Detikers, siapa yang tidak terpikat oleh hamparan hijau kebun teh Pangalengan? Di ketinggian pegunungan Bandung Selatan, barisan tanaman teh tersusun rapi mengikuti kontur tanah, menciptakan pemandangan yang menenangkan sekaligus menyimpan kisah panjang.
Di balik keindahan itu, terdapat sejarah perkebunan yang bermula pada akhir abad ke-19. Kawasan teh Pangalengan mulai dikembangkan oleh Karel Albert Rudolf Bosscha menjadi Perkebunan Teh Malabar pada 1896, atas dukungan finansial dan bimbingan dari pamannya, Rudolf Edward Kerkhoven, yang sebelumnya sukses merintis Perkebunan Gambung.
Kini, kawasan tersebut bukan hanya lahan produksi, melainkan destinasi wisata yang memadukan alam, sejarah, dan budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akar Teh di Dataran Tinggi Pangalengan
Pangalengan memiliki kondisi alam yang sangat mendukung budidaya teh. Dataran tinggi dengan udara sejuk, curah hujan cukup, serta tanah vulkanik yang subur menjadikan kawasan ini cocok untuk tanaman teh.
Mengutip dari artikel detikJabar berjudul "Jejak dan Peninggalan Bosscha di Perkebunan Teh Malabar", Bosscha mulai menapaki tanah Pangalengan pada tahun 1896 untuk membangun perkebunan teh.
Sebelum menjadi pusat perkebunan, wilayah Pangalengan masih didominasi hutan dan lahan pegunungan. Perkembangan industri teh di Priangan kemudian berkembang pesat pada abad ke-19, seiring masuknya para pengusaha perkebunan Belanda yang dikenal sebagai Preanger Planters.
Mereka membuka lahan, membangun pabrik, serta menciptakan sistem kerja perkebunan yang membentuk lanskap sosial dan ekonomi Pangalengan.
Mengutip penelitian Amila Sholeha yang berjudul "Peran Karel Albert Rudolf Bosscha dalam Pengelolaan Perkebunan Teh Malabar Pangalengan Tahun 1896-1928" (2024), perkebunan teh di Priangan mulai menjamur dalam waktu singkat dan melahirkan kelompok pengusaha perkebunan bernama Preanger Planters. Perkebunan Malabar kemudian menjadi salah satu yang paling menonjol di kawasan tersebut.
Selaras dengan itu, pada jurnal karya Farah Larasati, Ernah, Nur Syamsiyah, dan Eka Purna Yudha yang berjudul "Analisis Keberlanjutan Perkebunan Teh Unit Malabar di PTPN VIII Pangalengan Jawa Barat" (2024), disebutkan bahwa Malabar didirikan pada 1896 dan kini menjadi salah satu unit kebun di kawasan Pangalengan.
Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa perkebunan ini telah melewati beberapa fase pengelolaan, mulai dari masa kolonial hingga masa pengelolaan nasional.
Kedatangan Karel Albert Rudolf Bosscha
Mengutip beberapa sumber, Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag, Belanda, pada 15 Mei 1865. Ia tiba di Hindia Belanda pada tahun 1887 pada usia 22 tahun. Mulanya, Bosscha bekerja bersama pamannya, Edward Julius Kerkhoven, yang memiliki perkebunan teh Sinagar di Sukabumi.
Pengalaman itulah yang kemudian membentuk keahliannya dalam mengelola perkebunan teh. Pada Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar di Pangalengan setelah mendapatkan konsesi lahan pegunungan dari pemerintah kolonial. Keberhasilan pembukaan lahan baru ini tidak lepas dari sokongan modal jaringan dinasti keluarga Kerkhoven.
Bosscha menjabat sebagai administrator selama 32 tahun dan mengembangkan kawasan tersebut menjadi salah satu perkebunan teh paling produktif di Priangan. Julukan "Raja Teh Priangan" melekat padanya karena perannya yang besar dalam memajukan industri teh di wilayah Bandung Selatan
Mengutip dari artikel detikJabar, kedatangan Bosscha ke Pangalengan bertujuan untuk membuat perkebunan teh. Kemudian ia meminta restu kepada pemerintah setempat pada masa itu sebelum mulai menggarap lahan perkebunan.
Membangun Malabar Menjadi Pusat Teh
Di bawah kepemimpinan Bosscha, Malabar berkembang menjadi perkebunan teh modern. Ia membangun dua pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar dan Pabrik Teh Tanara. Pabrik pertama kemudian dikenal sebagai Gedung Olahraga Gelora Dinamika, sedangkan Pabrik Teh Tanara kini dikenal sebagai Pabrik Teh Malabar.
Mengutip beberapa sumber, perkebunan Teh Malabar seluas 2.022 hektare mampu mengolah 60.000 kilogram pucuk teh setiap hari, dengan sekitar 90 persen produk dipasarkan ke luar negeri.
Angka tersebut menunjukkan betapa besar peran kawasan ini dalam industri teh nasional hingga kini. Bosscha juga tidak hanya mengandalkan luas lahan. Mengutip penelitian Amila Sholeha (2024), ia menjadikan Malabar anggota Stasiun Pengujian Teh (Theeproefstation) dan Biro Ahli Teh agar dapat melakukan riset untuk meningkatkan kuantitas serta kualitas produksi.
Malabar bahkan menjadi penyumbang iuran terbesar untuk mendukung penelitian teh pada masa itu. Mengutip karya ilmiah Syarah Nurul Fazri dan Wawan Darmawan yang berjudul "Preanger Planters: Kiprah Raja Teh Priangan 1862-1942" (2025), pengusaha perkebunan seperti keluarga Holle, Kerkhoven, dan Bosscha membangun jaringan usaha, memperluas lahan, serta mengembangkan inovasi sosial-ekonomi di Priangan.
Warisan Sosial di Tengah Kebun Teh
Kehadiran Bosscha di Pangalengan meninggalkan jejak yang lebih luas daripada sekadar bisnis teh. Ia membangun berbagai fasilitas bagi pekerja perkebunan, termasuk sekolah dasar gratis bernama Vervoloog Malabar pada tahun 1901. Sekolah tersebut kini dikenal sebagai SDN Malabar 04 dan menjadi bukti perhatiannya terhadap pendidikan anak-anak pekerja kebun.
Mengutip dari artikel detikJabar berjudul "Jejak dan Peninggalan Bosscha di Perkebunan Teh Malabar", warga Pangalengan menyimpan kenangan tersendiri terhadap sosok Bosscha. Ia dikenal sebagai tokoh yang mengelola perkebunan teh sekaligus meninggalkan jejak sosial bagi masyarakat sekitar.
Selain pendidikan, Bosscha juga berkontribusi pada dunia sains dan pembangunan Kota Bandung. Ia terlibat dalam pendirian Observatorium Bosscha di Lembang, Gedung Societeit Concordia yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka, serta Technische Hoogeschool yang menjadi cikal bakal Institut Teknologi Bandung.
Dari Perkebunan Kolonial ke Pengelolaan Nasional
Setelah Bosscha wafat pada 26 November 1928, pengelolaan Perkebunan Teh Malabar mengalami perubahan kepemimpinan. Memasuki dekade 1930-an, industri perkebunan terpukul hebat oleh krisis Malaise global yang memaksa dilakukannya pembatasan produksi teh.
Kondisi ini semakin memburuk hingga puncaknya pada masa Perang Dunia II, ketika pihak militer Jepang menduduki Indonesia dan secara resmi mengambil alih seluruh aset perkebunan tersebut.
Perjalanan Malabar kemudian berlanjut hingga masa kemerdekaan Indonesia. Kawasan ini kini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII). Mengutip beberapa sumber, Rumah Bosscha menjadi bagian dari agrowisata di Pangalengan dan kini berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah serta edukasi.
Menjadi Destinasi Wisata Populer
Kini, Kebun Teh Malabar menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Pangalengan. Pengunjung dapat menikmati udara sejuk, panorama hijau, serta beberapa destinasi populer lainnya sebagaimana berikut.
1. Nimo Highland
Nimo Highland menawarkan suasana wisata ala Eropa dengan rumah bergaya Santorini, jembatan kaca sepanjang 150 meter, serta panorama kebun teh Malabar dan Situ Cileunca. Lokasinya berada di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Berdasarkan media sosialnya, @nimohighland, tiket masuknya berada di rentang Rp 55.000 per orang hingga Rp 325.000 per orang. Untuk hari kerja Nimo Highland buka pukul 09.00-17.00 WIB, sedangkan saat hari libur buka pukul 05.00-18.00 WIB.
2. Situ Cileunca
Berdasarkan media sosialnya, @situcileuncaofficial, Situ Cileunca Pangalengan menyajikan kawasan danau yang dikelilingi perbukitan dan perkebunan teh. Pengunjung dapat menikmati berbagai pilihan aktivitas outbound seperti arung jeram (rafting), perahu danau, flying fox, paintball, offroad (ATV maupun Landy), fun games, hingga menginap (camping dan villa).
Lokasinya berada di Jl. Situ Cileunca No. KM. 04, RT.04/RW.09, Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tarip paket aktivitas outbound ditawarkan mulai dari Rp 45.000 per orang, seperti perahu danau dan flying fox, hingga paket menginap mulai Rp 250.000 per orang.
3. Wayang Windu Panenjoan
Berada di ketinggian 1.800 mdpl, Wayang Windu Panenjoan menawarkan panorama hamparan kebun teh, perbukitan, hingga spot ideal untuk menikmati sunrise maupun sunset. Di kawasan ini, pengunjung dapat menikmati ikon Skywalk View (jembatan kayu), mencoba wahana Adventure ATV, hingga berkemah di area Camping Ground.
Melansir dari laman resmi Wayang Windu Panenjoan, lokasinya berada di Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Tiket masuk utama dikenakan tarif sebesar Rp 15.000 per orang, dengan jam operasional berkisar pukul 05.30-18.30 WIB. Kawasan ini juga menyediakan sewa wahana tambahan seperti ATV, gazebo, dan tempat camping dengan tarif terpisah.
(yum/yum)






















































