Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengancam permukiman dan kesehatan warga. Satwa liar yang kehilangan habitat dan sumber pakan juga ikut terdesak.
Kondisi itu membuat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bergerak menyelamatkan satwa dilindungi yang berada di kawasan terdampak. Melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, BKSDA Kalteng telah mengevakuasi 11 individu orang utan (Pongo pygmaeus) dari sejumlah lokasi rawan karhutla.
Kepala SKW II Pangkalan Bun BKSDA Kalteng Handi Nasoka mengatakan evakuasi dilakukan sebagai langkah penyelamatan untuk mencegah orang utan menjadi korban karhutla. Paparan asap pekat dan hilangnya sumber pakan alami menjadi ancaman serius bagi satwa tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Langkah cepat ini dilakukan demi mencegah meningkatnya angka kematian satwa akibat paparan asap pekat dan hilangnya pakan alami," ujar Handi, Kamis (24/9/2026).
"Belasan orang utan tersebut ditemukan di sejumlah wilayah terdampak karhutla, meliputi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kotawaringin Timur (Kotim), Seruyan dan Lamandau," imbuhnya.
Sebagian satwa ditemukan berada di pinggiran kawasan hutan. Kebakaran yang meluas membuat ruang gerak mereka semakin terbatas sehingga berisiko terisolasi maupun kehilangan sumber makanan.
Setelah dievakuasi, orang utan menjalani pemeriksaan medis darurat. Sebagian besar dalam kondisi relatif sehat sebelum kemudian ditranslokasikan ke Kawasan Suaka Margasatwa Lamandau yang dinilai lebih aman dari ancaman kebakaran.
"Proses penyelamatan tidak selalu berjalan mudah. Petugas harus menghadapi jarak pandang yang terbatas akibat asap, medan terjal hingga kawasan rawa saat menuju titik keberadaan satwa," ujarnya.
Selain orang utan, tim BKSDA juga menemukan dan menyelamatkan satwa dilindungi lainnya, seperti tenggiling dan kukang yang terisolasi di kawasan bekas kebakaran.
Namun, tidak semua laporan keberadaan satwa berujung pada keberhasilan evakuasi. Pada Senin lalu, tim menerima laporan warga mengenai seekor orang utan yang diduga terjebak di sekitar lokasi karhutla.
Tim kemudian bergerak menuju titik koordinat yang dilaporkan dan melakukan penyisiran selama lebih dari 2,5 jam. Namun, orang utan tersebut tidak ditemukan dan diduga telah melarikan diri karena panik menghindari kepungan asap tebal. Handi mengatakan BKSDA terus memperkuat koordinasi dengan personel pemadam kebakaran di lapangan untuk mengantisipasi keberadaan satwa liar di tengah karhutla.
"Kita langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan evakuasi demi memastikan keselamatan satwa maupun warga di sekitar lokasi kebakaran," pungkasnya.




























































