Diabetes dikenal sebagai penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja insulin. Namun, dampaknya ternyata tidak hanya terbatas pada pankreas.
Jika kadar gula tidak terkontrol selama bertahun-tahun, berbagai organ tubuh juga bisa mengalami kerusakan, mulai dari kaki, mata, ginjal, hingga otak. Lantas, organ tubuh mana saja yang berisiko terdampak?
1. Kaki: Kehilangan Kemampuan untuk Merasakan Nyeri
Neuropati perifer berkembang saat gula darah tinggi yang berkepanjangan merusak saraf. Dikutip dari laman Times of India, awalnya, seseorang mungkin mengalami rasa terbakar, kesemutan, atau seperti tertusuk. Seiring waktu, beberapa orang juga kehilangan sensasi di jari dan telapak kaki mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang yang mengalami kondisi ini bisa berjalan meski kakinya terluka atau menginjak benda tajam tanpa merasa sakit.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) memperkirakan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah dari penderita diabetes mengalami neuropati perifer.
Diabetes juga bisa merusak saraf otonom yang mengatur fungsi tubuh, seperti pencernaan, detak jantung, hingga aktivitas kandung kemih.
2. Mata: Perubahan Penglihatan
Orang yang mengidap diabetes juga bisa mengalami retinopati diabetik. Kondisi ini memengaruhi retina, jaringan peka cahaya di bagian belakang mata.
Pembuluh darah kecil di retina sangat rentan terhadap kadar gula darah tinggi yang berkepanjangan. Pembuluh darah tersebut bisa bocor, tersumbat, atau memicu pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal.
Sebuah tinjauan dalam jurnal *Ophthalmology* pada 2021 memperkirakan, 22,7 persen penderita diabetes mengalami retinopati dalam berbagai tingkat keparahan. Para peneliti memperkirakan jumlah orang dewasa yang mengidap penyakit ini mencapai 103 juta pada 2020. Mereka juga memproyeksikan bahwa jumlah tersebut bisa mencapai 160,5 juta pada 2045.
3. Ginjal: Ada Masalah Sebelum Timbul Rasa Sakit
Ginjal menyaring limbah dari darah melalui jutaan struktur kecil yang disebut nefron. Struktur tersebut mengandung pembuluh darah halus, dan kadar gula darah tinggi yang terus-menerus bisa merusaknya.
Salah satu tanda awal masalah ginjal adalah munculnya albumin, yaitu protein dalam urine. Biasanya, ginjal yang sehat akan mencegah sejumlah besar protein ini keluar bersama urine.
Seiring waktu, kerusakan tersebut bisa mengurangi kemampuan ginjal untuk menyaring limbah dan cairan berlebih. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit ginjal diabetik, yang bisa berkembang menjadi penyakit ginjal kronis.
CDC memperkirakan, sekitar satu dari tiga orang dewasa dengan diabetes mengidap penyakit ginjal kronis.
4. Jantung: Risiko Serangan Jantung
Diabetes tak hanya memengaruhi jumlah glukosa dalam darah, tetapi juga pembuluh darah.
Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus, terutama jika disertai tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol abnormal, bisa menyebabkan kerusakan pada arteri. Endapan lemak bisa menumpuk, mempersempit pembuluh darah, dan membatasi aliran darah. Jika arteri yang memasok darah ke jantung atau otak tersumbat, akibatnya bisa berupa serangan jantung atau stroke.
CDC mengungkapkan, orang dewasa dengan diabetes memiliki kemungkinan sekitar dua kali lebih besar mengalami penyakit jantung atau stroke dibandingkan orang dewasa tanpa diabetes.
Diabetes juga bisa merusak saraf yang membantu mengatur detak jantung dan tekanan darah. Kondisi ini disebut neuropati otonom kardiovaskular. Beberapa orang mengalami pusing saat berdiri hingga detak jantung saat istirahat yang luar biasa cepat.
5. Hati: Mengakumulasi Lemak bahkan Tanpa Alkohol
Pengidap diabetes tipe 2 sangat rentan terhadap penyakit hati steatosis terkait disfungsi metabolik (MASLD).
Resistensi insulin memainkan peran utama. Ketika tubuh tidak merespons insulin dengan benar, cara tubuh memproses glukosa dan lemak berubah. Lemak berlebih bisa menumpuk di dalam sel-sel hati, terkadang tanpa menimbulkan gejala yang terlihat.
Sebuah meta-analisis tahun 2024 yang diterbitkan dalam *Clinical Gastroenterology and Hepatology* meneliti data dari lebih dari 2,2 juta pengidap diabetes tipe 2. Diperkirakan, sebanyak 65,33 persen di antaranya mengidap penyakit hati berlemak.
6. Otak: Penurunan Kognitif
Diabetes dikaitkan dengan risiko penurunan kognitif dan demensia yang lebih tinggi. Para peneliti percaya bahwa beberapa proses mungkin terlibat, termasuk kerusakan pada pembuluh darah yang memasok darah ke otak, peradangan, dan perubahan metabolisme yang terkait dengan resistensi insulin.
Hubungan ini sangat relevan saat diabetes tipe 2 dialami oleh orang berusia paruh baya.
Komisi Lancet 2024 tentang demensia juga memasukkan diabetes sebagai salah satu faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi.
Meski demikian, bukan berarti setiap pengidap diabetes pasti akan mengalami gangguan ingatan atau demensia.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya mengendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol untuk menjaga kesehatan pembuluh darah, termasuk yang memasok darah ke otak.
7. Lambung: Membutuhkan Waktu Lebih Lama untuk Mengosongkan Isinya
Pengidap diabetes yang sudah lama juga dapat mengalami gangguan pada sistem pencernaan. Salah satu kondisi yang mungkin terjadi adalah gastroparesis, yaitu gangguan ketika lambung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengosongkan isinya menuju usus halus.
Seseorang dapat merasa kenyang selama berjam-jam setelah makan. Keluhan lainnya meliputi mual, perut kembung, hingga muntah makanan yang belum tercerna.
Dalam kondisi normal, otot lambung berkontraksi untuk mendorong makanan. Proses ini sebagian diatur oleh saraf vagus. Namun, ketika diabetes merusak saraf tersebut, otot lambung tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya sehingga proses pengosongan makanan menjadi lebih lambat.
NIDDK menyebut diabetes sebagai penyebab gastroparesis yang paling umum diketahui.
Kondisi ini dapat membuat seseorang kesulitan makan karena merasa kenyang setelah beberapa suapan atau mengalami mual dalam waktu lama setelah makan.
Gastroparesis juga dapat mempersulit pengelolaan diabetes. Pasalnya, pergerakan makanan yang lebih lambat membuat waktu penyerapan glukosa menjadi kurang bisa diprediksi.
Meski demikian, tidak semua keluhan mual atau cepat kenyang pada penderita diabetes disebabkan oleh gastroparesis. Beberapa obat diabetes, termasuk obat berbasis GLP-1, juga dapat memperlambat pengosongan lambung.

























































