Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyusuri Kali Angke untuk melihat langsung kondisi aliran air serta penanganan potensi banjir. Perahu yang ditumpanginya mogok berkali-kali.
Berdasarkan pantauan detikcom, Jumat (30/10/2026), penyusuran dimulai dari titik Kali Angke di kawasan Pedurenan, Karang Tengah, Kota Tangerang. Perjalanan dimulai sekitar pukul 15.40 WIB, tak lama setelah Dody naik ke atas perahu karet.
Peninjauan lapangan ini didampingi oleh Gubernur Banten Andra Soni, Walikota Tangerang Sachrudin, Wakil Ketua DPRD Tangerang Selatan Maria Teresa Suhardja, dan jajaran pejabat Kementerian PU serta petugas lapangan lainnya yang memantau alur air, tanggul, serta kondisi vegetasi di sepanjang bantaran Kali Angke.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelusuran tersebut, perahu rombongan melintasi beberapa titik aliran sungai yang dikelilingi gundukan tanah dan tanaman rimbun dengan pemukiman warga di sekitarnya.
Namun selama perjalanan, sejumlah perahu karet termasuk yang digunakan Dody beberapa kali mogok karena baling-baling mesin terlilit sampah yang menggenang atau berada di dasar kali. Kondisi ini juga sempat terjadi pada perahu karet yang digunakan detikcom bersama rombongan media lainnya.
Tak jarang juga baling-baling perahu karet yang digunakan tersentak ke dasar kali. Kondisi ini menunjukkan kalau Kali Angke saat ini sudah cukup dangkal.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo Foto: Ignacio Geordy Oswaldo |
Setelah menempuh perjalanan sekitar 27 menit, rombongan sempat menepi sejenak di titik Kali Angke sekitar kawasan Pondok Bahar, Karang Tengah, Kota Tangerang, untuk Dody beserta rombongan berinteraksi sejenak dengan warga.
Kemudian perjalanan dilanjutkan hingga ke kawasan Kembangan, Jakarta Barat sekitar pukul 16.53 WIB. Namun dari Pondok Bahar sampai ke titik dekat Bendungan Polor ini, perjalanan terasa lebih sulit karena rata-rata jalur sungai yang dilewati lebih dangkal dari sebelumnya.
Kondisi ini membuat perahu karet sedikit kesulitan untuk bergerak karena baling-baling mesin sering tersentak. Sehingga tak jarang perahu yang digunakan lebih banyak mengandalkan aliran air alami untuk terus bergerak maju.
Langkah penyisiran ini dilakukan untuk mengidentifikasi titik-titik penyempitan aliran air, pendangkalan, maupun potensi hambatan lain guna merumuskan langkah penanganan infrastruktur air yang lebih efektif ke depan.
(igo/fdl)





















































