Binance, salah satu bursa kripto terbesar di dunia, mengalami serangan hacker yang mengakibatkan hilangnya aset digital senilai sekitar USD 6,3 miliar atau setara Rp114 triliun. Peretasan ini menyasar dompet digital atau hot wallet perusahaan dan memicu penghentian sementara layanan penarikan aset.
Dalam pengumuman resmi pada Jumat (30/10/2026), Binance mengungkap serangan terjadi pada 29 Oktober pukul 20.05 UTC atau Jumat (30/10) pukul 03.05 WIB. Perusahaan memastikan akan menanggung seluruh kerugian akibat pencurian tersebut agar pengguna tidak kehilangan dana.
"Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami," demikian pernyataan resmi Binance yang ditandatangani dua Co-CEO, Yi dan Richard.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Binance menyebut tim keamanan dan teknisnya bekerja sepanjang waktu untuk menyelidiki serangan, memperkuat infrastruktur, serta melacak aset yang dicuri. Perusahaan juga bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan sejumlah mitra industri kripto.
Dugaan Penyebab Binance Diretas
Co-CEO Binance Richard Teng mengungkap bahwa penyelidikan awal mengarah pada laptop yang diduga telah disusupi hacker.
Melalui akun X pribadinya, Teng menjelaskan bahwa penyerang diduga memperoleh akses ke infrastruktur internal perusahaan melalui perangkat milik seorang engineer DevOps.
Namun, investigasi lanjutan menemukan sejumlah titik pembobolan tambahan. Artinya, serangan tidak semata-mata disebabkan oleh satu perangkat yang diretas.
"Investigasi awal kami menunjukkan bahwa insiden ini mungkin melibatkan laptop yang telah disusupi. Namun, penyelidikan berikutnya menemukan titik pembobolan tambahan," tulis Binance dalam pengumuman resminya.
Binance menegaskan hingga saat ini belum menemukan bukti bahwa private key atau kunci pribadi dompet kripto perusahaan telah bocor.
Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap bagaimana hacker menembus sistem keamanan, memperoleh akses, dan melakukan penarikan aset tanpa izin.
Perusahaan menargetkan dapat membagikan temuan teknis tambahan dalam sekitar 48 jam setelah pengumuman, setelah informasi tersebut diverifikasi dan dipastikan tidak mengganggu penyelidikan.
Rp54 Triliun Aset Berhasil Dibekukan
Di tengah penyelidikan, Binance mengklaim telah berhasil membekukan sekitar USD3 miliar atau setara Rp54 triliun aset yang terkait dengan serangan.
Pembekuan dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah perusahaan kripto, penerbit stablecoin, perusahaan analisis blockchain, dan aparat penegak hukum.
Tether dilaporkan membekukan lebih dari USD 1,57 miliar dalam bentuk USDT, sedangkan Circle membekukan lebih dari USD 800 juta dalam bentuk USDC.
Meski demikian, aset yang dibekukan belum tentu seluruhnya berhasil dikembalikan. Binance masih berupaya melacak dan memulihkan dana yang dicuri serta mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.
Sebagai langkah pencegahan, perusahaan telah mengisolasi infrastruktur yang terdampak, mencabut otorisasi yang berisiko, dan menerapkan pengamanan tambahan untuk mencegah transaksi ilegal berikutnya.
Pemeriksaan keamanan juga diperketat pada sistem yang terdampak sebelum layanan dapat kembali dioperasikan secara normal.
Binance Janji Ganti Seluruh Kerugian
Binance memastikan pengguna tidak akan menanggung kerugian finansial akibat peretasan tersebut.
Perusahaan akan menggunakan Secure Asset Fund for Users (SAFU), yakni dana perlindungan pengguna, serta kas perusahaan untuk mengganti seluruh aset yang dicuri.
Binance menyatakan telah menyisihkan dana perusahaan lebih dari USD6,34 miliar atau sekitar Rp114,12 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar USD5 miliar atau Rp90 triliun telah tersedia dalam jenis aset kripto yang terdampak, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), BNB, USDT, dan USDC.
Menurut Binance, jumlah itu setara dengan sekitar 80% dari kebutuhan penggantian aset terdampak. Perusahaan masih membeli sisa jenis token yang diperlukan melalui pasar terbuka dan transaksi over-the-counter (OTC).
Artinya, angka 80% tersebut bukan menunjukkan persentase aset curian yang berhasil dipulihkan dari hacker, melainkan kesiapan perusahaan menyediakan aset pengganti.
Binance berjanji terus memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan penggantian dana melalui kanal resminya.
Kapan Penarikan Binance Kembali Normal?
Akibat serangan ini, Binance menghentikan sementara layanan penarikan atau withdrawal aset kripto untuk menjalankan pemeriksaan keamanan dan memastikan integritas sistem.
Namun, layanan deposit serta layanan platform lainnya yang tidak terdampak tetap beroperasi.
Dalam pengumuman 30 Oktober, Binance menargetkan mulai memulihkan layanan penarikan dalam waktu sekitar 34 jam. Pemulihan akan dilakukan secara bertahap setelah pemeriksaan keamanan selesai.
Perusahaan belum memastikan seluruh pengguna dapat langsung melakukan penarikan secara bersamaan ketika layanan mulai dibuka kembali.
Selain pemulihan layanan, Binance menyiapkan laporan Proof of Reserves (PoR) untuk memberikan gambaran terbaru mengenai aset yang dimiliki perusahaan dan cadangan yang mendukung saldo pengguna.
Binance berencana mengambil snapshot awal Proof of Reserves dalam waktu 12 jam setelah pengumuman. Hasil pemeriksaan tersebut ditargetkan tersedia pada Senin (2/11/2026).
Laporan ini diharapkan membantu pengguna memeriksa kecocokan saldo mereka dengan cadangan aset yang dilaporkan Binance.
Perusahaan juga berjanji menerbitkan laporan investigasi lengkap atau post-mortem report yang menjelaskan kronologi peretasan, temuan keamanan, serta langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga pengumuman tersebut diterbitkan, penyebab pasti peretasan dan identitas hacker masih dalam penyelidikan. Binance mengimbau pengguna hanya mengikuti informasi melalui kanal resmi perusahaan untuk menghindari penipuan yang memanfaatkan situasi ini.
(afr/afr)

















































