Sebanyak 60 penjor alias hiasan dari daun kelapa muda (janur) disiapkan untuk mempercantik area pintu masuk Pura Mangkunegaran menjelang royal wedding atau Dhaup Ageng. Sebanyak 10 orang perangkai penjor asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dikerahkan untuk membuatnya.
"Totalnya 60 penjor. Di area pintu masuk dari barat, terus pintu masuk dari timur, dan pintu masuk taman, dengan melibatkan 10 orang," kata Pemilik Alvin Senio Wedding Decor, Narwanto (41), ditemui di Pura Mangkunegaran, Kamis (5/11/2026).
Narwanto mengatakan pengerjaan penjor dimulai sejak Senin (2/11). Timnya ditargetkan menyelesaikan seluruh dekorasi pada Kamis (5/11) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Total ada 60 penjor dan 10 pacakan. Itu untuk resepsi besok. Pengerjaan sejak hari Senin, sampai nanti malam, besok mungkin sudah dipasang," ungkapnya.
Narwanto menjelaskan, pembuatan puluhan penjor tersebut membutuhkan sekitar 200 pelepah janur. Selain itu, pihaknya menyiapkan sekitar 36 batang bambu dan 40 debog atau batang pohon pisang.
Penjor tersebut nantinya dipasang di sejumlah titik pintu masuk, mulai dari pintu masuk sisi barat, timur, hingga area taman.
"Totalnya 60 penjor. Di area pintu masuk dari barat, terus pintu masuk dari timur, dan pintu masuk taman," terangnya.
Situasi pengerjaan penjor untuk Dhaup Ageng Pura Mangkunegaran, Kamis (5/11/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
Narwanto menyebut, pihaknya bekerja secara maraton siang dan malam untuk mengejar target penyelesaian dekorasi. Menurutnya, sebagian bahan sudah dipersiapkan dari rumah sebelum tim berangkat ke Solo.
"Hari pertama kami datang, santai dulu. Pengerjaan dimulai setelah zuhur. Sebagian bahan memang sudah dibuat dari rumah. Setelah itu kami bekerja siang dan malam secara maraton karena dikejar waktu," terangnya.
"Kami bekerja siang dan malam karena dikejar waktu. Istirahat paling hanya untuk makan, salat bagi yang menjalankan, dan mandi," imbuhnya.
Dia menyebut bagian ornamen merak-merakan dan kipas menjadi salah satu bagian yang membutuhkan waktu lebih lama. Khusus pembuatan kipas, dibutuhkan banyak jarum untuk membentuk ornamen tersebut.
"Yang agak lama itu bagian merak-merakan dan kipas. Kipas juga membutuhkan banyak jarum. Nanti bentuk akhirnya seperti ini," ucapnya.
Narwanto mengaku sudah berkecimpung di bidang dekorasi sejak 2004. Awalnya dia mengikuti usaha milik pamannya sebelum akhirnya membuka usaha sendiri sekitar 2010.
Dia juga pernah terlibat dalam pengerjaan dekorasi pernikahan Kaesang Pangarep di Pura Mangkunegaran. Selain itu, dia pernah ikut mengerjakan dekorasi di lingkungan Pakualaman, Yogyakarta.
"Saat pernikahan Mas Kaesang di sini juga, saya ikut mengerjakan bagian penjor. Selain itu, pernah ikut mengerjakan di Joglo Ageng, tempatnya Pakualaman. Waktu itu saya hanya menjadi bagian dari tim vendor," terangnya.
Untuk pengerjaan Dhaup Ageng kali ini, Narwanto mengaku mendapat pesanan melalui rekanan vendor dari Malang. Dia bersama tim kemudian datang dari Bantul untuk mengerjakan dekorasi di Solo.
Selama proses pengerjaan, Narwanto bahkan membawa istri dan anaknya ke Solo. Anak pertamanya sempat pulang untuk keperluan sekolah sebelum kembali lagi.
"Ini anak dan istri saya bawa ke sini. Kebetulan yang membantu juga keponakan-keponakan semua, jadi saya memaksimalkan keluarga," pungkasnya.






































































