Kawasan Cibaduyut, perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, menjadi lokasi langganan banjir. Persoalan sampah yang menyumbat saluran drainase jadi salah satu penyebabnya. Selain sampah, keberadaan pilar jalur kereta cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh menghalangi aliran drainase.
Kondisi tersebut membuat kawasan Cibaduyut menjadi salah satu titik rawan banjir setiap musim hujan. Air yang seharusnya mengalir melalui saluran drainase justru tertahan dan berpotensi meluap ke jalan maupun permukiman warga.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengungkapkan, pihaknya menemukan dua persoalan utama setelah melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Pertama, tumpukan sampah yang memenuhi sejumlah saluran drainase dan sungai. Kedua, terdapat saluran drainase yang buntu akibat terhalang pilar KCIC serta saluran lain yang mengalami penyempitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sana ada jembatan untuk KCIC dan jembatan Tol Cileunyi ya. Dan itu langganan apabila musim penghujan selalu banjir. Kami coba ke lapangan sore kemarin, kami petakan, dan tadi pagi langsung eksekusi," kata Herman saat diwawancarai, Senin (2/11/2026).
"Ternyata penyebabnya ada dua, penyebab sampah yang memenuhi drainase dan sungai yang ada di sana baik di Kota Bandung maupun di Kabupaten Bandung, karena itu wilayah perbatasan. Yang kedua, ada drainase yang mentok karena di sana ada pilar KCIC ya, dan ada juga yang mengecil," lanjutnya.
Herman menjelaskan, persoalan drainase yang terhalang pilar KCIC berada di wilayah Kota Bandung, tepatnya di kawasan Cibaduyut. Saluran yang sebelumnya menjadi jalur aliran air itu kini tidak memiliki sambungan memadai menuju sungai setelah terhalang keberadaan pilar.
Akibatnya, air hanya berputar di sekitar saluran yang buntu tanpa bisa mengalir sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut membuat air semakin mudah meluap ketika debit meningkat saat hujan deras.
"Di Cibaduyut, di wilayah Kota Bandung-nya. Ada drainase yang mentok, di sana ada pilar KCIC. Makanya kami akan minta KCIC drainasenya disambungkan ke sungai yang kurang lebih di sana paling 20 meteran kok, enggak jauh," ungkap Herman.
Dia bahkan menyebut, area di sekitar pilar tersebut hanya menjadi tempat penampungan atau putaran air tanpa dilengkapi saluran pembuangan yang menghubungkannya ke sungai.
"Dan tidak dibuatkan drainase (baru), hanya dibuatkan di sana tempat bermain air gitu, jadi cai mulek (air berputar) disitu. Padahal yang kita butuhkan bukan hanya mulek di sana, tapi ada drainasenya kemudian bisa tersalurkan ke sungai. Karena air mulek di sana akhirnya banyak ya tumpah ke jalan," tuturnya.
Selain persoalan konstruksi drainase yang terhalang pilar KCIC, Pemprov Jabar juga menemukan tumpukan sampah dalam jumlah besar di sejumlah saluran air dan sungai. Kondisi tersebut semakin memperburuk aliran air, terutama ketika hujan mengguyur kawasan perbatasan tersebut.
Sebagai langkah awal, lebih dari 100 petugas gabungan dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung diterjunkan untuk membersihkan drainase dan sungai. Pembersihan dilakukan secara bersamaan di kedua wilayah karena kawasan rawan banjir tersebut berada di perbatasan administratif.
Herman menyebut, pembersihan di wilayah Kota Bandung sudah rampung pada Senin siang. Sementara itu, petugas di Kabupaten Bandung masih membutuhkan tambahan waktu karena volume sampah yang ditemukan cukup besar.
"Untuk sampah langsung ditangani. Tadi kami turun dengan para petugas dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, 100 lebih tadi turun ya, dari dua kabupaten itu beserta para petugas melakukan pembersihan. Drainasenya dibersihkan tadi, kemudian sungai-sungainya juga dibersihkan," ujarnya.
"Kemungkinan yang Kabupaten Bandung perlu waktu satu hari lagi karena sampahnya luar biasa banyak sekali ya. Kota Bandung sepertinya sudah selesai tadi siang. Ada tambahan waktu untuk Kabupaten Bandung. Itu penanganan sampahnya," tambah Herman.
Meski begitu, Herman menegaskan pembersihan sampah hanya menjadi penanganan awal. Pemerintah membutuhkan solusi permanen agar persoalan banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah membangun saluran drainase baru yang melintasi kawasan pilar KCIC dan menghubungkannya dengan sungai. Pemprov Jabar akan berkoordinasi dengan KCIC untuk meminta pembangunan sambungan drainase tersebut.
"Kami akan kordinasi dengan KCIC dan kami minta untuk dibuatkan drainase sambungan. Kami juga antisipasi apakah langsung KCIC atau dibuatkan oleh Kota Bandung, oleh Provinsi. Memang terus terang di sana bukan kewenangan kami, tetapi kan lintas. Kalau diantep (dibiarkan) ya tidak akan selesai-selesai," tegasnya.
Rencana pembangunan drainase di wilayah tersebut ditargetkan masuk penganggaran 2027. Herman menyebut, koordinasi sudah dilakukan bersama Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, serta jajaran sekretaris daerah dari kedua wilayah agar penanganannya tidak berbenturan dengan kewenangan masing-masing.
"Alhamdulillah semua support di 2027 akan dianggarkan untuk pembuatan drainase yang melintasi jembatan KCIC," katanya.
Kabupaten Bandung Butuh Anggaran Rp 2 Miliar
Sementara itu, persoalan drainase di wilayah Kabupaten Bandung juga membutuhkan penanganan tersendiri. Herman menyebut, terdapat saluran yang mengalami penyempitan setelah aliran air dari sungai masuk ke drainase. Kondisi semakin buruk karena saluran tersebut berbelok hingga 90 derajat.
Selain dipenuhi sampah, penyempitan dan tikungan tajam membuat aliran air tidak lancar sehingga berpotensi kembali meluap.
Untuk mengatasinya, Pemerintah Kabupaten Bandung telah menyiapkan Detail Engineering Design (DED) pembangunan drainase baru yang akan menghubungkan saluran hingga ke sungai di bagian ujung kawasan.
"Untuk Kabupaten Bandung, ada drainase juga karena dari sungai itu masuk ke drainase mengecil lagi ya, dan kemudian beloknya 90 derajat, ya pasti air akan mental lagi. Sudah banyak sampah, kemudian mengecil," jelas Herman.
"Kami sudah komunikasi, DED-nya informasi dari Kabupaten Bandung sudah dibuatkan, kebutuhannya sampai Rp2 miliar-an ya, akan dibuatkan drainase sampai ke sungai di ujung, sungai Cangkuang apa yang ada di ujung itu," sambungnya.
Herman juga menyebut opsi peninggian badan jalan sempat muncul sebagai salah satu usulan penanganan banjir. Namun, rencana tersebut untuk sementara tidak dipilih karena dikhawatirkan justru memindahkan genangan air ke lingkungan permukiman warga.
"Tadi sebetulnya ada juga usulan jalannya dinaikkan, tapi kasihan banjirnya jadi ke lingkungan. Makanya untuk peningkatan menaikkan badan jalan sepertinya kita tunda dulu," ujarnya.
Simak Video "Video: Banjir Lahar Dingin Semeru, Putus Akses Dua Wilayah"
[Gambas:Video 20detik](bba/mso)























































