Ruang tengah beralas karpet di Padepokan Al Baathin Al Waliyy Cabang Sukabumi, Kecamatan Ciracap, mendadak berubah menjadi panggung kekerasan fisik. Niat awal para tamu yang datang untuk bersilaturahmi dan bermusyawarah seputar keilmuan batin justru disambut tamparan keras serta pemukulan berulang kali.
Rekaman video amatir berdurasi singkat yang mengabadikan kericuhan itu seketika viral di jagat maya, menyulut amarah warga Pajampangan hingga berujung pada penetapan dua pengurus padepokan sebagai tersangka oleh aparat kepolisian.
Insiden tersebut bermula saat perwakilan masyarakat mendatangi padepokan untuk berdialog secara tenang. Namun, suasana mendadak memanas tatkala korban mulai membuka obrolan mengenai konsep keilmuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukannya menyambut diskusi dengan kepala dingin, pihak padepokan justru menolak berdialog dan menuntut pembuktian fisik secara langsung.
Di tengah perdebatan sengit itu, seorang pria melayangkan tamparan keras ke arah korban yang masih duduk di lantai, disusul serbuan pelaku lain yang melancarkan pemukulan berulang kali hingga suasana menjadi ricuh tak terkendali.
Kasus dugaan penganiayaan yang semula dilaporkan ke Polsek Ciracap itu kini telah ditarik dan ditangani secara penuh oleh jajaran Satreskrim Polres Sukabumi demi menjamin proses hukum yang objektif.
"Kami dari Satreskrim Polres Sukabumi telah menerima pelimpahan terkait laporan polisi yang dibuat di Polsek Ciracap. Tindak lanjut yang kami lakukan, kami sudah melaksanakan klarifikasi terhadap saksi-saksi, kemudian pengamanan terhadap barang bukti," kata Dudi di Mapolres Sukabumi.
Merespons kegaduhan yang meluas, polisi bergerak cepat mengamankan dua pria dari pihak padepokan yang berinisial JMI alias Tabib Jalil dan AY. Tanpa bisa mengelak, keduanya mengakui tindak kekerasan sebagaimana terekam jelas dalam rekaman video amatir.
"Dari hasil pemeriksaan, apa yang terjadi dalam video yang kita lihat di media sosial beberapa waktu lalu diakui oleh yang bersangkutan. Selanjutnya terhadap yang bersangkutan sudah kita tetapkan sebagai tersangka," tegas Dudi.
Dudi membeberkan bahwa titik picu keributan fisik berakar dari kebuntuan musyawarah yang berujung aksi main tangan dari para pengurus padepokan.
"Korban mendatangi padepokan tersebut dan bertemu dengan beberapa orang yang ada di padepokan. Kemudian terjadi musyawarah terkait dengan keilmuan di padepokan tersebut. Namun pada saat itu terjadi perselisihan sehingga mengakibatkan yang pertama, pelaku JMI menampar korban. Terjadi percekcokan lanjutan sehingga pelaku AY langsung menghampiri korban dan terjadi keributan lanjutan," jelasnya.
Kepolisian turut mengunci lokasi tindak pidana penganiayaan tersebut untuk kepentingan penyidikan lanjutan.
"Untuk tempat kejadian perkara itu di Padepokan Al Baathin Al Waliyy Cabang Sukabumi, yang beralamat di Desa, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi," tuturnya.
Di balik insiden tamparan di ruang padepokan, peristiwa ini membuka kotak pandora kekesalan mendalam yang lama dipendam masyarakat kawasan Pajampangan.
Berdasarkan penelusuran di media sosial padepokan maupun kanal pribadi Tabib Jalil Jampang, mereka kerap memamerkan demonstrasi bela diri batin tanpa sentuhan fisik atau ilmu kontak.
Teriakan lantang kata "Rapet!" menjadi ciri khas utama yang dilontarkan sang guru agar penyerang seketika kaku mematung bak semen cor. Istilah lain seperti "Mental!" hingga "Lemes!" juga rutin diproduksi demi meyakinkan warganet atas klaim karomah Sunan Kalijaga.
Aksi teatrikal itu ternyata menyulut keresahan luas di kalangan ulama, santri, dan tokoh masyarakat lokal. Tokoh masyarakat Jampang, Yudi Pratama atau yang karib disapa Si Peci Bereum ti Jampang, mengungkapkan bahwa kedatangan Ustaz Iskandar Abdul Jabar dan rekannya ke lokasi mulanya murni untuk melakukan tabayun atas nama warga yang resah.
"Keresahan warga itu pertama karena perguruan tersebut sering menantang orang lain untuk pembuktian di ruang publik. Dia punya akun Facebook, punya TikTok, selalu menantang dan seolah-olah perguruannya paling benar, ilmu karomah, ilmu laduni, sementara yang lain dianggap jelek," kata Yudi saat dihubungi detikJabar, Selasa (27/10/2026).
Keresahan kian meruncing lantaran ilmu laduni yang sejatinya merupakan anugerah batin justru dikomersialkan menjadi komoditas bisnis dengan mahar bertingkat.
"Masyarakat, khususnya para kiai dan santri resah karena mereka mencatut nama laduni, tapi laduninya bisa dibayar pakai uang. Per tingkatan itu maharnya sampai Rp 1,5 juta. Kalau laduni menurut syariat Islam itu kan anugerah khusus yang Allah berikan kepada orang-orang pilihan, bukan siapa saja boleh asal punya duit," tutur Yudi membeberkan.
Langkah cepat Satreskrim Polres Sukabumi yang langsung menciduk pelaku dinilai menjadi peredam efektif sebelum kemarahan warga meletup menjadi aksi main hakim sendiri.
"Alhamdulillah kami warga masyarakat Jampang sangat mengapresiasi kinerja kepolisian yang luar biasa cepat, belum 1x24 jam pelaku sudah diamankan ke polres. Polisi sangat cepat tanggap dan situasional melihat masyarakat memang sudah sangat geram," pungkas Yudi.
Sebelum digelandang ke sel tahanan Mapolres Sukabumi, Tabib Jalil sempat menyiarkan video klarifikasi berdurasi lebih dari 11 menit di media sosial. Mengenakan kemeja abu-abu dengan balutan sorban hijau di kepala, ia berdalih bahwa polemik yang mendera tempatnya dipicu rasa iri atas perkembangan perguruannya.
"Dengan besarnya perguruan Al Baathin Al Waliyy Indonesia yang semakin tinggi, derajatnya sudah tinggi, murid-muridnya sudah banyak, banyak yang merongrong. Ada seseorang ataupun sekelompok yang ingin berusaha menghancurkan citra wibawa perguruan," dalih Jalil dalam rekaman tersebut.
Sembari menunjukkan tangkapan layar komentar Facebook, Jalil menampik tudingan bahwa ia kerap menantang pihak luar di ruang digital.
"Al Fakir tidak pernah menantang kepada perorangan atau kelompok atau perguruan yang lain, apalagi menantang ulama atau kiai. Terkecuali mereka datang ke sini sesuai aturan yang sudah baku di perguruan," ujarnya.
Ia menuding komentar akun milik Iskandar Abdul Jabar dan profil Peci Merah di medsos sebagai provokasi agar ada pihak yang datang menjadi tester pembuktian ilmu bela diri batin.
"Kalau mereka jual, kami borong. Berarti dia sudah siap jadi tester, berarti sudah siap dengan segala risikonya. Jadi segala sesuatu itu juga ada sebab akibat," tegas Jalil membela diri.
Jalil bahkan meluapkan kekesalannya terhadap figur tamu yang datang ke padepokan dan mengeklaim ada upaya penggiringan opini yang mencatut ormas keagamaan.
"Mereka ini mem-framing, perorangan dibawa ke golongan, mengatasnamakan Aswaja, ulama, kiai. Justru harus saya pertanyakan, masa seorang ulama, kiai, seustaz-ustaz menantang perguruan orang lain menjadi tester? Itu preman itu kalau begitu mah, bukan ustaz. Ini ulama yang menghasut ini harus diberhentikan dari keulamaannya," ucapnya.























































