Salam tiga jari bukan sekadar gestur tangan yang muncul dalam film The Hunger Games. Simbol ini memiliki makna yang lebih dalam seiring perkembangan cerita, mulai dari ungkapan penghormatan hingga menjadi lambang solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Dalam film The Hunger Games yang diadaptasi dari novel karya Suzanne Collins, kisah berpusat pada Katniss Everdeen, seorang perempuan muda yang hidup di Distrik 12, wilayah yang berada di bawah kekuasaan Capitol. Di tengah ketimpangan dan tekanan yang dialami masyarakat distrik, sejumlah gestur sederhana berkembang menjadi bentuk komunikasi yang menyampaikan perasaan dan sikap tanpa harus diucapkan secara langsung.
Salam tiga jari diperlihatkan sebagai gestur penghormatan, rasa terima kasih, dan perpisahan. Namun, maknanya berkembang ketika gestur tersebut digunakan untuk menunjukkan rasa hormat dan solidaritas terhadap seseorang yang dianggap berani menghadapi ketidakadilan. Gerakan tangan itu kemudian tidak lagi sekadar menjadi ungkapan personal, tetapi juga menyampaikan pesan yang dipahami bersama oleh orang-orang yang menggunakannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam perjalanan cerita, Katniss menjadi sosok yang menginspirasi masyarakat untuk mempertanyakan kekuasaan Capitol. Simbol-simbol yang muncul dalam film memperlihatkan bagaimana tindakan seseorang dapat memengaruhi orang lain. Salam tiga jari menjadi salah satu gestur yang menggambarkan kebersamaan dan keberanian dalam menghadapi situasi yang dianggap tidak adil.
Makna simbol dalam film itu juga menjadi perhatian penelitian akademik. Muh. Eddy Chaisar Catur Putra Mansyur dari Universitas Negeri Makassar, dalam penelitiannya 2024 tentang simbol Mockingjay dalam seri film The Hunger Games, mengkaji penggunaan simbol melalui pendekatan semiotika. Kajian ini dapat menjadi pendukung untuk memahami bagaimana simbol visual digunakan untuk menyampaikan pesan dalam cerita, termasuk pesan mengenai perlawanan dan kebebasan.
Penelitian Navita Fayola Frihanggrahita yang diterbitkan dalam KRONIK: Journal of History Education and Historiography 2022 turut membahas kesenjangan sosial dalam film The Hunger Games. Kajian tersebut menyoroti perbedaan antara kehidupan kelompok penguasa di Capitol dan masyarakat yang tinggal di distrik. Ketimpangan ini menjadi bagian penting dari latar cerita yang mendorong munculnya konflik dan perlawanan.
Sementara itu, penelitian Zoelyanis Jailani dari Universitas Syiah Kuala pada 2018 membahas representasi nilai-nilai perlawanan dalam film The Hunger Games: Mockingjay Part 1 dan Part 2 menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menjadi referensi tambahan untuk membaca bagaimana tanda, simbol, dan adegan dalam film menyampaikan pesan kepada penonton.
Dari cerita The Hunger Games, salam tiga jari dapat dipahami sebagai gestur yang melampaui bentuk fisiknya. Simbol ini menggambarkan penghormatan, solidaritas, keberanian, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Maknanya tidak hanya terletak pada tiga jari yang diangkat, tetapi juga pada situasi dan pesan yang menyertainya. Melalui gestur sederhana tersebut, film ini memperlihatkan bagaimana sebuah simbol dapat menjadi bahasa bersama bagi orang-orang yang merasa memiliki pengalaman dan tujuan yang sama.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video Ralph Fiennes Jadi Presiden Snow di Film Baru 'The Hunger Games'"
[Gambas:Video 20detik](astj/astj)



























































