Peta yang mengkhawatirkan dari Climate Impact Lab menunjukkan Super El Nino akan menyebabkan kematian akibat panas tambahan terbanyak seiring dengan meningkatnya anomali cuaca di Pasifik.
Menurut peta apokaliptik yang disebut El Nino Heat Mortality Tracker, lebih dari 373 ribu kematian tambahan (additional deaths) akan terjadi Oktober 2026 hingga Maret 2026, dengan Nigeria, India, dan Brasil menyumbang sepertiga dari jumlah korban jiwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini terjadi karena sistem cuaca anomali yang diukur berdasarkan suhu permukaan laut, menyebabkan suhu air di wilayah Nino 3.4 di Pasifik Timur-Tengah mencapai 3,4 derajat Celcius lebih hangat dari biasanya untuk pekan tanggal 18-24 Oktober.
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), fenomena ini dapat menyebabkan suhu melonjak hingga lebih dari enam kali lipat suhu El Nino biasa antara bulan November dan Januari.
Untuk menentukan seberapa dahsyat dampaknya, tim tersebut memperkirakan jumlah kematian akibat panas tambahan yang disebabkan oleh El Nino saat ini dibandingkan dengan kondisi rata-rata dari tahun 1996 hingga 2005. Studi ini mencakup sekitar 3.700 wilayah di seluruh dunia dan diperbarui setiap bulan dengan perkiraan untuk enam bulan ke depan.
Berdasarkan peta tersebut, El Nino akan menyebabkan 857.400 kematian tambahan akibat panas sejak awal fenomena ini pada Juni 2026 hingga Maret 2027, lebih dari 350 ribu lebih tinggi dari proyeksi para ilmuwan sebulan yang lalu.
Dari total sembilan bulan tersebut, lebih dari setengahnya diperkirakan akan terjadi dalam enam bulan ke depan. Nigeria diprediksi akan menanggung dampak terberat dari hawa panas ini, dengan lebih dari 56 ribu korban jiwa akibat panas selama periode waktu tersebut.
Foto: Climate Impact Lab |
Menurut model tersebut, India berada di urutan berikutnya, dengan perkiraan 55.200 orang berisiko. Melengkapi lima besar adalah Indonesia (29.300), Brasil (19.500), dan Sudan (14.700).
Dengan menggunakan peta ini, para peneliti akan dapat memperkirakan di mana fenomena tersebut paling parah dan bagaimana pemerintah dapat merespons untuk mengurangi dampaknya.
"Penelitian kami memanfaatkan kemampuan peramalan baru untuk menjawab salah satu pertanyaan paling mendesak yang kita hadapi, di mana panas ekstrem kemungkinan akan merenggut nyawa?" kata Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan Milton Friedman Distinguished Service Professor in Economics di Chicago University, dikutip dari New York Post.
"Kemampuan untuk mengantisipasi dampak mematikan dari panas ekstrem merupakan langkah maju yang besar. Ini berarti kita dapat mengidentifikasi di mana orang menghadapi risiko terbesar dan memberi para pembuat keputusan kesempatan untuk bertindak sebelum nyawa melayang," tambahnya.
Para peneliti memperkirakan bahwa El Nino telah menyebabkan 484.500 kematian tambahan sejak Juni. Beberapa dampak berantai yang ditimbulkan antara lain kebakaran hutan di Indonesia, kurangnya curah hujan monsun yang sangat penting di India, dan kekeringan di Amerika Tengah.
















































