Di tengah biaya hidup yang kian menekan, bertahan hidup tak selalu berarti mencari penghasilan tambahan. Bagi sebagian warga Bandung, bertahan juga berarti mengubah kebiasaan sehari-hari, mulai dari lebih sering membawa bekal dari rumah, beralih ke kendaraan yang dinilai lebih hemat, hingga mengurangi aktivitas di luar rumah demi menekan pengeluaran.
Kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya dilakukan tanpa banyak pertimbangan kini harus dihitung ulang. Makan di luar, mengisi bahan bakar, hingga sekadar pergi untuk berburu kuliner dan menikmati kopi tak lagi sesederhana dulu. Sebab, kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) membuat uang yang dimiliki terasa semakin cepat habis.
Bagi Nur Fidia, perubahan itu salah satunya terlihat dari kebiasaan membawa bekal. Jika sebelumnya ia tak selalu membawa makanan dari rumah, kini bekal menjadi pilihan yang semakin sering diandalkan untuk menghemat pengeluaran di tengah aktivitas sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang-sekarang aja jadi lebih sering karena meras makin mahal kalo makan di luar. Atau minimal ngenyangin perut dari rumah, jadi pas keluar gak keluar banyak uang buat beli makan," kata Fidia, Senin (26/10/2026).
Sebelum lebih sering membawa bekal, Fidia biasanya membeli makanan di warung tegal (warteg). Sekali makan, uang yang harus dikeluarkan berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Jika dilakukan berulang kali, pengeluaran untuk makan bisa menjadi salah satu pos yang cukup membebani keuangan sehari-hari.
Sebaliknya, makanan yang dibawa dari rumah bisa disiapkan dalam porsi lebih banyak. Tak hanya untuk sekali makan, bekal tersebut bahkan bisa mencukupi kebutuhan makan dua hingga tiga kali, sekaligus menjadi camilan.
"Kalau bekal seenggaknya uangnya bisa buat jajan lain. Kalo bekal dari rumah porsinya bisa agak banyak, jadi bisa buat 2-3x kali makan, bisa buat camilan juga," tuturnya.
Keputusan untuk lebih sering membawa bekal bukan tanpa alasan. Fidia merasakan langsung perubahan pengeluaran setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada Juni 2026 lalu.
Dengan mobilitas pekerjaan sehari-hari yang mengharuskannya menggunakan sepeda motor, kenaikan harga BBM ikut mengubah perhitungan pengeluarannya.
"Setelah harga Pertamax naik dari Rp12 ribu ke Rp16 ribu. Biasanya isi bensin full hanya Rp31-32 ribuan, sekarang full Rp50 ribu. Terasa mencekik banget," ujarnya.
Bagi Fidia, mengurangi pengeluaran makan menjadi salah satu cara agar kebutuhan lain tetap terpenuhi. Ia tak ingin aktivitasnya terganggu, tetapi pada saat bersamaan harus mencari cara supaya biaya hidup tidak semakin membengkak.
"Apalagi kerjaan sehari hari mobilitas yang memang harus pakai motor. Jadi mau gak mau putar otak gimana caranya bisa tetap makan enak dan kenyang, ya udah bekal dari rumah adalah kunci. Kalau gak keburu, minimal perut kenyang dulu dari rumah," terangnya.
Dari Motor Listrik hingga Mengurangi Aktivitas di Luar Rumah
Penyesuaian serupa juga dilakukan Dian Hardiana. Namun, caranya berbeda. Selain memperhitungkan pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga, Dian memilih menggunakan sepeda motor listrik untuk mendukung mobilitas keluarga.
Keputusan itu berawal dari kebutuhan mengantar dan menjemput anak sekolah. Dengan istrinya yang juga membutuhkan kendaraan untuk aktivitas tersebut, Dian merasa keluarga memerlukan sepeda motor tambahan.
Daripada terus mengandalkan ojek yang menurutnya membutuhkan biaya lebih besar, ia memutuskan membeli motor listrik. Pilihan tersebut juga dipengaruhi pertimbangan biaya dan efisiensi penggunaan kendaraan.
"Awalnya karena kebutuhan anak mulai sekolah, istri juga harus antar jemput, daripada ojek kan mahal tuh. Harus ada motor lagi. Kebetulan ada uang, mau beli motor bensin yang bekas gak nyampe, jadi beli motor listrik. Pertimbangannya biar efisien pakai motor listrik," kata Dian.
Sebelum menggunakan motor listrik, Dian menghabiskan sekitar Rp100 ribu per minggu untuk membeli Pertamax. Dalam sebulan, pengeluaran untuk bahan bakar sepeda motor matik berbahan bakar bensin itu bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
Kini, ia menggunakan skema sewa baterai untuk motor listriknya. Biaya sewa baterai mencapai Rp200 ribu per bulan, sementara kebutuhan listrik diperkirakan sekitar Rp100 ribu. Total pengeluaran rutinnya pun berada di kisaran Rp300 ribu per bulan.
"Kalau motor biasa belum maintenance ya, sebulan, dua bulan minimal itu buat ganti oli, servis, itu udah pasti habis minimal Rp100 ribuan ganti oli servis. Kalau ini kan free maintenance sebenernya, paling maintenance kampas rem aja, itu pun paling 6 bulan sekali," ujarnya.
Bagi Dian, penghematan tak hanya berkaitan dengan kendaraan. Ia juga mulai mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak memiliki keperluan mendesak.
Sebagai seorang jurnalis, sebelumnya ia kerap pergi untuk mencari informasi atau sekadar menghabiskan waktu di luar rumah, kini aktivitas tersebut lebih selektif dilakukan. Keluar rumah berarti ada biaya tambahan yang perlu disiapkan, mulai dari ongkos perjalanan hingga makan dan minum.
"Kalau biasanya suka hunting keluar kan, cuma sekarang mah mending di rumah aja, yang pasti-pasti aja ketika ada kerjaan keluar. Kalau gak ada mah ya sudahlah mending ngasuh anak aja, belajar atau apalah di rumah," ucap Dian.
"Kalau keluar kalau emang gak ada agenda mah ya sudahlah. Kan kalau keluar harus ada ongkos, harus ada buat makan, ngopi. Mending save uang aja," tambahnya.
Perubahan itu semakin terasa ketika Dian berbelanja kebutuhan bulanan. Ia mengingat, sebelumnya uang Rp400 ribu sudah cukup untuk membeli banyak kebutuhan. Kini, pengeluaran minimal Rp800 ribu pun belum tentu bisa memenuhi semuanya.
"Terlihat dari tiap belanja bulanan ya. Harga pangan semakin naik. Dulu sekali belanja paling Rp400 ribu udah ketutup, udah banyak. Sekarang minimal Rp800 ribu, dua kali lipat, itu pun belum semuanya," tuturnya.
Daya beli uang juga dirasakannya semakin menyusut. Nominal yang sama kini hanya bisa digunakan untuk membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya.
"Sekarang mah Rp100 ribu gak bisa banyak ya, satu dua item udah aja habis kalau sekarang. Kalau dulu mah bisa empat lima item gitu kan, sekarang mah paling dua item," ucapnya.
Perubahan Kebiasaan di Tengah Tekanan Ekonomi
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, menilai perubahan kebiasaan masyarakat tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi secara makro. Kondisi ekonomi yang berubah akan memengaruhi perilaku masyarakat di tingkat rumah tangga, termasuk dalam menentukan pola konsumsi dan mengatur pengeluaran.
Menurut Acuviarta, penyesuaian yang dilakukan masyarakat merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup ketika kondisi ekonomi tidak selalu berjalan sesuai harapan.
"Jadi kalau saya melihat ya In This Economy itu pertama dipengaruhi juga oleh kondisi ekonomi secara makro. Kemudian dia akan mendrive perubahan-perubahan pada perilaku di tingkat mikro, termasuk juga pola konsumsi dan sebagainya. Dari situ saya kira itulah bagian daripada struggle of life, kemampuan untuk bertahan secara hidup," kata Acuviarta.
Tekanan ekonomi juga membuat sebagian orang harus memikirkan sumber penghasilan tambahan. Dalam kondisi ketika satu pekerjaan tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan, masyarakat dituntut mencari peluang lain sepanjang memungkinkan.
"Kaya gig worker aja kan orang bekerja sekarang nggak bisa hanya satu profesi ya. Jadi ya setiap orang harus memiliki satu atau mungkin dua profesi tambahan mungkin ya sepanjang dia bisa. Karena satu profesi misalkan tidak mampu mencukupi daripada kebutuhan," ujarnya.
Acuviarta menjelaskan, perubahan perilaku tersebut juga berkaitan dengan semakin ketatnya persaingan ekonomi dan terbatasnya peluang. Masyarakat tetap dituntut beradaptasi, meski kemampuan setiap orang untuk menghadapi tekanan ekonomi tidak sama.
"Ini berawal dari satu sisi tingkat persaingan dalam ekonomi semakin ketat, peluangnya sangat terbatas, di sisi lain kita dituntut untuk tetap struggle ya. Jadi penyesuaian-penyesuaian itu akan mengartikulasikan ya perubahan habit, perubahan behavior orang gitu," tuturnya.
Ia juga mengaitkan tekanan yang dirasakan masyarakat dengan dinamika global yang dapat merambat hingga ke kehidupan sehari-hari, termasuk melalui perubahan harga BBM dan barang kebutuhan.
"Karena itu secara nyata mempengaruhi pola kehidupan setiap orang pada akhirnya. Jadi langsung tidak langsung orang akan merasakan bahwa ya mungkin terjadi konfliknya Timur Tengah tapi hari ini sampai ke kita harga BBM naik kan, semua barang naik," katanya.
Menurut Acuviarta, dampak perubahan ekonomi terhadap kebiasaan masyarakat turut dipengaruhi kondisi kesejahteraan dan kesenjangan di masing-masing kelompok. Masyarakat dengan kemampuan ekonomi lebih terbatas cenderung memiliki ruang penyesuaian yang berbeda dibandingkan mereka yang lebih sejahtera.
"Tapi kalau kita kan karena disparitasnya mungkin sangat tinggi gitu ya dan sebagainya, itu akan mempengaruhi pola-pola di kelas-kelas masyarakat," pungkasnya.























































