Isak tangis mengiringi pemakaman Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar Riski Hartio di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Giri Tunggal, Jalan Sriwijaya, Semarang Selatan, Kota Semarang. Mendiang gugur karena helikopter Mi-17 yang ditumpanginya jatuh dalam operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Istri mendiang, Yuyun Nurhafiz, menghadiri pemakaman dengan mengenakan pakaian serba hitam. Sejak berjalan dari gerbang TMP hingga liang lahat almarhum suaminya, ia dipapah oleh anggota Persit yang lain.
Yuyun duduk di baris paling depan selama prosesi pemakaman berlangsung. Isak tangisnya terus pecah, sehingga anggota Persit dan Kowad yang duduk di belakangnya berupaya menenangkan dengan mengelus pundak dan lengannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah jenazah Kapten Nurhafiz diturunkan ke liang lahat, pihak keluarga termasuk Yuyun mendekat untuk melakukan tabur bunga. Yuyun terus menangis dan dipapah oleh dua orang Kowad.
Usai Kapten Nurhafiz selesai dimakamkan, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Tandyo Budi Revita menyerahkan bendera merah putih kepada Yuyun. Yuyun lalu kembali mendekat ke makam suaminya sambil dipapah dan terus memeluk bendera itu.
Sementara itu momen kemesraan Yuyun dengan suaminya juga diabadikan dalam unggahan akun Instagram pribadi Kapten Nurhafiz. Yuyun terlihat selalu hadir dalam momen-momen penting suaminya, seperti saat makan siang Prasetya Perwira hingga wisuda S-2 di Universitas Semarang.
Kapten Nurhafiz juga kerap membagikan momen mereka saat berlibur bersama. Selain itu, mendiang juga kerap mengungkapkan kerinduan kepada sang istri dalam unggahan Instagram Story.
Ayah Kapten Nurhafiz, Muharto (63) mengatakan mendiang meninggalkan seorang istri dan seorang anak. Yuyun juga merupakan prajurit TNI atau Kowad berpangkat Sersan Kepala (Serka).
"(Kapten Nurhafiz meninggalkan) istri dan satu anak. Kebetulan anggota pangkatnya serka, istrinya," kata Muharto di TMP Giri Tunggal Semarang, Kamis (5/11/2026).
Muharto menuturkan, sang istri juga sama-sama berdinas di Penerbad. Selama ini mereka tinggal bersama putrinya di Asrama Penerbad Semarang.
"(Istrinya) Dinasnya di Ahmad Yani, Puspenerbad juga. Tinggal beliaunya ada di Komplek Puspenerbad itu yang di Krapyak," tutur Muharto.
KSAD Jenderal Tandyo juga secara khusus memberi pesan kepada Yuyun. Ia berharap sang istri dapat mengikhlaskan kepergian suaminya dan membesarkan putrinya untuk menggapai masa depan.
"Saya berpesan kepada Nyonya Nurhafidz tugas ke depan masih berat. Ikhlaskan kepergian suami dengan lapang dada untuk bisa membesarkan putri almarhum untuk menghadapi masa depan yang bagus," kata Tandyo dalam amanatnya.

































































