Sakit punggung kerap dikaitkan dengan masalah otot, postur tubuh yang kurang baik, atau gangguan pada tulang belakang. Untuk meredakannya, sebagian orang memilih mengonsumsi obat pereda nyeri atau menjalani pijat.
Namun, sakit punggung tidak selalu disebabkan oleh gangguan otot dan tulang belakang. Dalam kondisi tertentu, keluhan ini juga bisa berkaitan dengan masalah pada ginjal, seperti batu ginjal atau infeksi ginjal.
Karena itu, penting untuk mengenali karakteristik nyeri punggung yang mungkin berkaitan dengan gangguan ginjal. Terlebih, kondisi tersebut dapat disertai gejala lain yang perlu diwaspadai.
"Tidak semua sakit punggung berasal dari tulang belakang," kata konsultan nefrologi Manipal Hospital, Jaipur, dr Shyam Sunder Nowal, dikutip dari laman Times of India,
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6 Tanda Sakit Punggung Bisa Berkaitan dengan Ginjal
Ada beberapa gejala yang perlu diperhatikan ketika seseorang mengalami sakit punggung. Berikut beberapa tanda yang dapat mengindikasikan adanya masalah pada ginjal.
1. Letak Rasa Sakit
Ginjal terletak di bagian belakang rongga perut, tepatnya di kedua sisi tulang belakang dan di bawah tulang rusuk.
Dikutip dari laman Healthline, ketika gangguan terjadi pada organ tersebut, rasa sakit bisa muncul di area pinggang atau sisi tubuh (flank).
Kondisi ini berbeda dengan nyeri akibat masalah otot atau tulang belakang yang biasanya berubah ketika seseorang bergerak, membungkuk, memutar badan, atau mengubah posisi tubuh.
2. Jenis Nyeri
Nyeri ginjal biasanya terasa tajam jika seseorang memiliki batu ginjal dan terasa tumpul jika mengalami infeksi ginjal. Dalam banyak kasus, nyeri tersebut berlangsung terus-menerus.
Pada pengidap batu ginjal, intensitas nyeri bisa naik turun seiring pergerakan batu di dalam saluran kemih. Sementara itu, kondisi lain seperti penyakit ginjal polikistik dapat menyebabkan episode nyeri hebat yang muncul pada waktu tertentu.
Jika nyeri disebabkan oleh kanker ginjal, keluhannya dapat berupa rasa sakit tumpul yang menetap. Nyeri biasanya terasa dari bagian tengah punggung hingga ke bawah tulang rusuk.
3. Hal yang Membuat Nyeri Membaik atau Memburuk
Nyeri akibat gangguan ginjal umumnya tidak akan membaik sebelum penyebabnya ditangani. Misalnya, batu ginjal harus dikeluarkan, infeksi diatasi dengan obat-obatan, atau dilakukan penanganan medis lain sesuai kondisi yang mendasarinya.
Berbeda dengan sakit punggung biasa, nyeri ginjal umumnya tidak berubah ketika seseorang bergerak atau mengubah posisi tubuh.
4. Disertai Demam
Sakit punggung atau pinggang yang disertai demam, menggigil, maupun gejala menyerupai flu dapat menjadi tanda adanya infeksi pada ginjal.
4. Disertai Sensasi Terbakar atau Nyeri Saat Buang Air Kecil
Rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil juga bisa menjadi petunjuk adanya masalah pada saluran kemih.
Selain itu, seseorang mungkin mengalami dorongan untuk buang air kecil lebih sering atau mendadak.
5. Disertai Urine Berdarah
Dikutip dari laman National Kidney Foundation, ginjal yang sehat biasanya akan menahan sel-sel darah agar tetap berada di dalam tubuh saat menyaring zat sisa dari darah untuk menghasilkan urine. Namun, ketika penyaring ginjal mengalami kerusakan, sel-sel darah dapat keluar dan ikut terbawa ke dalam urine.
Selain menjadi salah satu tanda penyakit ginjal, adanya darah dalam urine juga dapat mengindikasikan kondisi lain, seperti tumor, batu ginjal, atau infeksi.
Meski begitu, gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan ginjal. Dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti tes urine, tes darah, atau pemeriksaan pencitraan untuk memastikan penyebabnya.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Seseorang perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami nyeri punggung atau pinggang yang muncul tiba-tiba maupun terasa sangat hebat, terutama jika disertai demam, menggigil, muntah terus-menerus, atau urine berdarah.
Menjaga asupan cairan, membatasi konsumsi garam berlebihan, serta segera menangani keluhan pada saluran kemih dapat membantu mendukung kesehatan ginjal.
Namun, kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda. Orang dengan penyakit ginjal stadium lanjut atau gagal jantung, misalnya, tidak disarankan meningkatkan asupan air secara berlebihan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

























































