Di tengah rutinitas harian yang padat dan penuh tekanan, sebagian besar orang kerap mendapati diri mereka tiba-tiba menginginkan comfort food. Makanan pedas atau tinggi kalori seperti seblak, martabak, junk food, hingga aneka minuman manis kerap jadi pilihan.
Fenomena melampiaskan emosi melalui makanan atau yang dikenal sebagai stress eating ini seolah menjadi pelarian instan untuk meredakan kejenuhan.
Namun, di balik kebiasaan menjadikan makanan-makanan tersebut sebagai penyelamat suasana hati, terdapat penjelasan medis yang mendalam mengapa tubuh kita secara otomatis menginginkan makanan tidak sehat saat dilanda stres.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan Dopamin dan Perangkap Rasa Nyaman Seketika
Ketika seseorang berada dalam kondisi tertekan atau stres, otak secara naluriah mencari cara cepat untuk mendongkrak suasana hati agar kembali merasa tenang.
Pilihan makanan yang tinggi kandungan gula, garam, dan lemak jahat terbukti menjadi pemicu paling efektif dalam menaikkan kadar hormon kebahagiaan di dalam tubuh.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK, menjelaskan, lonjakan gula darah yang terjadi secara mendadak memberikan efek menenangkan semu yang membuat seseorang langsung merasa lebih baik setelah mengonsumsinya.
"Karena mayoritas itu banyakan makanannya kalo nggak tinggi gula, tinggi garam. Makanya dia sugar craving kalo nggak salt craving. Makanan-makanan itulah yang membuat comfort food atau kadar dopamin kita tuh jadinya bisa lebih naik," jelas dr Christopher saat ditemui detikcom di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Makanan Sehat Jarang Jadi Comfort Food
Banyak orang kerap bertanya-tanya, mengapa dorongan atau craving saat stres hampir tidak pernah mengarah pada makanan bergizi seimbang seperti sepiring salad sayur, buah-buahan segar, atau menu rebusan?
Jawabannya terletak pada mekanisme kerja sistem imbalan di dalam otak manusia yang mendambakan kepuasan instan.
Ia menegaskan, sangat jarang ditemukan individu yang secara naluriah mencari makanan sehat ketika mereka sedang menghadapi tekanan mental yang berat.
"Dan ya, karena kadar gula yang mendadak naik dalam badan kita, itu secara nggak langsung membuat comfort. Makanya cenderungan makanan-makanan yang nggak sehat, minuman manis, biskuit, pastry, cake," katanya.
"Itu yang makanya kalorinya besar, jadinya berat badannya naik terus. Kalo dia karena stres comfort food-nya jadi ke makanan sehat, itu jarang saya temukan," lanjutnya.
Simak Video "Video: Seblak Disebut Jadi Penyebab Anemia di Karawang, Benarkah?"
[Gambas:Video 20detik](aur/up)


























































