Kasus pembunuhan oleh Dwi Bagus Martono (40) pria asal Madiun kepada istri sirinya, DH (30) dan anak tirinya AGF (4). Cemburu diduga menjadi alasan mengapa DBM tega menghabisi nyawa dua orang tersebut.
Rasa cemburu kerap dianggap sebagai hal yang wajar dalam hubungan asmara. Namun, ketika kecemburuan berubah menjadi perilaku mengontrol, mengancam, hingga melakukan kekerasan terhadap pasangan, situasi tersebut perlu diwaspadai.
Psikolog forensik Kasandra Putranto mengatakan kecemburuan dalam hubungan ini seharusnya ada derajatnya, sehingga bisa dibedakan mana yang wajar dan mana yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang ada kecemburuan yang normal. Kadang kan kita juga pengin kan dicemburuin sama pasangan, kalau dicuekin kan kayak kurang merasa romantisme. Tetapi tentu ada batasnya," kata Kasandra dalam acara detikPagi, dikutip Kamis (29/10/2026).
"Melewati batas tersebut, ketika sudah ada pengendalian, pengekangan, membuat seseorang merasa tidak nyaman, apalagi ketika ada ancaman dan kekerasan, tentu itu akan menjadi prediksi bahwa perilaku tersebut akan bertambah dan bisa jadi fatal di suatu hari," sambungnya.
Kasandra menambahkan bahwa di sinilah pentingnya edukasi terkait kecemburuan dalam hubungan percintaan.
"Mencari cinta boleh, mencari romantisme boleh. Tapi kalau sudah ada pada titik yang sudah membahayakan, tentu harus sudah bisa menyelamatkan diri. Jangan sampai terjerat dalam sebuah hubungan yang mengandung kekerasan," katanya.
Kadang dalam hubungan yang terlihat romantis, baik, dan normal bisa saja terselip kekerasan yang menurut Kasandra sulit untuk dilihat orang lain.
"Padahal ada kekerasan tersebut. Itu juga salah satu tugas psikolog forensik untuk menggali apakah ada riwayat kekerasan sebelumnya. Karena umumnya memang ada kekerasan terhadap pasangan, orang, teman, keluarga," katanya.

























































