Suasana duka menyelimuti keluarga Gopar (46) seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cibolang, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang berpulang usai berjuang melawan sakit di Arab Saudi. Tragisnya, almarhum sempat terbaring tak berdaya selama satu tahun di negeri orang sebelum akhirnya menutup usia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kepulangan jenazah ini melibatkan koordinasi panjang antara pihak keluarga, Kementerian Luar Negeri, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), serta relawan di Arab Saudi. Almarhum berangkat bersama istrinya untuk mengadu nasib demi memperbaiki ekonomi keluarga di kampung halaman.
Namun, takdir berkata lain. Di tengah masa kerjanya, ia mendadak jatuh sakit dan kondisi kesehatannya terus memburuk hingga membuatnya terbaring lemah selama kurang lebih 12 bulan tanpa bisa bekerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar mengenai meninggalnya Gopar dikonfirmasi oleh Yusup Saepulloh, seorang pekerja di perusahaan Saptco Bus di Kota Taif yang secara mandiri menjadi relawan kemanusiaan. Dia mengatakan, Gopar tutup usia pada 28 Oktober 2026 lalu.
"Kebetulan kami lagi ada di Makkah, saat itu ada telepon masuk dari Bu Reni yang mengurus kepulangan melalui Kemenlu. Beliau memberi informasi bahwa Pak Gopar meninggal. Itu 28 Oktober pukul 16.00 KSA (waktu Arab Saudi)," kata Yusup kepada detikJabar, Rabu (4/11/2026).
Kabar duka itu pun disampaikan kepada istrinya, Isoh yang juga bekerja di Arab Saudi. Yosep mengatakan, Isoh sempat tak sadarkan diri setelah mendengar bahwa suaminya meninggal dunia.
"Saat dapat kabar, istrinya langsung pingsan. Mungkin informasi dari rumah sakit sama majikan sudah ada cuma belum di sampaikan ke istrinya," ujarnya.
Perjuangan Panjang Kepulangan Jenazah
Selama masa-masa kritis tersebut, pihak keluarga dan sesama pekerja migran asal Sukabumi di Arab dilanda kecemasan luar biasa akibat keterbatasan informasi dan biaya. Melalui pendampingan aktif, kabar kondisi almarhum akhirnya sampai ke tangan pihak berwenang.
"Selama perjalanan sampai 1 tahun, saya dapat informasi dari istrinya langsung, tidak ada pemulihan, tidak ada sifat perubahan dalam kesehatan. Dan kami di sini berupaya negosiasi meminta pendampingan dari pihak KBRI," katanya.
Upaya mediasi telah berulang kali buntu. Pihak KBRI Riyadh sempat menawarkan jalan tengah berupa pembagian beban biaya (sharing) sebesar 50 persen antara majikan dan pihak pekerja. Namun, majikan Gopar tetap bergeming dan menolak mengeluarkan uang sepeser pun.
"Dari majikan tidak mampu untuk mengeluarkan biaya dengan jumlah 27.000 Riyal dengan alasan tidak sanggup. Walaupun pernah dinegosiasi sama pihak KBRI, waktu itu ada istilah negosiasi 50%-50%, tapi dari pihak majikan sendiri tidak sanggup mengeluarkannya sama sekali," tutur Yusup.
Di balik peliknya nasib Gopar, terkuak pula bayang-bayang keterlibatan sponsor berinisial H di kampung halamannya, yang memberangkatkan Gopar enam tahun lalu melalui skema calling visa. Kini, sponsor tersebut diduga lepas tangan dari derita yang menimpa pekerja yang diberangkatkannya tersebut.
Setelah sekian lama menanti kepulangan saat Gopar dirawat, ia baru bisa dipulangkan namun dalam kondisi tak bernyata. Pengurusan dokumen kepulangan (kekonsuleran) hingga pemulangan jenazah melalui jalur udara akhirnya berhasil diselesaikan. Yusup mengatakan, jenazah Gopar direncanakan tiba pada pagi ini, sedangkan istrinya baru akan pulang ke tanah air pada Kamis (4/11).
"Hari ini untuk kepulangan Bapak Gopar, pagi sampai di bandara. Bu Isohnya hari Kamis, jadi kemarin ada kendala pengisian data. Dari tim TPPO RI sudah datang ke keluarganya, langsung jam 03.00 ke Bandara Soekarno Hatta," pungkasnya.
Simak Video "Video: Ronaldo Cetak Hattrick, Impian 1.000 Gol dalam Karir Makin Dekat"
Beristri Bebas Berapapun Sastra Nuh Salah Satu Pertanyaan Republik Paling(mso/mso)























































