Di tangan kebanyakan orang, uang Rp17.500 mungkin hanya cukup untuk membeli seporsi makan siang sederhana. Namun bagi Rangga, lembaran rupiah yang tak seberapa itu justru menjadi fondasi awal sebuah imperium kecil bernama Gara Audio. Berbekal tekad yang jauh lebih besar dari modalnya, pemuda ini membuktikan bahwa bisnis bisa tumbuh dari hobi yang ditekuni dengan hati.
Gara Audio bukanlah sekadar toko musik. Ini adalah muara dari kecintaan Rangga terhadap rilisan fisik analog yang ia rintis sejak 2021, sesaat setelah ia menanggalkan seragam putih abu-abunya. Keputusannya terjun ke dunia bisnis bukan tanpa alasan; kondisi ekonomi memaksanya menunda mimpi kuliah, namun justru membukakan pintu untuk mendalami dunia rekaman fisik yang ia cintai.
"Jadi awal mula buka Gara Audio tuh karena waktu lulus SMA niatnya gap year dulu karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, tapi akhirnya langsung terjun ke bisnis ini. Alasannya karena aku mau mendalami apa yang aku suka," ucap Rangga ketika diwawancarai di tokonya belum lama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lima tahun sudah Rangga mengarungi pasang surut industri musik lawas. Ia masih ingat betul bagaimana langkah kakinya pertama kali menyusuri Pasar Astana Anyar dengan modal seadanya. Di sana, keberuntungan mempertemukannya dengan tiga kaset yang kelak mengubah garis hidupnya.
"Tiga kaset kaset yaitu Iwan Fals, Batman, dan Rafika Duri dengan total harga Rp17.500. Setelah itu aku jual tiga kaset tersebut dan hasilnya buat beli vinyl. Jual lagi terus beli kaset lagi. Jual-beli terus sampai akhirnya dapet borongan vinyl dari uang yang Rp17.500 itu," tambahnya.
Toko musik lawas di Bandung Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar |
Perjalanan Rangga tidaklah instan. Sebelum mandiri, ia sempat menimba ilmu dan menitipkan barang dagangannya di sebuah gerai di Pasar Antik Cikapundung. Setelah merasa cukup bekal, ia memberanikan diri membuka gerai sendiri di Jalan Sariwangi Nomor 21D, berbagi ruang dengan dua temannya yang juga merintis usaha berbeda.
Meski lokasinya terbilang tersembunyi, magnet Gara Audio nyatanya mampu menarik pelanggan dari berbagai kalangan. Dari anak SD yang baru mengenal pita kaset hingga para pensiunan yang ingin memutar kembali memori masa muda, semua berkumpul di gerai mungil ini.
"Biasanya mereka beli kaset Indonesia kaset-kaset kayak Chrisye, Fariz RM, Ermy Kulit, Vina Panduwinata. Kalau pensiunan biasanya tuh mereka nostalgia karena mereka sekarang baru punya waktu istirahat sekarang. Nah kebanyakan anak-anak remaja yang masih SMA biasanya cari kaset band-band alternatif," jelas Rangga mengenai selera musik pelanggannya yang beragam.
Stok barang di Gara Audio didapat Rangga dari jaringan sesama kolektor dan teman dekat. Ia juga menerapkan sistem jual-beli serta tukar-tambah bagi mereka yang ingin memperbarui koleksinya. Soal harga, Rangga memegang prinsip keadilan; ia tak ingin mematok harga selangit meski barang yang didapatnya tergolong langka. Kaset dan CD ia lepas mulai harga Rp35.000, sementara piringan hitam atau vinyl dibanderol mulai Rp75.000.
"Emang sebisa mungkin kita jual dengan harga yang terjangkau walaupun barangnya rare. Contohnya mungkin kaset Guruh Gipsy itu agak lumayan sih biasanya mulai dari Rp500 ribu. Tapi kemarin kita kebetulan dapet beberapa keping jadi kita jual di bawah harga pasaran yaitu mulai dari Rp250 ribu sampai Rp400 ribu," tuturnya.
Tak hanya rilisan fisik, Rangga juga menyediakan perangkat pemutarnya dengan harga yang ramah di kantong tanpa mengesampingkan kualitas. Baginya, mendengarkan musik lewat medium analog memberikan kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh layanan streaming digital mana pun.
"Perbandingannya digital platform memang lebih terjangkau karena cukup subscribe dan beli kota. Tapi kekurangannya kualitas suaranya masih kalah bagus dengan vinyl, kaset, dan cd," ungkap Rangga.
Keyakinan Rangga bahwa tren analog tak akan lekang oleh zaman semakin kuat, apalagi melihat banyak musisi masa kini yang kembali merilis karya dalam format fisik. Di akhir perbincangan, pengusaha muda ini menitipkan pesan bagi generasi seusianya yang ingin memulai usaha, jangan terlalu terpaku pada besarnya modal.
"Kalau misalnya mau mulai jualan gak usah mikirin modal, cukup usaha dulu aja dan konsisten dengan apa yang kita mulai. Kalau ada koleksi pribadi yang disuka banget dan ternyata ada yang nyari, jadi belajar buat melepaskan dan dijual aja, sesuai pesan Rasul jangan terlalu terobsesi dengan barang," pungkasnya.
























































