Industri perhotelan Thailand mulai mengalami penurunan. Selama 9 bulan saja sudah ada 148 hotel yang tutup.
Data tersebut disampaikan Kasikorn Research Center (KResearch), lembaga riset ekonomi yang berbasis di Bangkok, sebagaimana diberitakan The Nation Thailand dan VnExpress International pada 26-28 Oktober 2026. Penutupan ini meningkat 42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemulihan pariwisata yang berjalan lambat, persaingan antar penginapan semakin ketat, dan biaya operasional terus membebani pengelola menjadi kendala utama dalam industri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada periode yang sama, jumlah bisnis hotel dan akomodasi baru yang terdaftar justru menurun. Thailand mencatat 779 pendaftaran usaha baru, turun 31,2% dibandingkan Januari-September 2025.
Meski demikian, jumlah tersebut masih lebih tinggi daripada periode yang sama pada 2024. Perlu diperhatikan bahwa angka 148 merujuk pada bisnis yang terdaftar menghentikan kegiatan usahanya, bukan otomatis berarti terdapat 148 bangunan hotel yang tutup permanen.
Data pendaftaran usaha tidak selalu menggambarkan secara langsung jumlah properti atau kamar yang benar-benar berhenti beroperasi.
Salah satu persoalan utama adalah ketidakseimbangan antara kapasitas akomodasi dan permintaan wisatawan. Tingkat hunian hotel nasional Thailand hanya meningkat 0,18% secara tahunan selama sembilan bulan pertama 2026. Bahkan, 19 provinsi mengalami penurunan tingkat hunian.
Pada saat yang sama, jumlah kamar hotel dan akomodasi mencapai sekitar 876.000 kamar pada paruh pertama 2026, naik 11,7% dibandingkan 2019. Artinya, kapasitas penginapan telah berkembang lebih cepat daripada pemulihan jumlah tamu yang menginap.
Persaingan juga datang dari akomodasi alternatif, seperti unit sewa jangka pendek yang dipasarkan melalui platform digital. Data AirDNA yang dikutip dalam laporan The Nation Thailand menunjukkan terdapat sekitar 50.000 unit sewa di Bangkok, Phuket, Chonburi, Chiang Mai, dan Surat Thani pada Oktober 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10% kamar hotel dan akomodasi terdaftar di pasar-pasar tersebut.
Ketika semakin banyak pilihan tersedia, pengelola hotel harus bersaing melalui harga, fasilitas, dan pengalaman menginap. KResearch memperkirakan tarif kamar harian rata-rata akan turun sekitar 0,8% pada 2026, setelah hanya naik 0,1% pada 2025.
KResearch memperkirakan Thailand akan menerima sekitar 31,4 juta pengunjung asing sepanjang 2026, turun 4% dibandingkan 2025. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 79% dari tingkat kedatangan pada 2019, sebelum pandemi COVID-19.
Dalam sembilan bulan pertama 2026, Thailand menerima sekitar 23,4 juta wisatawan asing, turun 3,88% secara tahunan. Pemerintah sebelumnya menargetkan 33 juta kedatangan wisatawan asing hingga akhir tahun, sehingga pencapaian target tersebut bergantung pada perkembangan perjalanan selama sisa tahun ini.
KResearch mengaitkan pemulihan yang lambat dengan sejumlah faktor, seperti persaingan dari destinasi lain, kondisi ekonomi yang melemah di negara asal wisatawan, kekhawatiran mengenai keamanan, dan ketegangan geopolitik.
Persaingan regional semakin terasa karena negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam memperluas konektivitas penerbangan serta melakukan penyesuaian kebijakan visa untuk menarik pengunjung internasional.
Di Thailand, pemerintah telah merevisi sejumlah skema pembebasan visa dan Visa on Arrival yang mulai berlaku pada 15 September 2026, dengan alasan antara lain keamanan nasional, kepentingan pariwisata, dan kemudahan perjalanan.
KResearch memperingatkan bahwa 2027 masih akan menjadi periode penuh tantangan bagi bisnis hotel dan akomodasi. Pengelola dengan dana terbatas akan lebih sulit bertahan jika tingkat hunian tetap lemah, pasokan kamar terus bertambah, dan biaya operasional meningkat.


























































