Film horor menjadi salah satu genre hiburan yang memiliki banyak penggemar di Indonesia. Cerita tentang hantu, makhluk gaib, hingga tempat-tempat angker seolah tidak pernah kehilangan daya tarik.
Ternyata, kegemaran masyarakat terhadap cerita mistis memiliki kaitan erat dengan sejarah sosial dan budaya Indonesia. Hal itu ditutukan oleh Guru Besar sekaligus Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Agus Suwignyo.
Ia menjelaskan ketertarikan masyarakat terhadap cerita mistis tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial yang berkembang sejak lama. Cerita tentang makhluk halus bukan sekadar kepercayaan terhadap hal gaib, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan dan kebudayaan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, dalam kehidupan masyarakat tradisional, cerita mistis bahkan memiliki fungsi sosial. Kisah tentang makhluk gaib yang menghuni tempat tertentu dapat membentuk perilaku masyarakat, termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Misalnya, mata air tertentu dikatakan dihuni oleh bulus putih (penjaga gaib). Siapa pun yang mencoba merusak mata air itu dipercaya akan mendapatkan akibat tertentu. Orang tetap memanfaatkan airnya, tetapi tidak berani merusak lingkungan di sekitarnya," jelasnya dikutip dari laman UGM, Jumat (6/11/2026).
Cerita Mistis Melekat dalam Budaya Masyarakat
Agus mengatakan kepercayaan terhadap makhluk gaib di tempat tertentu merupakan bagian dari mekanisme produksi pengetahuan masyarakat. Cerita tersebut membentuk batasan perilaku sehingga masyarakat lebih berhati-hati dalam memperlakukan lingkungan.
Contohnya, pohon-pohon tertentu dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk halus. Akibatnya, masyarakat tidak berani menebang pohon tersebut sembarangan.
Bahkan sistem tersebut juga sudah diterapkan pada masa kolonial. Pemerintah kolonial memanfaatkannya untuk mengendalikan perilaku masyarakat dalam pembukaan lahan.
"Pemerintah kolonial memanfaatkan model seperti ini untuk menjaga perambahan hutan secara tidak teratur oleh masyarakat setempat. Ada cerita-cerita hantu di masa kolonial yang memang diproduksi untuk mengendalikan perilaku ekspansif, misalnya pembukaan lahan secara tidak terukur," ungkapnya.
Menurut Agus, hal tersebut memperlihatkan cerita mistis telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama. Kisah-kisah tersebut tidak hanya berkaitan dengan dimensi spiritual, tetapi juga fungsi sosial dan budaya.
Mengapa Film Horor Disukai Masyarakat Indonesia?
Seiring perkembangan zaman, cerita mistis mengalami perubahan bentuk dan pemanfaatan. Jika dahulu kisah-kisah tersebut berkaitan erat dengan praktik kebudayaan masyarakat, kini cerita mistis berkembang jadi bagian dari industri hiburan, khususnya perfilman.
Agus melihat popularitas film horor berkaitan dengan aspek psikologis manusia yang menikmati ketegangan. Meskipun menghadirkan rasa takut, pengalaman tersebut justru dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Di sisi lain, industri perfilman menangkap kedekatan masyarakat Indonesia dengan cerita mistis sebagai potensi pasar. Kisah-kisah yang sudah akrab dalam kehidupan sosial kemudian diolah menjadi produk hiburan.
"Industri itu memotret potensi pasar. Artinya, ada realitas sosial. Masyarakat memang menyukai adanya ketegangan dalam suatu hiburan dan mereka lekat dengan cerita-cerita tersebut," paparnya.
Agus juga menjelaskan karakter film horor Indonesia terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman dan selera pasar.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, film horor Indonesia banyak menampilkan unsur sensualitas melalui penggambaran sosok hantu perempuan. Memasuki era 1990-an, cerita horor mulai bergeser dengan menghadirkan latar kehidupan perkotaan dan lingkungan modern.
Dalam perkembangannya, unsur religius juga mulai muncul dalam film horor. Salah satunya melalui kehadiran tokoh-tokoh agamawan dalam cerita.
Perubahan tersebut menunjukkan industri perfilman terus menyesuaikan karakter cerita dengan kondisi sosial dan potensi ekonomi masyarakat.
Film Horor Masa Kini Vs Zaman Dulu
Meski sama-sama mengangkat cerita mistis, Agus menilai film horor masa kini tidak selalu memiliki fungsi edukatif seperti cerita-cerita yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat terdahulu.
Dahulu, cerita mistis dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai dan mengatur perilaku masyarakat. Misalnya, kepercayaan terhadap pohon yang dihuni makhluk gaib membuat masyarakat tidak sembarangan menebangnya.
Namun, saat ini film horor lebih banyak berorientasi pada hiburan dan komodifikasi ekonomi. Pesan moral yang disampaikan melalui cerita juga berpotensi tidak memberikan dampak mendalam terhadap perilaku penonton.
"Saya meragukan film horor masa kini memiliki dampak edukatif yang mendalam terhadap perilaku masyarakat, misalnya dalam hal menjaga lingkungan karena pesan moral dalam cerita dapat mengalami pendangkalan ketika berhadapan dengan pola konsumsi informasi yang semakin cepat dan pragmatis," tuturnya.






























































