Seorang wanita berusia 22 tahun yang dikenal memiliki kondisi tubuh bugar dan sehat mendadak tidak bisa berjalan setelah terbangun dengan kondisi separuh wajahnya mengalami kelumpuhan.
Dikutip dari laman NYPost, wanita asal Inggris bernama Lillie Thorne ini tidur seperti biasa pada 1 Oktober lalu setelah seharian membersihkan rumah. Namun, ketika bangun keesokan harinya, ia merasa sisi kiri wajahnya terkulai dan tidak bisa digerakkan.
Ia kemudian mengunjungi UGD di Furness Hospital dan didiagnosis mengalami Bell's palsy atau kelemahan sementara yang memengaruhi satu sisi wajah. Ia diberi resep steroid dan diberi tahu bahwa mungkin dibutuhkan waktu enam bulan untuk kembali normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keesokan harinya, cara bicaranya mulai terbata-bata sehingga ia kembali ke rumah sakit. Dokter melakukan CT scan untuk memeriksa kemungkinan stroke, tetapi menurut dokter, tidak ada indikasi bahwa ia mengalami stroke.
Lillie diberi obat antivirus karena diduga mengalami penyakit Ramsay Hunt. Namun, setelah mengonsumsi obat-obatan tersebut, kondisinya terus memburuk. Ia kemudian dirawat di rumah sakit.
Pada 7 Oktober, ia kehilangan kemampuan untuk berbicara dan berjalan. Kemudian, menurut keluarga, ia juga mulai mengalami hingga 30 kali kejang dalam sehari dan beberapa di antaranya membuatnya tidak sadarkan diri.
Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, dokter mendiagnosisnya mengalami Functional Neurological Disorder (FND). Dikutip dari laman Stanford Medicine, FND merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan gxejala gangguan saraf yang tidak sesuai dengan pola penyakit medis yang telah diketahui. Seiring meningkatnya pemahaman mengenai kondisi ini, FND kini diketahui berkaitan dengan kombinasi faktor biologis, lingkungan, dan psikologis.
Lillie dipulangkan pada 22 Oktober, tetapi masih mengalami kejang. Ia sudah dapat berbicara, meskipun ucapannya masih tidak jelas dan terbata-bata.
Sang tante, Ashleigh Thorne, mengatakan dokter belum dapat memastikan penyebab Bell's palsy yang dialami keponakannya. Namun, mereka menduga gangguan neurologis fungsional (FND) yang dialaminya mungkin dipicu oleh stres.
====BREAK=====
Hingga kini, Lillie masih belum bisa berjalan. Ia telah dirujuk untuk menjalani fisioterapi guna membantu memulihkan kemampuan bergerak dan kemandiriannya. Meski demikian, belum diketahui seberapa efektif terapi tersebut dalam membantu pemulihannya.
"Saya rasa saya mewakili seluruh keluarga dan teman-teman dekat Lillie ketika kami mengatakan bahwa sangat sulit melihat Lillie berubah dari seorang gadis normal berusia 22 tahun menjadi tidak bisa berjalan dan menderita kejang berulang setiap hari," kata Ashleigh.
"Saya rasa tidak banyak orang yang tahu apa sebenarnya FND itu, dan dibutuhkan lebih banyak kesadaran tentang gangguan mengerikan ini," tambahnya.

























































