Pedagang batu akik di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur (Jaktim), mengeluhkan kondisi pasar yang kini sepi. Pedagang menyebut sepinya pasar tak sebanding dengan kondisi pada 2014.
Batu akik pernah ramai diminati warga sekitar 2014. Batu akik menjadi booming di masyarakat, tanpa kenal usia.
"2014 sampai 2017 (masih ramai)," kata pedagang batu akik Masril (59) saat ditemui di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (31/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masril mengatakan ruas jalan di depan Pasar Rawa Bening selalu padat di rentang tahun tersebut, terutama pada 2014. Namun dia menilai saat ini kondisi pasar tergolong sepi pembeli batu akik.
"Padat. Kiri kanan padat, masuk gang, keluar gang, mah penuh semua, batu aja semua. Pengunjung lumayanlah. Baru harganya gila-gilaan," ujarnya.
Masril mengatakan dulu bisa menjual satu batu akik dengan harga jutaan rupiah. Dia mengatakan saat ini cuma bisa menjual satu batu akik dengan harga Rp 50 ribu untuk bisa makan.
"Sampai puluhan juta, sampai nggak tahulah begitu. Sekarang boro-boro, Rp 50 ribu aja udah susah. Buat makan aja sekarang susah kalau pedagang batu," ujarnya.
Meski saat ini termasuk sepi, Masril menyebut kondisi pasar paling sepi terjadi saat zaman COVID-19. Masril mengaku mulai berjualan batu akik di Pasar Rawa Bening sejak 2014.
"Sekarang ya boro-boro, paling Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, udah untung-untung banget gitu," ujarnya.
Masril mengaku tak punya pilihan selain berjualan batu akik untuk menyambung hidup. Meski dalam kondisi sepi pembeli, Masril bersyukur masih diberi kesehatan untuk berjualan.
"Mau ngelamar ke sini sana kita udah tua, umur udah lanjut," ujarnya.





















































