Lapisan ozon terletak sekitar 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan Bumi, tepatnya di stratosfer. Lantas apa dampaknya jika manusia terpapar ozon?
Sesuai dengan namanya, lapisan ini mengandung gas O3 (ozon) dengan konsentrasi tinggi. Berdasarkan deskripsi di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ozon merupakan lapisan udara yang berasal dari oksigen dan mengalami perubahan akibat adanya aliran listrik setelah petir dan guruh silih berganti. Faktor lain yang memengaruhi perubahannya adalah sinar ultraviolet dari Matahari.
Selain reaksi alami, ozon juga dapat terbentuk di dekat permukaan tanah dan kontributor utamanya adalah polutan dari kendaraan, pabrik, dan sumber lainnya, yang bereaksi di bawah sinar matahari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil analisis terbaru dari Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus (CAMS) menunjukkan setidaknya 40 persen penduduk Bumi menghirup O3 dalam jumlah yang banyak selama 2026. Wilayah Asia disebutkan sebagai yang terdampak paling parah.
Direktur CAMS, Laurence Rouil, menjelaskan tahun ini ada kejutan berupa banyaknya polusi dalam jumlah besar dan terjadi secara bersamaan. Karenanya, jumlah O3 juga meningkat secara signifikan.
"Temuan yang paling mencolok adalah bahwa lebih dari setengah populasi dunia masih terpapar tingkat polusi udara yang tidak sehat," kata Rouil, dikutip dari Earth.com, Senin (2/11/2026).
Kontributor Ozon di Atmosfer Bumi
Menggunakan data satelit dan pengukuran lapangan, CAMS melaporkan bahwa tidak ada elemen yang secara langsung memancarkan ozon dari permukaan tanah.
Cara mengukur ozon yang dilakukan oleh CAMS adalah dengan mencatat setiap tingkat tertinggi ozon dari data berdurasi 8 jam per hari. Para peneliti kemudian mengambil rata-rata dari data 6 bulan yang memiliki jumlah ozon paling buruk.
Pedoman resmi dari World Health Organization (WHO) adalah 60 mikrogram per meter kubik. CAMS menetapkan bahwa apabila jumlahnya lebih dari 110 mikrogram per meter kubik, maka kualitas udaranya dapat dikatakan sangat buruk.
Salah satu kontributor melonjaknya kadar ozon di atmosfer adalah nitrogen oksida dari asap kendaraan yang berinteraksi dengan uap organik dari lalu lintas, industri, tumbuhan, produk kebersihan rumah tangga, hingga karhutla.
Secara alami, cuaca musim panas yang ekstrem dan tenang dapat mempercepat reaksi dan memungkinkan gas menumpuk. Sebelum naik ke atmosfer, ozon bisa bertahan selama beberapa hari di dekat permukaan tanah hingga beberapa minggu di lapisan yang lebih tinggi.
Selama gelombang panas pada 28 Juli 2026 lalu, CAMS menghitung bahwa izin yang tiba di Bergamo, Italia, dari Belahan Bumi Utara, memiliki dampak yang sama besarnya dengan gabungan semua sumber ozon buatan manusia di Eropa.
Asia Menghirup Ozon Terbanyak
Sebanyak enam dari 10 orang di Asia menghirup ozon dalam tingkat yang sangat buruk, sementara 9 dari 10 orang mengalami kualitas udara yang dinilai buruk dan/atau sangat buruk, demikian jelas CAMS dalam laporannya.
Salah satu yang memengaruhi adalah asap dari karhutla yang terjadi di berbagai wilayah sekitar. Indonesia saat ini sedang menghadapi karhutla di Kalimantan, yang dipicu oleh El Niño. Hal ini mendorong kadar partikel halus hingga beberapa ratus mikrogram per meter kubik.
Di wilayah lain, seperti Eropa, mereka telah memberlakukan kebijakan untuk mengurangi jumlah polutan. Namun, untuk ozon, gelombang panas ekstrem yang berulang kali terjadi telah membuat separuh penduduk Eropa berada dalam kondisi udara yang buruk atau sangat buruk.
Pada 22 Juli lalu, terdapat kebakaran di wilayah Gironde dan Landes di Prancis, yang mengharuskan sekitar 40.000 orang untuk meninggalkan rumah mereka masing-masing. Asap dari kebakaran tersebut mencemari udara hingga ratusan mil dari titik api.
Menghadapi Ozon di Kehidupan Sehari-hari
Menurut Rouil, solusi menghadapi tingkat ozon yang buruk ini, sebenarnya, dapat terlihat dari sejumlah kebijakan yang telah diterapkan di Eropa selama beberapa dekade terakhir. Beberapa zat yang di antaranya termasuk dalam aturan untuk pengurangan adalah sulfur dioksida, nitrogen dioksida, hingga partikel halus.
Saat ini, prakiraan ozon juga telah tersedia secara publik dan datanya cukup akurat, sehingga masyarakat dapat menyiapkan langkah mitigasi sebelum jumlahnya mencapai ambang batas normal atau menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.
"WHO menyarankan untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan yang berkepanjangan atau intens, terutama di siang hari," katanya kepada Earth.com.
Pedoman lebih lanjut merekomendasikan supaya anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi pernapasan atau kardiovaskular mengambil tindakan preventif ekstra.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.































































