Obesitas kerap kali dipandang sebelah mata sebagai akibat dari kurangnya disiplin diri atau sekadar masalah penampilan fisik semata. Di balik angka timbangan yang terus merangkak naik, para penyintas obesitas sering kali harus menghadapi beban ganda berupa perundungan fisik atau body shaming serta stigma sosial yang melekat di ruang publik.
Tekanan sosial dan komentar negatif yang diterima sehari-hari tidak hanya berdampak pada rasa percaya diri, tetapi juga memicu luka psikologis mendalam.
Dalam pandangan medis modern, penanganan obesitas tidak bisa hanya berfokus pada pengaturan pola makan fisik semata, melainkan harus melibatkan pemahaman yang komprehensif terhadap kondisi kesehatan mental pasien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Batasan Diri dan Dampak Komentar Fisik
Setiap manusia memiliki batasan diri (boundaries) yang berfungsi sebagai pelindung mental dari serangan atau intervensi luar. Karenanya, bagi individu dengan berat badan berlebih, komentar mengenai bentuk tubuh yang sering kali dilontarkan begitu saja dapat berdampak pada kondisi psikologis.
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, dr Putri Nugraheni, SpKJ, menjelaskan, ketahanan mental setiap orang dalam menerima komentar negatif tentu berbeda-beda.
Pada kelompok usia muda atau individu dengan batasan diri yang masih rentan, perundungan fisik dapat berdampak sangat buruk terhadap citra diri mereka.
"Setiap orang, semua manusia itu punya yang namanya boundaries atau batasan. Boundaries ini menjaga diri kita dari serangan luar, ibaratnya gitu ya tapi juga membuat kita dan juga membuat kita lebih safe, lebih strong gitu ya, boundaries ini," jelas dr Putri saat ditemui detikcom di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Ia mengatakan, bagi orang-orang yang memiliki boundaries yang tipis, sehingga belum membangun batasan yang sehat, dapat memiliki efek terhadap citra diri.
"Nantinya bisa berefek kepada citra diri terutama pada yang belum dewasa di bawah 18 tahun," katanya.
Masalah Mental Menghambat Pemulihan Fisik
Sering kali, proses penurunan berat badan di klinik gizi mengalami hambatan karena pasien menyimpan beban psikologis yang belum terselesaikan. Stres kronis, kecemasan, hingga trauma akibat stigma sosial dapat menjadi penghalang utama yang membuat program diet gagal berulang kali.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin antara dokter gizi dan psikiater. Banyak pasien yang datang dengan keluhan fisik ternyata menyimpan underlying issue atau masalah kesehatan mental tersembunyi yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
"Sebab saat ini saya tidak tahu kalau orang obesitas kan biasanya datangnya ke SpGK, ke Gizi Klinik tapi saya sudah mulai dapat lumayan banyak rujukan dari dokter Gizi Klinik ke psikiater untuk membantu proses dari obesitas menjadi sehat kembali," ungkapnya.
Mengakhiri Stigma Menuju Pemulihan Holistik
Memahami kompleksitas obesitas menuntut masyarakat untuk keluar dari belenggu stigma dan asumsi keliru.
Mengomentari bentuk tubuh atau memberikan label negatif kepada seseorang tidak akan membantu proses penyembuhan, melainkan justru memperparah kondisi psikologis yang berujung pada pelarian emosional terhadap makanan (stress eating).
Dengan membangun lingkungan sosial yang suportif, menghilangkan stigma, serta membuka diri terhadap bantuan profesional baik dari sisi gizi maupun kejiwaan, penyintas obesitas dapat kembali merajut kesehatan fisik dan mental secara berdampingan.
Simak Video "Health Corner: Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Abal-Abal"
Free Credit Link Menjawab Web Bagi Pemula Yang Dibaca Berkongsi Akan(aur/up)

























































