Banyak masyarakat di beberapa wilayah masih berjuang "melawan" kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam kondisi ini, oksigen nasal kanul disebut jadi alternatif untuk mengurangi dampak paparan, tapi benarkah seefektif itu?
Sebagai informasi, oksigen nasal kanul adalah alat medis berupa selang plastik ringan yang dilengkapi dua cabang kecil (prong) yang dimasukkan ke dalam lubang hidung untuk menyalurkan tambahan oksigen ke dalam tubuh.
Dokter Penyakit Dalam subspesialis Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH mengatakan belum ada bukti ilmiah yang mendukung pemberian oksigen nasal kanul secara rutin terhadap pengurangan dampak buruk asap karhutla.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara medis, pemberian oksigen memang bermanfaat bagi pasien yang mengalami kekurangan oksigen dalam darah atau hipoksemia," kata Prof Ari dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
"Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang memadai untuk mendukung pemberian oksigen melalui nasal kanul secara rutin sebagai upaya pencegahan atau pengobatan dampak paparan PM2.5 pada individu dengan saturasi oksigen normal," lanjutnya.
Prof Ari menambahkan bahwa partikel PM2.5 ini memiliki ukuran yang sangat kecil, sehingga dapat masuk ke alveolus paru.
"Paparan partikel ini dapat memicu stres oksidatif, peradangan saluran napas, gangguan fungsi paru, serta respons inflamasi sistemik yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular," katanya.
Pemberian oksigen tambahan tidak dapat menghilangkan partikel PM2.5 yang telah masuk ke saluran pernapasan. Oksigen juga tidak secara langsung menetralisasi zat toksik maupun menghentikan proses inflamasi yang dipicu oleh partikel tersebut.
"Oleh karena itu, pada individu dengan kadar oksigen darah yang masih normal, pemberian oksigen tambahan tidak terbukti memberikan perlindungan terhadap kerusakan paru akibat paparan asap," tambahnya.
Namun, lanjut Prof Ari, pemberian oksigen tetap memiliki peran penting pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap kebakaran. Pasien dengan hipoksemia, gangguan pertukaran gas, atau cedera inhalasi berat mungkin membutuhkan suplementasi oksigen sesuai kondisi klinis.
"Pada kasus keracunan karbon monoksida, pemberian oksigen konsentrasi tinggi merupakan bagian penting dari terapi. Namun, kondisi ini berbeda dengan paparan PM2.5 pada masyarakat yang masih memiliki saturasi oksigen normal," katanya.
Upaya yang paling efektif untuk mengurangi dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan adalah membatasi paparan terhadap polutan.
"Masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk, menggunakan masker respirator N95 yang terpasang dengan baik apabila harus beraktivitas di luar rumah, serta menjaga kualitas udara dalam ruangan dengan sistem filtrasi udara yang memadai," tutupnya.

























































