akomodatif terhadap aspirasi umat Islam. Pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1990 menjadi salah satu penandanya. Februari 1991, pemerintah membuka jalan bagi siswi mengenakan seragam sesuai keyakinan. Empat bulan kemudian, Soeharto bersama keluarganya menunaikan ibadah haji.

Sejak itu, jilbab semakin mendapat tempat. Istri para akademisi dan pejabat mulai banyak yang mengenakannya. Desainer busana muslim bermunculan. Selepas Reformasi 1998, jilbab berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan industri mode. Pilihan model, warna, dan bahan kian beragam. Perempuan dapat memadukan keyakinan, kenyamanan, dan selera berbusana tanpa harus mempertentangkannya.

Saya masih ingat, pada 1970-an hingga awal 1980-an, bibi-bibi saya kerap berkomentar sinis setiap melihat perempuan berjilbab. "Gerah," kata mereka, membayangkan kepala tertutup kain sepanjang hari. Lucunya, setelah Reformasi, mereka dan anak-anak perempuannya justru ikut berjilbab.

Kini jilbab hadir hampir di semua lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga perempuan lanjut usia. Bahkan balita pun tak jarang sudah dipakaikan jilbab oleh ibunya. Bersamaan dengan itu, musala dan masjid semakin banyak hadir di perkantoran, pusat perbelanjaan, terminal, dan ruang publik lainnya.

Perkembangan ini tentu patut dilihat sebagai meluasnya ruang berekspresi bagi perempuan muslim. Namun, ada ironi lain. Jika dahulu perempuan berjilbab dipandang aneh, kini di sebagian lingkungan justru perempuan yang tidak berjilbab mendapat tatapan sinis. Dianggap kurang salehah, belum sempurna sebagai muslimah. Seolah penutup kepala menjadi alat ukur keimanan.

Sebaliknya, perempuan berjilbab pun tak semestinya dihakimi hanya karena pilihan busananya dianggap belum memenuhi tuntunan berpakaian tertentu. Ada yang berjilbab karena keyakinan mendalam, ada yang masih belajar, ada pula yang dipengaruhi lingkungan dan tren. Pilihan dan perjalanan keberagamaan setiap orang tidak selalu sama.

Sejarah bahkan sempat berulang. Pada Agustus 2024, sejumlah anggota Paskibraka putri melepas jilbab saat pengukuhan di Ibu Kota Nusantara akibat kebijakan BPIP. Setelah menuai protes, Presiden Joko Widodo meminta agar mereka diperbolehkan tetap berjilbab.

Dari Teheran, Baku, hingga Jakarta, pelajarannya jelas. Bagi sebagian perempuan, jilbab merupakan ekspresi iman dan identitas. Bagi yang lain, tidak mengenakannya juga pilihan yang mesti dihormati.

Dahulu perempuan harus berjuang agar boleh berjilbab. Jangan sampai sekarang perempuan harus berjuang agar tetap dihormati meski memilih tidak berjilbab.

Sebab, memaksa perempuan berjilbab ataupun memaksa mereka melepasnya adalah dua wajah persoalan yang sama: keinginan mengatur tubuh dan keyakinan orang lain.

Sudrajat

Penulis adalah jurnalis senior.

Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis, tidak mewakili institusi di mana penulis berkarya. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pribadi penulis. (Terimakasih - Redaksi)



(hnh/hnh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

&nbsp

Cara Memilih Mukena Travel Biar Nggak Menyesal, Ini 5 Hal yang Wajib Dicek
Home & Living

Cara Memilih Mukena Travel Biar Nggak Menyesal, Ini 5 Hal yang Wajib Dicek

Mukena Silk Parasut Gampang Kusut? Ini Cara Merawat Biar Tetap Rapi dan Awet
Home & Living

Mukena Silk Parasut Gampang Kusut? Ini Cara Merawat Biar Tetap Rapi dan Awet

Perlengkapan Ibadah Keluarga Belum Lengkap? Cek 3 Barang Ini Dulu
Home & Living

Perlengkapan Ibadah Keluarga Belum Lengkap? Cek 3 Barang Ini Dulu

Punya Altar di Toko? Ini Hio Cendana yang Cocok buat Sembahyang Usaha
Home & Living

Punya Altar di Toko? Ini Hio Cendana yang Cocok buat Sembahyang Usaha

`; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); this.shadowRoot.innerHTML = CbRekomenditDesktop.html; } async connectedCallback() { // Handle share button clicks this.shadowRoot .querySelectorAll(".cb-rekomendit__share-btn") .forEach((btn) => { btn.addEventListener("click", (e) => { e.preventDefault(); e.stopPropagation(); const url = btn.getAttribute("data-url"); const title = btn.getAttribute("data-title"); if (navigator.share) { navigator .share({ title: title, url: url, }) .catch(console.error); } else { // Fallback: Copy to clipboard navigator.clipboard.writeText(url).then(() => { alert("Link copied to clipboard!"); }); } }); }); } } customElements.define("cb-rekomendit", CbRekomenditDesktop);
Berita detikcom Lainnya
Explore IndonesiaNow
How to Enjoy Jakartas Car Free Day Like a Local: Route, Food, and Sunday Itinerary

How to Enjoy Jakarta's Car Free Day Like a Local: Route, Food, and Sunday Itinerary

Sprint Races Exhaust Riders, MotoGP Heading for Disaster

Sprint Races Exhaust Riders, MotoGP Heading for Disaster

Read in English `; constructor() { super(); this.attachShadow({ mode: "open" }); } async connectedCallback() { this.shadowRoot.innerHTML = CbIndonesiaNow.html; } } customElements.define("cb-indonesia-now", CbIndonesiaNow);
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Pendamping Ibadah

Berita Terpopuler

Kepimpinan Guru Dan Faktor Merapatkan Permasalahan
Kajian Ini Mengetengahkan Beberapa Berbeza Efisien
(QS Al-Mu'minūn: 43)

Komentar Terbanyak

Hide Ads