Penggemar Superman tentu tidak asing dengan Kryptonite, mineral berwarna hijau yang dalam cerita fiksi menjadi kelemahan utama sang manusia baja. Namun, siapa sangka mineral yang memiliki kemiripan komposisi kimia dengan Kryptonite ternyata benar-benar ditemukan di Bumi.
Mineral tersebut bernama Jadarite. Bukan berasal dari planet Krypton seperti dalam kisah Superman, mineral berwarna putih ini ditemukan di Lembah Jadar, Serbia. Dikutip dari Times of India, Jadarite ditemukan oleh ahli geologi dari perusahaan pertambangan Rio Tinto pada 2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mineral ini kemudian menarik perhatian dunia pada 2007 setelah para ilmuwan menemukan kemiripan komposisi kimianya dengan Kryptonite yang muncul dalam film Superman Returns (2006). Penemuan tersebut bermula ketika Rio Tinto menyerahkan sampel mineral kepada Chris Stanley, ahli mineral dari Natural History Museum di London, untuk diidentifikasi.
Stanley kemudian menelusuri rumus kimia mineral tersebut melalui internet. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan, nama kimia yang sama ternyata tertulis pada wadah batu Kryptonite dalam film Superman Returns.
"Menjelang akhir penelitian, saya mencari di internet menggunakan rumus kimia mineral tersebut, yaitu natrium litium boron silikat hidroksida. Saya terkejut ketika menemukan nama ilmiah yang sama tertulis pada wadah batu berisi Kryptonite yang dicuri oleh Lex Luthor dari sebuah museum dalam film 'Superman Returns'," kata Stanley dalam wawancara di 2007.
Meski memiliki kemiripan komposisi, Jadarite bukanlah Kryptonite seperti dalam cerita fiksi. Mineral ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan tidak bersifat radioaktif. Kemiripan Jadarite dengan Kryptonite terletak pada komposisi kimianya. Jadarite memiliki rumus kimia LiNaSiB3O7(OH), yang merupakan mineral natrium-litium-boron-silikat-hidroksida.
Sementara itu, Kryptonite dalam film Superman Returns digambarkan memiliki komposisi serupa, tetapi mengandung unsur tambahan berupa fluor. Perbedaan tersebut membuat Jadarite tidak memiliki warna hijau seperti Kryptonite dalam film. Mineral asli ini justru berwarna putih hingga keabu-abuan dan tidak memiliki kemampuan melemahkan manusia super.
Penemuan Jadarite menjadi kejutan tersendiri bagi dunia mineralogi. Menurut Natural History Museum, sekitar 30-40 mineral baru biasanya diidentifikasi setiap tahun. Sebagian besar bahkan hanya ditemukan dalam bentuk butiran kecil yang perlu diamati menggunakan mikroskop.
Selain kemiripannya dengan Kryptonite, Jadarite juga menarik perhatian ilmuwan karena keberadaannya yang sangat langka. Hingga kini, mineral tersebut baru ditemukan di kawasan Lembah Jadar, Serbia. Penelitian yang dipimpin Francesco Putzolu bersama sejumlah peneliti Natural History Museum berusaha mengungkap kondisi geologi yang membuat mineral ini terbentuk.
Hasil penelitian yang dibahas dalam jurnal Nature Geoscience menunjukkan bahwa pembentukan Jadarite berkaitan dengan kombinasi aktivitas vulkanik dan keberadaan danau soda yang sangat basa di kawasan tersebut sekitar 16 juta tahun lalu.
Kedua kondisi itu harus terjadi secara bersamaan agar mineral tersebut dapat terbentuk. Profesor Richard Herrington, salah satu penulis penelitian, menggambarkan proses pembentukan Jadarite seperti membuat kue.
"Kami mengibaratkannya seperti membuat kue. Kita membutuhkan bahan-bahan yang tepat dan kondisi yang benar, lalu tiba-tiba mineral ini terbentuk," jelas Herrington.
Kombinasi kondisi geologi yang sangat spesifik tersebut diduga menjadi alasan mengapa Jadarite belum ditemukan di lokasi lain, meskipun terdapat wilayah dengan lingkungan kimia yang serupa.
Pemahaman mengenai proses pembentukannya diharapkan membantu ilmuwan menemukan kemungkinan keberadaan endapan Jadarite di wilayah lain.
Berpotensi Jadi Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik
Di luar cerita unik tentang Kryptonite, Jadarite justru memiliki potensi ekonomi dan teknologi yang lebih besar karena kandungan litium dan bornya. Litium merupakan salah satu bahan penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. Sementara itu, boron banyak digunakan dalam berbagai industri, termasuk material khusus dan teknologi.
Menurut Natural History Museum, kandungan litium dalam Jadarite sebanding dengan spodumene, salah satu mineral yang umum ditambang sebagai sumber litium. Endapan Jadarite di Serbia diperkirakan mencapai hampir 100 juta ton.
Jumlah tersebut membuatnya berpotensi menjadi sumber bahan baku penting bagi industri kendaraan listrik di Eropa. Herrington menyebut potensi tersebut cukup besar apabila penambangan mendapatkan persetujuan.
"Ada hampir 100 juta ton Jadarite dalam endapan tersebut," kata Herrington.
"Jika penambangan mendapatkan lampu hijau, jumlah ini dapat memenuhi sembilan persepuluh dari seluruh kebutuhan litium Eropa untuk kendaraan listrik. Jadi, potensinya sangat besar," lanjutnya.
Meski demikian, rencana penambangan Jadarite di Serbia masih menghadapi penolakan dari masyarakat setempat. Rencana pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan mineral tersebut menjadi kontroversi sehingga belum dapat direalisasikan.
Situasi ini memperlihatkan tantangan dalam transisi energi. Di satu sisi, kebutuhan litium terus meningkat seiring perkembangan kendaraan listrik dan teknologi baterai. Namun, proses memperoleh bahan baku tersebut juga harus mempertimbangkan dampak lingkungan serta kepentingan masyarakat sekitar.















































