Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 23 Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) mengikuti program pendampingan atau coaching clinic untuk mempersiapkan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Program ini digelar BEI bersama Kementerian UMKM.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan hampir seluruh UKM tersebut siap melantai di bursa pada tahun depan. Namun, keputusan untuk melanjutkan IPO tetap berada di tangan masing-masing perusahaan.
"Ada 23 dan rasanya hampir seluruhnya dalam tahun depan harusnya sudah siap, tapi IPO itu adalah pilihan," ungkap Saidu kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Saidu menegaskan BEI hanya mendorong perusahaan berkualitas untuk melantai di bursa. Pasalnya, perusahaan tercatat juga harus siap menjalankan kewajibannya kepada para pemegang saham publik.
"Kita punya aturan-aturan pencatatan yang memang harus dipenuhi, sehingga kita ingin kualitas perusahaan tercatat di Indonesia itu meningkat, yang harus kita siapkan, bukan mereka hanya siap sebelum IPO, tapi setelah menjadi perusahaan publik, mereka siap untuk menanggung kewajiban-kewajiban," tegasnya.
Saidu menjelaskan, UKM tersebut memiliki rentang aset Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Adapun sektornya terdiri dari 30% di bidang makanan dan minuman (food and beverage/FnB), 20% dari industri fesyen, selebihnya berasal dari berbagai sektor usaha.
"Ketika berbicara di skala (aset) menengah, itu di Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar," pungkasnya.
(acd/acd)




















































