Sebanyak 71 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan temuan hotspot tertinggi, yakni mencapai 21 titik dengan tingkat kepercayaan medium pada Senin (2/11).
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumsel, Ferdian Krisnanto, mengatakan masyarakat dapat memantau perkembangan titik panas secara terbuka melalui situs resmi Sipongi. Data tersebut juga dilengkapi rekapitulasi berdasarkan satelit sehingga perkembangan hotspot di setiap wilayah dapat dibandingkan secara langsung.
"Untuk jumlah hotspot bisa kawan-kawan akses secara langsung dan terbuka dari website Sipongi. Ada rekap dan per satelit supaya bisa membandingkan langsung," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, dalam sepekan terakhir petugas masih melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Ogan Ilir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih perlu diwaspadai meskipun sejumlah wilayah Sumsel mulai diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, berdasarkan hasil patroli udara Satgas Udara pada Senin, sejumlah titik api kembali ditemukan di wilayah Cengal dan Pedamaran, Kabupaten OKI. Petugas saat ini masih melakukan pengecekan untuk memastikan kondisi titik api tersebut, termasuk melihat apakah sudah terdampak hujan atau masih berpotensi menimbulkan kebakaran.
"Untuk OKI hari ini tadi ada beberapa firespot ditemukan dari patroli udara satgas udara di Cengal dan Pedamaran, nah saat ini sedang cek apakah kena hujan apa tidak," katanya.
Ferdian menjelaskan, curah hujan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan karhutla. Namun, turunnya hujan belum dapat dipastikan langsung menghilangkan seluruh titik api, sehingga pemantauan di lapangan tetap diperlukan, terutama pada kawasan yang memiliki lahan gambut.
Meski hujan mulai turun, patroli dan pemantauan tetap dioptimalkan guna memastikan titik panas yang terdeteksi dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran lebih luas.
Di sisi lain, kabut asap berpotensi kembali menyelimuti Kota Palembang. Potensi ini dipengaruhi arah angin yang saat ini dominan bertiup dari timur dan tenggara menuju Palembang. Kondisi tersebut dikhawatirkan membawa asap dari wilayah yang masih terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto mengatakan pertumbuhan awan hujan di Sumsel mengalami fluktuasi dan cenderung menurun sehingga risiko terjadinya karhutla perlu diwaspadai.
"Ya, mengingat potensi pertumbuhan awan hujan yang seperti yang kami sampaikan tadi masih ada fluktuasi penurunan tentunya peluang terhadap kebakaran hutan dan lahan," ucapnya.
Siswanto menyebutkan, potensi pertumbuhan awan hujan di Sumsel diperkirakan kembali berkurang pada 8-10 November mendatang. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berkurangnya peluang hujan dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
"Namun di tanggal 8, 9, dan 10 November Sumsel kembali potensi awan hujan itu berkurang, nah justru disini yang perlu diwaspadai. Baik satgas darat, satgas udara, termasuk beberapa kegiatan patroli udara itu harus tetap ditingkatkan kewaspadaannya," ungkapnya.
Selain potensi berkurangnya hujan, arah angin juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Sebab, angin yang dominan bertiup dari timur dan tenggara saat ini mengarah langsung ke Kota Palembang sehingga berpotensi membawa kabut asap dari daerah yang mengalami karhutla.
"Kemudian dampak kabut asapnya yang terdorong oleh angin yang mana saat ini juga dominan masih berasal dari Timur dan Tenggara dan itu mengarah ke Kota Palembang," katanya.
Sehingga, potensi kabut asap kembali masuk ke Palembang masih sangat tinggi seiring kondisi arah angin tersebut.
"Pastinya kemungkinan atau potensinya itu masih sangat tinggi, kabut asap itu mengarah ke Kota Palembang," tutupnya.



























































