Gerakan body positivity yang masif disuarakan di berbagai platform media sosial kini sering kali mengalami pergeseran makna. Awalnya bertujuan untuk melawan standar kecantikan yang tidak realistis dan membangun rasa percaya diri, kini kerap disalahartikan sebagai pembenaran atas kondisi obesitas, dengan dalih bahwa kebahagiaan jauh lebih penting daripada kesehatan fisik.
Padahal, membiarkan tubuh berada dalam kondisi yang tidak sehat bukanlah cerminan dari kecintaan terhadap diri sendiri.
Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Putri Nugraheni, SpKJ, menegaskan, kesehatan fisik, kebahagiaan mental, dan rasa percaya diri harus berjalan secara seimbang tanpa saling mengorbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keseimbangan Antara Kebahagiaan dan Kesehatan Fisik
Sebagian orang kerap terjebak pada anggapan bahwa merasa bahagia dengan bentuk tubuh apa adanya sudah lebih dari cukup, meski berat badan telah melewati batas normal.
Padahal, mengabaikan risiko medis di balik penambahan berat badan drastis demi alasan kebahagiaan semata merupakan sebuah kekeliruan besar dalam memahami konsep penerimaan diri.
Menurut dr Putri, kebahagiaan dan kondisi fisik yang prima memiliki tingkat kepentingan yang sama ratanya bagi kelangsungan hidup seseorang.
"'Nggak apalah obesitas yang penting aku happy, nggak apalah obesitas yang penting aku percaya diri'. Seolah ada level di mana percaya diri dan happy itu lebih penting daripada kesehatan fisik," tuturnya saat ditemui detikcom di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
"Padahal pada kenyataannya semuanya penting, sama pentingnya kesehatan fisik kita sama pentingnya dengan happiness sama pentingnya dengan kepercayaan diri, harusnya semua setara," lanjutnya.
Tiga Pilar Utama Body Positivity yang Utuh
Lebih lanjut, seseorang yang benar-benar menerapkan body positivity secara positif tidak akan berhenti pada tahap mencintai diri sendiri saja.
Sikap tersebut harus dibarengi dengan kesadaran aktif untuk memperbaiki aspek-aspek tubuh yang belum sehat agar kualitas hidup menjadi jauh lebih baik.
dr Putri menegaskan, ketiga unsur utama, yakni penerimaan diri, mencintai tubuh, dan ikhtiar mengubah diri ke arah yang lebih sehat, harus selalu berjalan berdampingan.
"Body positivity adalah gabungan yang tepat yang pas antara penerimaan diri, mencintai diri, dan mencari perubahannya yang lebih baik. Tiga-tiganya harus ada, kalau hanya mencintai diri saja tanpa menerima tanpa mengubah sesuatu hal yang belum sehat, itu bukan body positivity," tegasnya.
Simak Video "Health Corner: Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Abal-Abal"
Free Credit Link Menjawab Web Bagi Pemula Yang Dibaca Berkongsi Akan(aur/up)



























































